category » Citizen Jurnalism

Konser Penciptaan I "Mendadak Pentas" Mahasiswa Jurusan Etnomusikologi FSP ISI Yogyakarta

di baca : 566 kali | Date 17 January
Konser Penciptaan I
Konser Penciptaan I
Konser Penciptaan I
Konser Penciptaan I

Related Post :

" Caption: Gelaran konser Penciptaan I "Mendadak Pentas" mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di Teater Arena FSP ISI Yogyakarta, Rabu (16/1).
"

Penulis:Sabbatiansjah Aji (Mahasiswa Jurusan Sastra Perancis FIB UGM)

Jogjanews.com - Pada Rabu (16/1) malam, di Teater Arena Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta diadakan konser Mendadak Mentas. Konser tersebut merupakan ujian mata kuliah Penciptaa I bagi mahasiswa Jurusan Etnomusikologi angkatan 2010.

 

Meskipun dalam rangka pengambilan nilai, kualitas yang ditampilkan tidak kalah dengan mahasiswa-mahasiswa senior ataupun para seniman musik.

 

Konser tersebut menampilkan aransemen dari 12 mahasiswa Jurusan Etnomusikologi. Setiap aransemen merupakan gubahan dari lagu daerah mereka masing-masing. Dalam aransemen yang mereka bawakan, masing-masing mahasiswa menampilkan keunikan dalam perpaduan alat musik tradisional daerahnya dengan alat musik lainnya.

 

Seperti yang ditampilkan oleh Amoris yang membawakan sebuah lagu berjudul Amai, yang dalam bahasa suku Dayak Kemya berarti ayah. Dia menghadirkan berbagai macam seruling Dayak dan dipadukan dengan sebuah xylophone. Meskipun demikian, penonton dapat merasakan suasana hutan Kalimantan dan kehidupan suku Dayak di dalamnya.

 

Begitu pula dengan Teadatu yang membawakan sebuah lagu berjudul Indish Van de Koloaniale yang menghadirkan suasana pertunjukan musik jaman Belanda, dengan sentuhan Jawa dari seruling bambu yang dimainkan sahut-sahutan dengan trumpet.

 

Lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang yang seharusnya keroncong, dibawakan berbeda olehnya. Namun, ada juga mahasiswa yang benar-benar membawakan lagu tanpa menambahkan alat musik non-tradisional seperti yang dibawakan oleh Dek Wi.

 

Dia membawakan sebuah lagu berjudul Ratu Anom yang bernuansa Bali dengan murni gamelan Bali saja. Meskipun demikian, pertunjukannya tetap menarik karena setiap pemain melakukan olah tubuh seperti penari Kecak, sehingga penonton dapat merasakan suasana Bali dengan lebih dalam.

 

Menurut salah seorang dosen keroncong Etnomusikologi, Bapak Darno, inti dari mata kuliah Penciptaan I adalah mahasiswa dapat mengaransemen sebuah lagu daerahnya masing-masing.

 

Selain itu, Bapak Riyanto, selaku Kepala Jurusan Etnomusikologi, menambahkan agar tetap melestarikan tradisi dan menghilangkan rasa etnosentris dari masing-masing mahasiswa. Bagi yang penasaran dengan musik etnis karya mahasiswa ISI, pada hari Minggu (20/1) akan digelar Konser Penciptaan 3 di Mini Concert FSP.

 

Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code