category » Pameran

Pameran Seni Rupa Kolaborasi "Seni Kain Dalam Busana Kontemporer", Menyatukan Seni Kriya dan Seni Rupa

di baca : 561 kali | Date 13 January

Related Post :

Pemilik JadinCratf Tekstile, Jadin C Djamaludin berpose disamping karya kain dan patung yang ia ciptakan yang turut serta dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa Kolaborasi "Seni Kain Dalam Busana Kontemporer" di Rumah Seni Kumpul-Kumpul, 17 Desember 2010 hingga 16 Januari 2011.

Dalam rangka untuk terus menerus memperkenalkan keberadaan Rumah Seni Kumpul-Kumpul kepada masyarakat luas, Jadin Craft Tekstile (JCT) menyelenggarakan Pameran Seni Rupa Kolaborasi “Seni Kain Dalam Budaya Kontemporer” dari 17 Desember 2010 hingga 16 Januari 2011.

Pameran Seni Rupa Kolaborasi “Seni Kain Dalam Budaya Kontemporer” ini adalah pameran yang ke empat yang telah diselenggarakan Rumah Seni Kumpul-Kumpul yang berada di Jalan Bantul KM 5 Yogyakarta. Pemilik Rumah Seni Kumpul-Kumpul, Jadin C Djamaludin menerangkan pameran ini sebagai embrio berdirinya Pusat Pengembangan Tenun Tradisional Indonesia” serta trading house seni dan kerajinan yang diperuntukkan  bagi pengembangan para seniman perajin muda untuk dapat meningkatkan karya serta usahanya agar dapat bersaing di era pasar bebas. Penyelenggaraan Pameran Seni Rupa Kolaborasi “Seni Kain Dalam Budaya Kontemporer” ini terselenggara atas dukungan dari kawan pribadi Jadin C DJamaludin maupun lembaga seperti Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI). Beberapa individu baik sebagai seniman, pelaku kerajinan serta pemiliki koleksi kain tradisional yang ikut serta dalam pameran seni rupa kolaborasi ini adalah seniman Nani Sakri, seniman sekaligus pengusana keramik Timbul Raharjo , Rujito, Nugroho, Ade Kusuma (Bandung) serta GKR Pembayun memamerkan karya seni masing-masing. Perupa wanita, Nani Sakri misalnya, memamerkan  lebih dari 10 lukisan kombinasi batik dan sosok wanita antara lain dalam karya As a Magical As Five Phoenix, Opportunity Steal, Keeping Up With The Flow dan Blooming Love. Selain nama-nama tersebut, juga masih ada Bambang Cahyono, perancang busana Ida Royani, Poppy Almatsier yang memamerkan batik Solo kuno, BRAY Murdo Kusumo yang memamerkan busana dan kain Kraton Yogyakarta. Dipamerkan pula baju adat tradisional kota Gadang Sumatera Barat, koleksi busana keluarga Tuo Rumiyah, produk busana Yarsilk Yogyakarta dan koleksi foto “Human Interest” karya Susanti Sarjono-Inoel Jogja. Anggota APPMI beberapa daerah seperti Oki Wong (APPMI Sumatera Utara), Widya Atmodjo  dan Jenny Ang (APPMI DKI Jakarta), Malik Moestram dari APPMI Jawa Barat, Adie-Alie (APPMI) Makassar, serta APPMI Padang. Menurut Jadin, kolaborasi karya seni dan kerajinan dapt menyatu dalam berkesenian  dengan membuka kesadaran kolaborasi seniman, perajin, desainer untuk dapat mendukung hasil karya masing-masing tanpa terjadi egoism pribadi,” terang Jadin yang juga Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Yogyakarta ini. Kurator AA Nurjaman dalam catatan pameran menerangkan Pameran Seni Rupa Kolaborasi “Seni Kain Dalam Budaya Kontemporer” ini menampilkan dua karakter karya seni yaitu seni kerajinan (kriya/ applied art) dan seni murni (fine art). Karya seni kriya yang dipamerkan antara lain bentuk seni kain seperti batik, songket, tenun  ikat, sulaman/bordir, lurik, jumpatan more dan kain tapis. Ada pula kain etnik dari kain batik (Jawa), songket (Sumatera), tenun ikat (Lombok, Sulawesi, Kalimantan dan daerah lain). Karya seni rupa hadir dalam karya lukis Nani Sakri yang mengungkapkan simbol-simbol batik  klasik dalam keterkaitannya dengan dunia perempuan masa kini.  Selain karya seni kriya dan seni rupa, juga dikolaborasikan dnegan karya-karya fashion, patung, kriya etnik Dua karakter karya seni ini  (seni kriya dan seni rupa) sudah lama berada dalam persoalan perbedaan kasta antara seni tradisi asli Indonesia dengan karya seni rupa (fine art).  Pameran ini tidak bertujuan mensejajarkan antara seni kriya dan seni rupa murni namun mengkolaborasikan dua jenis karya seni  untuk menghadirkan pencerahan terhadap wacana seni rupa Indonesia. “Harapan dari pameran ini adalah bisa didapatkan gambaran sampai dimana seniman kontemporer menggali seni tradisi sebagai pijakan inspirasi dalam penciptaan karya-karya mereka,” ujar AA Nurjaman. Sementara dari sisi seni kriya, diharapkan ada tinjauan ulang terhadap realitas perkembangan seni kriya dalam menjelajahi budaya kontemporer. “Dari pameran ini diharapkan memperoleh solusi kesenjangan antara seni rupa tradisi dan seni rupa kontemporer,” ujar AA Nurjaman. (Jogjanews.com/joe)

Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code