category » Hobi
Workshop Wayang Suket: Mengenal Mainan Tradisi Melalui Pendidikan
Kontributor: Meita
Jogjanews.com - Gelak tawa anak-anak memenuhi ruang rumah Ketjilbergerak yang berada di Bugisan selatan. Anak-anak yang rata-rata masih duduk di sekolah dasar tersebut sedang asyik bercanda sambil sibuk memegangi mendong atau rumput jerami kering.
Pada Jumat sore (18/4), Ketjilbergerak yang merupakan komunitas seni dan pendidikan mengadakan program workshop wayang suket. Workshop ini adalah bagian dari program pendidikan ketjilbergerak sebagai side event program belajar yang rutin untuk anak-anak.
Bentuk kegiatan seperti ini memberikan ruang alternatif bagi anak-anak untuk menimba ilmu pengetahuan selain yang mereka dapat di sekolah-sekolah ataupun tempt-tempat kursus.
Dengan konsep memberikan pendidikan alternatif yang merakyat, Ketjilbergerak mempunyai konsep melestarikan tradisi budaya melalui kesenian yang salah satunya melalui program pendidikan ini. Pendidikan merupakan salah satu program dari divisi pendidikan ketjilbergerak untuk anak-anak.
Rutinitas program pendidikan ini adalah kegiatan belajar mengajar yang diadakan dua hari dalam seminggu, yaitu setiap hari selasa dan kamis. Pelajaran yang diajarkan pun tidak hanya terbatas pada pelajaran yang diajarkan di sekolah, tetapi juga soal pengenalan budaya tradisi melalui permainan. Dan kali ini, ketjilbergerak untuk pertama kalinya mengadakan workshop wayang suket untuk anak-anak tersebut
Wayang suket yaitu bentuk tiruan wayang yang terbuat dari rumput mendong atau jerami yang sering dijumpai di pinggir-pinggir sawah. Ketjilbergerak mengundang narasumber untuk workshop ini, yaitu komunitas Belok Kiri, komunitas yang begerak di bidang mainan tradisional.
Belok Kiri mempunyai misi untuk melestarikan permainan tradisional yang kini mulai dilupakan anak-anak generasi sekarang. Mereka mecoba untuk mempopulerkan kembali mainan-mainan tradisi di kampung yang biasanya dimainkan oleh anak-anak kampung, salah satunya wayang suket.
Terbentuk dari November 2011, komunitas Belok Kiri beranggotakan tujuh orang, dari latar belakang pendidikan dan sosial yang berbeda-beda. Sebelum terbentuk, komunitas Belok Kiri sudah mulai beraktivitas mengadakan workshop-workshop seperti ini untuk memperkenalkan permainan tradisional, khususnya dari Jawa, seperti engklek, petak umept, dingklik oglak aglik yang sudah jarang dimainkan oleh anak-anak.
Anak-anak dibagi per kelompok, untuk memudahkan para pengajar untuk mengajari teknik membuat wayang suket. Bahan dan alat untuk membuat wayang suket itu sangat sederhana, cukup dengan menyediakan gunting dan sejumput mendong yang sudah dikeringkan.
Membuatbasicwayang suket juga tidak terlalu sulit, cukup dengan menganyam mendong sedemikian rupa hingga membentuk seperti rupa wayang. Anak-anak yang sebagian besar tinggal di sekitar Bugisan Selatan, Bantul tersebut tampak mengikuti dengan seksama tahap demi tahap menganyam mendong dari para anggota Belok Kiri.
Dengan workshop ini, anak-anak diajarkan untuk mengenal dolanan tradisi mereka, dan juga kesenian tradisi Jawa, yaitu wayang. “Biar anak-anak kecil itu, juga diajarkan nilai moral dan etika, karena bisa bareng-bareng, kalau permainan modern kan bisa dimainin sendiri”, ujar Jantan Putra Bangsa, salah satu anggota komunitas Belok Kiri.









