category » Artist

Tutut Edi Purwanto,Mengekplorasi Ritual Cowong Menjadi Wayang Cumplung

di baca : 837 kali | Date 11 March
Tutut Edi Purwanto,Mengekplorasi Ritual Cowong Menjadi Wayang Cumplung
Tutut Edi Purwanto,Mengekplorasi Ritual Cowong Menjadi Wayang Cumplung
Tutut Edi Purwanto,Mengekplorasi Ritual Cowong Menjadi Wayang Cumplung
Tutut Edi Purwanto,Mengekplorasi Ritual Cowong Menjadi Wayang Cumplung

Related Post :

" Caption: Pentas wayang cumplung, bentuk wayang cumplung dan dalang wayang cumplung, Titut Edi Purwanto.
"

Penulis : Sabbatiansyah Aji

Jogjanews.com - Malam puncak hari ulang tahun ke 6 PKKH UGM pada Minggu (10/3) diisi dengan pentas wayang Cumplung Banyumas oleh dalang Tutut Edi Purwanto. Kesenian Wayang Cumplung tergolong masih baru. Wayang yang terbuat dari batang bambu sebagai badannya dan tempurung kelapa sebagai kepalanya ini, sekilas mirip Nini Thowong.

 

Pada awalnya, Wayang Cumplung merupakan ritual untuk memanggil hujan di daerah Purwokerto. Ritual memanggil hujan ini dikenal dengan ritual Cowongan. Sebagai seorang muslim yang tidak mempercayai ritual-ritual, Titut Edi Purwanto mengubahnya menjadi pertunjukan yang penuh dengan kritik terhadap negeri ini.

 

Titut, panggilan akrabnya, menjelaskan, pada tahun 2006 ritual Cowongan dilakukan. Kemudian dia mempunyai ide untuk mengubahnya dari ritual mistik menjadi sebuah kesenian khas Banyumasan dalam bentuk Wayang Cumplung.

 

Wayang Cumplung tidak hanya menggunakan boneka dalam pertunjukannya, namun, juga menghadirkan orang dalam pertunjukannya. Wayangnya tersebut hanya sebagai bentuk cumplungnya, sedangkan orang adalah bentuk luarnya.

 

Cumplung berarti kelapa kosong. Pada mulanya dia melihat jika banyak orang seperti cumplung, bentuknya seperti kelapa, tapi, dalamnya kosong karena dimakan bajing dan jatuh ke tanah. Hal tersebut digambarkannya seperti pejabat yang belum saatnya pensiun, mesti turun karena dia sudah dimasuki roh jahat untuk korupsi.

 

Wayang Cumplung berkisah tentang keadaan negara saat ini. “Negara ini seperti motor yang tertabrak truk, tidak tahu harus mulai memperbaikinya dari mana. Rodanya entah kemana, stangnya penyok, bodynya ringsek. Semuanya semrawut. Kesemrawutan itulah yang terjadi di Indonesia dan di Wayang Cumplung,” jelas Titut ketika ditemui usai pertunjukan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Minggu (10/3).

 

Maksud dari Wayang Cumplung ini agar manusia merasakan revolusi rohani, ada perubahan dulu pada dirinya. Setelah berubah, barulah melakukan perubahan pada lingkungannya.

 

Seperti lakon “Keong Matane Sekenong”, yang menceritakan tentang keburukan pemerintah yang akhirnya diketahui oleh masyarakat atau lakon “Kali Ilang Kedunge” dan “Pasar Ilang Kumandange” dimana pemerintah telah hilang wibawa dan aura untuk memerintah sudah tidak dirasakan.

 

Titut adalah seniman yang mendasari karyanya dengan mengambil sudut pandang hubungan manusia dengan Tuhan. Dia selalu mengistilahkan budaya adalah penyelamat manusia, sebab, para leluhur membuat kebudayaan untuk menyelamatkan hidup, seperti selamatan dan sedekah laut. Agama, yang menjadi salah satu unsur kebudyaan, malah dibuat kedok untuk melakukan hal-hal yang buruk.

 

 

Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code