category » Pameran
Pameran "Secangkir Kopi" Kelompok Palang, Berawal dari Inspirasi Kopi
di baca :
146 kali
|
Date 13 February
Kontributor: Meita Jogjanews.com - Pada 8 April 2011 Kelompok Palang terbentuk di Sangkring Art Space (SAS) Yogyakarta. Rabu, 8 Februari 2012, Nama kelompok yang diberikan pemilik SAS Yogyakarta, Putu Sutawijaya ini sudah berpameran tunggal di tempat yang sama. Tajuk pameran mereka adalah “Secangkir Kopi” yang terinspirasi dari minuman kopi yang begitu dekat dengan keseharian kelompok Palang. Kelompok Palang sendiri beranggotakan tujuh seniman muda Bali yang ada di Yogyakarta.
Mereka adalah I Wayan Agus Novianto, Putu Harimbawa, I Ketut Suryawan, I Wayan Adhy Yoga Pramartha, I Gusti Agung Bagus Ari Maruta, I Kadek Suardana, dan I Gede Oka Astawa. Makna kata ‘Palang’ yang dalam bahasa Bali berarti kebaikan menjadi semangat bagi kelompok ini untuk berekspresi. Inspirasi minuman kopi begitu banyak menghasilkan imajinasi bagi para anggota Kelompok Palang. Kopi membawa mereka pada kisah-kisah masa lalu yang tidak terlupakan yang mampu menghadirkan karya lukisan degan berbagai konsep dan judul. Seperti kisah masa lalu yang kelam dan bahagia, hingga masalah pelik mengenai kecintaan terhadap tanah air terepresentasikan dengan apik dalam warna-warna kopi yang mendominasi karya lukisan mereka. Sesekali pada karya mereka, terdapat warna-warna yang cerah sebagai perlambang atau point of interest. Seperti pada karya Putu Harimbawa, yang bertajuk “Teringat Kisah Secangkir Saat Bersama Dia”. Pada lukisan ini, ia menggunakan warna-warna primer yang mencolok, merah dan kuning untuk menyimbolkan kenangan yang manis saat bersama ‘dia’, yang dapat berarti sahabat, keluarga, pacar. Atau pada karya I Wayan Agus Novianto, “Kopi Keberapa”, yang memvisualkan cangkir-cangkir kopi berwarna putih, namun ada satu yang berwaran merah, yang menurutnya itu sebagai point of interest. Ternyata dari konsep sederhana seperti ini, para perupa muda ini dapat mengeksloprasi lebih dalam tentang pengalaman mereka dengan secangkir minuman berwarna pekat ini. Kurator pameran "Secangkir Kopi", Hendra Himawan menggunakan model kerja kurasi a’la etnografi kuratorial yang mana seniman mampu berbicara mengenai proses, latar belakang serta gagasan berkesenian yang mempengaruhi mereka. Menurut Hendra, sudah saatnya para perupa ini ikut berbicara atas karya mereka agar audiens juga memahami maksud dibalik karya mereka.









