category » Berita Jogja

Pentas Teater Ujian Mata Kuliah Berbicara Progdi Bahasa Perancis FBS UNY

di baca : 311 kali | Date 15 January

Related Post :

Jumat (13/1) malam, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Perancis Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta mengadakan Pentas Akhir Tahun Ajaran. Pentas yang diadakan merupakan pementasan teater. Bertempat di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis (LIP), ada tiga judul pementasan yang ditampilkan.Kami adalah mahasiswa semester lima. Dan ini merupakan syarat lulus mata kuliah berbicara atau expression orale V. Setiap kelas itu harus menampilkan satu pementasan. Nah, ada tiga pementasan yang masing-masing durasinya antara 30 hingga 40 menit. Kebetulan tahun ini kami mengangkat tema budaya Indonesia, budaya tradisional,” ujar Zasqia Damai, selaku Humas Acara. Dua pementasan teater mengangkat cerita khas dari Indonesia, yakni “Jaka Tarub”, dan “Ken Arok”. Sementara pementasan teater ketiga mengangkat kisah cinta dari Perancis, yakni “Cinta Napoleon”.

Pentas teater mahasiswa Program Studi Bahasa Perancis Fakultas Bahasa dan Seni UNY untuk lulus mata kuliah Berbicara (expression Orale V) berjudul "Cinta Napoleon" di LIP Yogyakarta, Jum'at (13/1).

Jaka Tarub” merupakan kisah seorang pemuda gagah yang saat sedang berburu ke hutan, menemui tujuh orang bidadari yang sedang mandi di sebuah telaga. Sebuah selendang ia ambil sehingga membuat salah satu bidadari, Dewi Nawangwulan tak mampu kembali ke khayangan. Jaka Tarub kemudian muncul sebagai seorang penolong. Mereka akhirnya berumah tangga hingga akhirnya kebohongan Jaka Tarub terkuak. Begitu marah dan kecewa, Nawangwulan pun kembali ke khayangan. Pentas teater kedua berjudul “Ken Arok” diangkat dari Naskah Pararaton. Pementasan ini mengangkat kisah hidup Ken Arok semenjak ia lahir hingga mati terbunuh. Kedelapan belas mahasiswa memperagakan setiap karakter. Mereka memainkan alur cerita mulai saat Ken Arok muda diasuh oleh berganti-ganti orang seperti Lembong, Bango Samparan, hingga Lohgawe. Hingga kemudian ia masuk ke dalam lingkungan kerajaan, dan mulai berambisi menguasai tahta dan istri raja, Ken Dedes.Sampai pada akhirnya, kami menceritakan bagaimana ia mati terbunuh. Ia dibunuh oleh Anusapati, anak tirinya dengan sebuah keris yang dibuat oleh Empu Gandring. Keris yang sama, yang pernah dipesannya dahulu. Sengaja kami menyajikan cerita full karena pelajaran moral yang dapat diambil ada pada prosesnya tersebut,” jelas Zasqia. Pementasan terakhir tentang “Cinta Napoleon” sedikit lebih berbeda. Setting panggung, musik, hingga kostum beberapa pemainnya menyesuaikan nuansa Perancis. Meski demikian, ada beberapa aktor yang tetap mengenakan kostum kebaya. Harapannya, tetap dapat menyalipkan nuansa Jawa di tengah alur cerita bergaya Perancis. Misalnya, seorang mahasiswi yang berperan sebagai narator. Sekali ia mengenakan kemben lurik jawa sebagai atasan dan kain jarik panjang sebagai bawahan. Sembari membawa tampah anyaman bambu, ia memeragakan orang yang sedang membersihkan beras. Di segmen berikutnya, ia tampil dengan kebaya biru sembari membawa buku. Ia hadir sebagai narator, menyambungkan setiap segmen cerita. Seluruh pementasan ini dibawakan dalam Bahasa Perancis. Proses persiapannya memakan waktu selama tiga bulan, tepatnya dimulai pada akhir Oktober tahun lalu. Ketiga pementasan teater tersebut diasuh oleh Marion Faresin selaku native speaker mata kuliah berbicara (expression orale V). Harapannya, apa yang telah dipentaskan menjadi tontonan bermakna bagi masyarakat Jogja, turis domestik, dan turis internasional. [Jogjanews.com/Ina Florencys)

Leave Comment

Name
Email
Comment
Umm captcha not work
Security Code