category » Fotografi

Pameran Fotografi “Contact Lens” Victor Zwiers, Imajinatif, Tapi Kurang Lama Residensinya

di baca : 86 kali | Date 24 June

Related Post :

photothonic dna

Photothonic DNA karya Victor Zwiers yang dibuat dengan model "sandwich" atau menumpuk karya foto sehingga standard maknanya menjadi hilang tinggal gambar sisa.

Sebuah pameran fotografi hasil program residensi berjudul “ Contact Lens” di ruang pamer MES 56 sedang dihelat seorang  Belanda, Victor Zwiers. Pemuda 25 tahun ini adalah mahasiswa di Interactive Media Design di The Royal Academy of Art, Den Haag, Belanda.

Victor Zwiers mengikuti program residensi di MES 56 selama tiga bulan. Karya-karya fotografi yang dipamerkan dari 4-25 Juni 2010 ini adalah hasil  Victor berproses interaksi dalam kerja-kerja program residensi. Menurut salah satu board management MES 56, Pangki Purbandono, secara formal, Victor Zwiers mengikuti kegiatan yang dibuat MES 56 antara lain workshop fotografi dengan jurusan Fotografi Fakultas Media Rekam ISI Yogyakarta. Ia juga membuat presentasi publik berkolaborasi dengan mahasiswa pada jurusan yang sama. “Secara keseluruhan karya dia tinggal di jogja dua bulan, selain berinteraksi dengan jogja, kita bikinkan workshop fotografi dengan ISI, dia juga berkolaborasi dengan mahasiswa ISI dan mengadakan presentasi dengan media rekam interaksi khusus formil,” terang Pangki. Dalam workshop fotografi yang Victor Zwiers ikuti, ia menampilkan gagasan-gagasan konseptual potret ke beberapa mahasiswa fotografi dan non fotografi. Victor mendapat banyak hal selama berinteraksi dengan peserta workshop semisal perbedaan cara berfikir, pemahaman serta budaya hidup. “Yang informil, hasilnya bisa dilihat di galeri ini,” kata Pangki. Menurut Pangki, karya-karya Victor berada pada posisi masih mencari alternatif bentuk karya fotografi yang diinginkan. Sehingga ia melakukan berbagai eksperimen karya. “Karena dia masih mahasiswa jadi dia memang belum punya gaya, itu yang kita harapkan supaya dia punya kreasi lain,” kata Pangki. Eksperimen karya Eksperimentasi karya fotografi. Itulah yang bisa diketahui dari delapan karya fotografi Victor Zwiers. Dalam karya “Photothonic DNA” misalnya, ia melakukan proses “sandwich” atau menumpuk-numpuk karya foto menjadi image dimana standard maknanya menjadi hilang dan tinggal gambar foto sisa. Pada karya “The Curves”, eksperimentasi cukup imajinatif dilakukan seorang Victor dengan memasukkan foto-foto jepretan anggota MES 56 kedalam mesin penghancur kemudian dia susun menjadi visual yang tidak terbaca. “Ada beberapa project dia memberikan kamera langsung jadi ke beberapa temen di MES 56 dan beberapa teman lain,” kata Pangki mengenai proses kekaryaan “Photothonic DNA” dan “The Curves”. Pangki yang mantan Direktur MES 56 ini menganggap karya fotografi yang berjudul “ Seribu Man!” adalah karya masterpiece seorang Victor Zwiers. “Seribu Man! Menampilkan potret para tukang parkir di Yogyakarta dalam bingkai uang seribu rupiah. Menurut Pangki, “Seribu Man!” adalah karya masterpiece Victor karena konteks dan latar belakangnya berasal dari persoalan yang dihadapi Victor yaitu selalu membayar tiket parkir dimanapun toko yang ia datangi. Karya ini menjadi maksimal karena ia berinteraksi dengan sebuah pekerjaan Persoalan membayar parkir dimana-mana tempat ini menjadi sesuatu yang lucu dan menarik bagi Victor karena parkir di Yogyakarta begitu berbeda dengan di negaranya ketika dia sudah punya kartu parkir dia sudah tidak mempunyai persoalan dengan parkir. “ Secara teknis dia print di uang seribuan, dan yang di print adalah potret tukang parkir. Dia punya masalah dengan parkir di Yogyakarta. Setiap dia berhenti, setiap dia parkir dia harus membayar 1000. Buat dia ini unik, menarik, Dia lalu punya ide untuk memotret tukang parkir dan di print di uang seribuan,” jelas Pangki. Karya dokumentatif juga dihadirkan Victor Zwiers dalam karya “One Hour Reception” yang menampilkan upacara pernikahan di Yogyakarta yang baru pertama kali dilihat Victor. Ia juga memotret salah seorang suami temannya yang sudah mempunyai anak laki-laki di Indonesia. Seperti juga yang diharapkan dari banyak program residensi lain, penerima program diharapkan mendapatkan pengalaman berkarya dari lingkungan baru mereka yang kemudian mampu membantu memperoleh karakter berkarya yang sesuai dengan karakter individu. Kalau pun ada kritik tentang karya-karya Victor Zwiers, menurut Pangki Purbandono, Victor harus berurusan dengan persoalan artistik karya yang belum fokus karena semua (ide) masih harus dibuat. Tapi itu semua memang tidak bisa terlepas dari kamera yang paling mudah merekam benda dengan sangat unik dan ekstrim. “Tapi itu justru bagian dari proses, dia kurang lama di Jogja. Semua diambil tapi itu wajar. Memang kamera paling mudah merekam benda, seunik dan seekstrim mungkin,” kata Pangki. Bagi penonton, bagaimana memahami karya-karya fotografi ala Victor Zwiers ini? “Kalau untuk penonton ini presentasi dan mengenal langsung dia, tidak mutlak membeberkan semua konsep. Justru pertanyaan waktu itu dengan penonton itu menarik,” jawab Pangki. (The Real Jogja/joe)

Leave Comment

Name
Email
Comment
Umm captcha not work
Security Code