category » Kuliner

Soto Sawah Sorangan, 300 Porsi Habis Sehari

di baca : 2713 kali | Date 2 March
Soto Sawah Sorangan, 300 Porsi Habis Sehari

Related Post :

Soto Sawah Sorangan, racikan sotonya tidak beda dengan soto pada umumnya. Tapi Soto Sawah Sorangan memilik penggemar luar biasa banyak.

Lokasi warung boleh saja jauh dari keramaian tapi hal itu tidak membuat warung Soto Sawah Soragan menjadi sepi pembeli.

Lokasi warung Soto Soragan berjarak hampir satu kilometer dari selatan jalan Godean (Mirota Godean). Tepatnya berada di tengah sawah dekat jalan setapak.

Ya. Lokasi warung memang cukup jauh dan bisa membuat orang enggan untuk mampir.

Tapi Anda tahu berapa jumlah nasi soto sawah Sorangan yang dibeli penggemarnya? 300 mangkuk!!.

Pemilk warung Soto Sawah Sorangan, Hadi Sudarwo memberi keterangan pada saat pertama kali warung Soto Sawah Sorangan hadir pertama kali ketika jalan Soragan nyaris tanpa ada yang melewati. Waktu itu, pembeli soto Sorangan hanya para pedagang hewan (blantik) yang lewat jalan Soragan untuk pulang dari Pasar Kuncen. Pada saat itu, masyarakat lebih senang melewati jalan Godean di sisi utara jalan Soragan atau jalan Cokroaminoto di sisi timur. Hadi Sudarmo menceritakan warung Soto Sorangan berdiri karena kenekatan bapaknya, Kromoinangun. Lalu dimana letak keistimewaan dari soto Sorangan ini? Hadi Sudarwo menjelaskan soto Sorangan mempunyai rasa yang lezat. Bahan  yang digunakan untuk menciptakan rasa lezat khas soto Sorangan tidak berbeda dengan bahan soto yang umum digunakan. “Saya tidak tahu dimana rahasia rasa lezat soto Sorangan,” ujar putri Kromoinangun yang sudah mewarisi usaha ayahnya itu sejak tahun 1973. Dari rasa lezat yang tidak tahu rahasianya itu, pelanggan soto Sorangan harus rela antri untuk bisa makan soto ini. Puluhan tempat duduk yang disediakan di warung soto Sorangan tidak cukup untuk menampung pembeli. Para pembeli pun rela duduk di mobil untuk sekedar memakan soto Sorangan. Hadi Sudarmo sekarang ini lebih sering mengawasi karyawannya melayani permintaan pembeli. Namun sesekali dirinya masak di dapur untuk memastikan rasa khas soto Sorangan tetap terjaga. Hadi Sudarmo menjelaskan racikan soto Sorangan dibuat biasa-biasa saja. Barangkali karena persoalan selera sehingga soto Sorangan disukai banyak pembeli. Mungkin racikan yang kami ciptakan memenuhi selera banyak orang, “ ujar Hadi Sudarmo. Kini, hamparan sawah tidak lagi terlihat di jalan Soragan. Walau begitu, Hadi Sudarmo tetap member nama soto warisan bapaknya itu sebagai soto Sawah. Jelas sekali. Soto Sawah ini telah menjadi warisan sangat berharga bagi keluarga keluarga Hadi Sudarmo. (Jogjanews.com/joe)

Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code