category » Teater
Sandiwara "Goyang Penasaran", Cara Mengolah Seni Sastra Menjadi Seni Teater
di baca :
103 kali
|
Date 16 December
Salimah, penyanyi dangdut yang bikin penasaran, hidup di kampung tempat goyang dangdut diterima, sekaligus dihujat banyak orang. Tak peduli ia gadis atau janda, setiap lelaki bersumpah rela bertekuk lutut di bawah lekuk pinggulnya.
Solihin, pemuda perlente yang kemudian menjadi kepala desa, tak menyerah sekalipun lamarannya ditolak. Sebelum mendapatkan perempuan yang jadi rebutan, sampai matipun akan ia perjuangkan.
Tapi Salimah hanya menginginkan mata Haji Ahmad, guru mengajinya dulu. Mata yang terbuka lebar, seperti saat memandangi Salimah mmbaca surat An-Nur, seperti ketika menamai perempuan itu sumber dosa.
Mata yang marah dan memaksanya turun dari panggung. Mata yang ingin ia dekap ke dadanya, sampai mati. Sampai mati. Goyangannya maut. Dan hingga kini, ia masih penasaran.
Itulah sinopsis pementasan sandiwara berjudul “Goyang Penasaran” yang dipentaskan Naomi Srikandi dan beberapa seniman lintas seni di Teater Garasi, Selasa (13/12) yang khusus diperuntukkan untuk wartawan dan fotografer.
Pentas sandiwara “Goyang Penasaran” ini terselenggara karena Naomi Srikandi berhasil meraih penghargaan Empowering Women Artists Kelola yang didanai HIVOS, Ford Foundation, dan BIYAN. Sandiwara “Goyang Penasaran” adalah karya sastra berupa cerita pendek dengan judul sama yang diciptakan Intan Paramaditha.
Cukup banyak seniman lintas seni yang terlibat dalam pementasan “Goyang Penasaran”. Mereka adalah Agung Kurniawan, Ari Dwianto, Ignatius Sugiarto, Irfanuddien Ghozali, MN Qomaruddin, Ratri Kartika, Rifqi Mansur Maya, Risky Summerbee, Theodorus Christanto, Vidyahana Sinaga.
Menurut Naomi Srikandi, menggarap sandiwara bersama sejumlah seniman dengan penghayatan berbeda terhadap sebuah kenyataan menjadi penegasan bahwa tugas realisme, representasi atau sandiwara bukanlah mereproduksi hal-hal nyata belaka tapi menyediakan banyak kemungkinan.
“Bagi saya yang berharga dari realisme dalam kolaborasi ini adalah ia menunjukan permainan bersama yang didedikasikan kepada tersampaikannya sebuah lakon dan hanya itu,” kata Naomi.
Melalui sandirawa ini, cerita, tokoh, ruang, suasana yang ada dalam cerita pendek “Goyang Penasaran” ditemukan kembali, digagas bersama, dimiliki, ditawar sebelum dihidupkan. Bagaimana menjadi realis dalam sandiwara ini barangkali hanya perihal menyadari dan memberi harga pada apa yang ada, dan teater diawali, dibentuk dari sana.
Pementasan sandiwara ini berangkat dari pemahaman aspek realisme yang menghadirkan kisah Goyang penasaran dan ruang yang melaluinya, bukan dari pemahaman atas realisme yang tujuannya menjadikan kenyataan dan representasinya terlihat bagai pinang dibelah dua.
Dengan begitu, maka penonton sandiwara “Goyang Penasaran”, diharapkan dapat mengalami mekanisme-mekanisme sosial suatu kenyataan yang dibicarakan dalam sandiwara tersebut guna membangun relasi-relasi baru dalam ruang sosial baru dimana penonton terlibat didalamnya.
Ruang sosial di panggung sandiwara adalah rekonstruksi atas kenyataan yang menipu. Dialog-dialog dalam realisme diambil dari pola-pola pengucapan di suatu masa atau masyarakat atau pekerjaan yang dirujuknya.
Akting membuat teks tampil wajar, mengurangi efek-efek sastrawi dan retorik dengan menekankan spontanitas dan aspek-aspek psikologis. Secara paradoks, untuk tampak nyata, seseorang harus menguasai teknik mengatur muslihatnya: Menjadi tampak nyata adalah menghadirkan ilusi sempurna atas yang nyata.
Tetapi setiap cermin punya kemungkinan untuk retak. Mengolah unsur horor dan menyerahkan tokoh Salimah diperankan oleh aktor laki-laki, misalnya adalah bagian dari percobaan pada sandiwara ini untuk menciptaan retakan pada penonton terhadap yang nyata. (Jogjanews.com/Nilu)









