category » Pameran

Pameran Seni Rupa Pasar Ilang Kumandhange "Mletho", Kritik Seniman Terhadap Persoalan Sosial

di baca : 84 kali | Date 21 September

Related Post :

Untuk memperingati 29 tahun keberadaannya di Yogyakarta, Bentara Budaya Yogyakarta menggelar Pameran Seni Rupa bertajuk Pasar Ilang Kumandhange dengan judul “Mletho”, Sabtu-Senin (17-26/9). Sebanyak 26 perupa mengikuti pameran galeri milik Harian Kompas ini.

Pameran Seni Rupa Pasar Ilang Kumandhange Bentara Budaya Yogyakarta.

Seniman yang memamerkan karya seni rupa mereka antara lain Azhar Horo, Budi “Bodonk” Prakoso, Budiyonaf, Harri Gita Setiadi, Hayatuddin, Ivan Yulianto, Januri, Joko “GUndul” Setiono, Katirin, Khusna Hardiyanto, Kik Wahyu Peshang, Oetje Lamno. Selain itu ada seniman Rifki Sukma, Romy Setiawan, S Dwi Stya Acong, Sentot Widodo, Sigit Bapak, Sinik, Sito Pati, Suharmanto, Suitbertus Sarwoko, Susilo Budi, Tarman, Wilman Syahnur, Yayat Surya, dan Yerry Padang. Pimpinan Bentara Budaya Yogyakarta, Hermanu menjelaskan, tema Pasar Ilang Kumandhange dimunculkan merespon keadaan perekonomian dan pelaksanaan roda pemerintah yang sangat memprihatinkan. “Itu semua (yang dilakukan pemerintah) tidak sesuai dengan janji-janji sehingga mereka terlena dengan kedudukannya dan melupakan janjinya, yang dalam bahasa Jawa disebut mletho,” Hermanu. 29 karya seni rupa yang dipamerkan para seniman peserta Pameran Seni Rupa Pasar Ilang Kumandhange menampilkan beragam masalah sosial seperti tergusurnya pasar tradisional oleh pasar modern hingga persoalan suap elit politk parpol yang sedang ramai dibicarakan saat ini. “Beragam gaya (karya) mereka tampilkan untuk menyadarkan pemimpin kita tentang carut marut pemerintahan,” terang Hermanu. Misalnya, dalam karya  “The Metric of Distance” (2011) karya Rifqi Suksma, berukuran 75 x 20 x 30 cm dari media logam menggambarkan timbangan yang kesepian yang membuat relasi sosial pudar sekaligus saksi bisu yang diam-diam menampilkan lagu tentang pasar rakyat yang sudah tidak lagi berkumandang. Sedangkan dalam karya “Hulkliganism” (2011) karya Yerry Padang berukuran 100 x 137 cm dari media akrilik di kanvas menggambarkan raksasa yang mewujudkan kemarahan pohon-pohon hijau yang ditebangi manusia. Pohon-pohon itu lalu menjadi api dalam diri sang raksasa. Inilah khayalan terakhir dari jeritan senandung sedih Pasar Ilang Kumandhange. Sementara itu, rohaniawan dan juga seorang penulis, Sindhunata mengungkapkan  tema Pasar Ilang Kumandhange merupakan ikon yang kaya dengan realitas pergulatan hidup dan nasib rakyat kecil. (Jogjanews.com/Anam)

Leave Comment

Name
Email
Comment
Umm captcha not work
Security Code