category » Kisah

Telah Lahir Kelompok Kethoprak Konvensional Kawulo Jogja

di baca : 1092 kali | Date 22 July

Related Post :

widayatKethoprak Kawulo Jogja. Inilah nama kelompok kethoprak baru yang muncul di kota Yogyakarta. Kelompok kethoprak ini akan ‘meresmikan’ kemunculannya kehadapan masyarakat dengan membuat pementasan kethoprak konvensional gaya berjudul “Wangsit?”, Kamis (28/7).

Pada hari itulah bisa diartikan hari lahirnya kelompok kethoprak Kawulo Jogja. Di dalam kelompok kethoprak Kawula Jogja ini diisi beragam seniman panggung di Kota Yogyakarta yang berasal dari bermacam-macam usia. Mulai dari penyanyi campursari hingga pemain kethoprak senior. Mulai dari berusia kurang dari 30 hingga hampir 70 tahun. Paling muda ada penyanyi campursari Dhimas Tedjo berumur 29 tahun serta pemain kethoprak senior sebesar Widayat berusia 64 tahun. Masih ada pula Marsidah, Miyanto, Sardjono, Sartono, Suyatno serta Waluh, pemain kethoprak generasi 1970-1980.an Di atas generasi 80an, ada sosok-sosok  populer sebagai seniman panggung (kethoprak, sandiwara televisi, pelawak dll) seperti Yuningsih “Yu Beruk”, Marwoto, Sronto, Susilo “Den Baguse Ngarso” Nugroho serta Heru Kesawa Murti dan Nano Asmarandono. Di barisan generasi muda (pertengahan 90 hingga sekarang) selain Dhimas Tedjo, ada Ari Purnomo, Rini Widyastuti, Rusmiyati dan Lisa (putri Yuningsih). Selain itu masih ada pula individu-individu yang ‘kedanan’ kethoprak seperti Enie Sumadi, Tatik Wadiono (artis sinetron) serta Hamzah “Raminten” Mirota (pengusaha). Di barisan pemikir kethoprak selain Widayat juga ada Bondan Nusantara, Jujuk Prabowo yang masuk ke dalam kelompok kethoprak Kawulo Jogja ini. Akhirnya anggota kelompok kethoprak Kawulo Jogja ini menjadi sangat lintas generasi. Marsidah, Sekretaris kelompok kethoprak Kawulo Jogja mengatakan kemunculan kelompok kethoprak Kawulo Jogja ini untuk menyatukan seniman di Yogyakarta baik yang muda maupun tua dalam rangka pelestarian budaya Jawa, ngleluri budoyo Jowo. “Intinya kami sudah mengumpulkan seniman kethoprak untuk mewujudkan komunitas Jogja sebagai kota budaya,” kata Marsidah di Sekretariat Kethoprak Kawulo Jogja, Jalan Kemetiran Kidul No,76. Pemain kethoprak era 70-80an ini menambahkan kehadiran kethoprak Kawulo Jogja ini lebih pada keinginan untuk memberikan warna pada jagad hiburan di Yogyakarta. Enie Sumadi, Ketua Kawulo Jogja menilai kehadiran Kawulo Jogja diperuntukkan untuk warga masyarakat Yogyakarta. Kawulo Jogja hadir berangkat dari keprihatinan terhadap perkembangan kethoprak saat ini  misalnya munculnya kethoprak humor. “Bukan menantang (kethoprak humor), untuk melengkapi, mengacu hukum kethoprak yang ada,” kata Enie. Menurut Enie, Kawulo Jogja adalah tempat silaturahmi antar pemain kethoprak serta masyarakat luas demi perkembangan kethoprak di Yogyakarta. Melestarikan budaya kethoprak konvensional gaya Yogyakarta adalah pilihan yang sudah menjadi harga mati bagi kelompok Kawulo Jogja ini. Walaupun konvensional, Enie Sumadi mengatakan, pihaknya tetap ingin kethoprak konvensional tetap sesuai dengan perkembangan jaman. “Saya tetap ingin (walaupun konvensional) sesuai dengan jaman yang ada,” kata Enie. Sementara itu, sutradara kethoprak kenamaan, Widayat menilai kelompok kethoprak Kawulo Jogja adalah realisasi dari kegiatan Sarasehan Kethoprak Jogjakarta yang diselenggarakan 11 Mei 2010 di Puro Pakualaman yang menghasilkan kesepakatan perlunya revitalisasi kethoprak. Saat ini, ada beberapa gaya kethoprak yaitu kethoprak humor yang digarap oleh kelompok kethoprak Sami Aji, kethoprak garapan serta kethoprak konvensional. “Yang terpuruk itu kethoprak konvensional, tidak ada regenerasi. Dulu ada kethoprak tobong, juga ada RRI. Sekarang RRI sudah runtuh,” kata figur yang dijadikan pembimbing di Kawulo Jogja ini. Menurut Widayat, Kawulo Jogja sudah merencanakan tiap empat bulan sekali akan menyelenggarakan pementasan dengan menjual tiket. Untuk itu kethoprak konvensional harus bagus. Untuk itulah kelompok kethoprak ini menghadirkan beberapa generasi muda yang diharapkan mampu mengangkat citra kethoprak konvensional Nama-nama seniman muda seperti  Dhimas Tedjo, Rini Widyastutik, Ari Purnomo dan beberapa yang lain yang telah masuk menjadi anggota kethoprak Kawulo Jogja diharapkan mampu menjadi sarana agar kethoprak tidak mengecewakan. “Ini konvensional yang tidak terlalu kaku supaya penonton tertarik,” kata Widayat. “Sedikit ada lucunya, agar laku juga,” kata pria 64 tahun ini. Kethoprak, tambahnya, adalah kesenian yang selalu terpengaruh namun begitu rohnya tidak boleh sampai hilang. “Kethoprak humor misalnya, ditayangkan boleh-boleh aja apapun judulnya. Tapi kethoprak konvensional apapun judulnya, harus tetap ada dramaturginya. Kalau perlu 90 persen dramaturgi,” ujar pemakai topi pet ini. Widayat kemudian menjelaskan ciri-ciri kethoprak konvensional. Pertama ada tembang atau nyanyian Jawa. Ada orang yang mengatakan kethoprak adalah opera Jawa. “Temnbang itu unsur yang penting dan menyentuh. Pemain kethoprak harus bisa nembang,” kata sesepuh seniman kethoprak ini. Kedua, kethoprak konvensional harus mempunyai rasa Jawa yang berbeda dengan rasa Melayu-Indonesia.Artikulasi percakapannya harus rasa Jawa. Misalnya nggih, kulo dll. Apapun. Marah sekalipun.Harus ada artikulasi yang jelas.Tidak mungkin seperti koboi. Lebih jauh Widayat mengatakan nilai-nilai tradisi yang hidup harus dipegang. Kethoprak adalah tradisi Jawa yang sesuai dengan budaya modern misalnya didalam kethoprak ada struktur penyutradaraan, ada casting, ada tata lampu dll. Kethoprak konvensional mulai mati suri pada tahun 1990 keatas. Hal tersebut terjadi karena perkembangan teknologi informasi yang pesat dengan munculnya pengaruh televisi. Meski ada TV swasta yang menayangkan kethoprak pada saat itu, namun dilihat Widayat penayangan tersebut kurang selektif. “Menurut seorang teman, kethoprak yang ditayangkan salah satu TV swasta itu malah menghancurkan kethoprak itu sendiri. (Yang ditampilkan itu) kethoprak panggung Pati, pesisiran dengan harga murah. Akhirnya malah jadi bumerang,” cerita Widayat. Karena habisnya kader (pada kethoprak konvensional) sudah tidak ada lagi ketepatan casting. Maksudnya kalau ada pemain yang memerankan Raden Anjasmara tapi berumur 40 tahun atau putri Warianti berumur 35 tahun itu tidak bisa dilakukan. Wariyanti itu harus bisa perang dan nembang. Widayat lalu bercerita, pada jaman dulu (tahun 70-80) kalau ada pemain kethoprak yang terkenal, mereka menutup diri, tidak ingin ada orang lain yang mengimbangi dirinya saat pentas. “Jaman dulu, menutup diri. Dulu seorang juragan kalau jadi role dan mau diganti tidak mau. Ia akan berfikiran jika diganti orang lain ia takut akan orang lain itu bisa mengimbangi dirinya,” cerita Widayat. Hal ini terjadi, menurut Widayat karena orang-orang jaman dulu mempunyai pendidikan rendah, ketika sudah kondang, dikagumi lalu lupa diri. Mereka mudah puas diri, Kondang tapi tidak mau berinteraksi. “(Jaman kelompok kethoprak) Siswo Budoyo, ada pemain kethoprak bernama Siswondo yang bermain kethoprak lalu menjadi role yang lain jadi susah untuk jadi role. Kalau sekarang masyarakat kelas menengah, atau pelajar menonton kethoprak dengan menyalahi aturan yang ngga cocok,” kata Widayat seraya menyebut satu nama pemain kethoprak jaman dulu yang mempunyai akting menawan. ”Mas Ripto itu kalau nangis, nangis tenan,”ujarnya dengan bahasa Jawa.Maka, menurut Widayat, hadirnya generasi muda seperti Dhimas Tedjo diharapkan mampu membuat kethoprak bisa dijual. Dhimas Tedjo sendiri, selaku generasi muda yang diharapkan mampu mengangkat pamor kethoprak konvensional Yogyakarta di masa depan oleh generasi tua kethoprak konvensional menyampaikan rasa percaya dirinya bisa mengemban harapan itu. “Saya rasa saya mendapatkan penghargaan luar biasa dengan ikut dalam Kawulo Jogja. Sebagai anak muda, dipundak saya punya kewajiban (melestarikan kethoprak konvensional). Semampu saya akan selalu mengikuti. Mungkin regenerasi (kethoprak konvensional) (menjadi) tanggung jawab saya,” kata penyanyi campursari ini. Dengan terbuka pula, Dhimas Tedjo mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada generasi tua kethoprak konvensional yang telah menjadikan dirinya sebagai bagian dari mereka.”(Mereka) bener-bener jadi orang tua bagi saya. Satu kebanggaan bagi saya. Saya akan berlatih serius untuk menjadi lebih baik,” kata Dhimas Tedjo yang ikut hadir dalam jumpa pers pementasan kethoprak konvensional “Wangsit?” (The Real Jogja/joe)

Comment

  • Panut Harjono, 24 Mar 2013, 12:12 WIB

    Namung badhe urun rembag kemawon.Babgan kethoprak ..zaman meniko kados sampun mboten dipun tengenake, kamongko kesenian puniko tingalan poro leluhur seniman panggung mliginipun yogya.Bila ada kelompok kethoprak itupun nggak tahan lama ,lalu tak ada kabar berita ,padahal RRI yogya yang getol menyiarkan setiap minggu ( ingat tahun awal _80 an.terlebih peran TV RI ,namun sekarang menghilang.Tapi dikampung kampung Yogya sekarang tumbuh seni yang menjamur gak jelas pakemnya,yang dipentingkan ramainya ( Jathilan,sorengan,kuntulan,kobro dll ) itu tidak bisa mengalahkan seni Kethoprak.Di Joya sesungguhnya kaya dengan kethoprak tapi semuanya tinggal kenangan ( Sapta mandala, ringin Dahono, Padmonobo,Sinar mataram,Among Mitro) ada juga yang masih ada walu tidak eksis ( RRI ,Ps Bayu ) Ps Bayu yang digawangi seniman besar Yakni Gito Gati dan menurunkan Bayu ,Bagus Supriyatman (alm) dan Rabiyes.Kini Kawulo Yogya lahir dengan Pamongnya Seniman besar Pak Widayat dan Bu Marsidah,Bondan Nusantoro,dan seniman kondang lainya.Kami Pandemen kethoprak menaruh harapan agar dengan Kawulo yogya seni kethoprak eksis kembali dan terjaga pakemnya.Hinggga lahir kembali Widayat ,marsidah ,Gito Gati, suyatman,Glinding pangarso,Paeran,Ripto,Suyatin,Daryadi,Bagus Sugiyarto,Basiyo ,Ngabdul,Kemin,Bagong Sutrisno,.

  • Panut Harjono, 25 Nov 2013, 22:00 WIB

    Kapan njih kethoprak Yagya jadi dta seni Di anjungan Yogya TMII,Ini ngudo rasane wong pratauan asal tlatah perbatasan Sleman sebelah kidul kulon .

Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code