category » Citizen Jurnalism

Keunikan Yogyakarta

di baca : 1983 kali | Date 23 February
Keunikan Yogyakarta

Related Post :

" Kegiatan budaya tradisional dan pameran modern diadakan hampir setiap hari dan malam tentang seni teater, pantomim, musik, tarian klasik dan kontemporer, puisi, dll.
"

Penulis: Adventia Novi Astuti

Jogjanews.com - Yogyakarta termasuk dalam salah satu tempat pariwisata yang wajib dikunjungi di Indonesia yang dapat memiliki banyak tempat wisata. Yogyakarta tidak bisa diabaikan begitu saja jika Anda ingin mencari kota dengan paket pariwisata yang lengkap.

Daerah Istimewa Yogyakarta  sendiri adalah bagian dari 32 provinsi di Indonesia. Wilayah ini terletak di kaki Gunung Merapi aktif. Dari alasan formal seperti pesona budaya seni dan tradisi lokal atau keajaiban alam bahwa Yogyakarta memiliki akomodasi yang dapat membuat Anda mencapai tempat ini dengan mudah. 

Keunikan Yogyakarta juga dapat dilihat dari tempat-tempat pariwisata yang menarik untuk dikunjungi. Serius, Anda tidak akan pernah bosan di kota kecil namun ramai.

Yogyakarta menjadi tempat strategis untuk jaringan kegiatan ekonomi di Jawa serta untuk daerah tujuan wisata. Untuk pergi ke Yogyakarta dapat dilakukan dengan dua cara. Anda dapat pergi dengan mobil, bus, kereta, atau sepeda motor, kemudian lewat udara dengan pesawat. 

Selain itu, saya berpikir bahwa cara untuk pergi ke Yogyakarta lebih nyaman bagi saya. Seperti, kita tidak perlu menyeberang dengan penuh ketegangan seperti jika kita ingin pergi ke Bali atau menghadapi kemacetan lalu lintas berjam-jam seperti di Jakarta.

 Yogyakarta memiliki lebih dari sekedar budaya. Ini adalah kota yang sangat hidup dan menyenangkan pembelanja. Jalan utama, Jalan Malioboro, selalu ramai dan terkenal karena penuh dengan jajanan makanan serta budaya-malam. Di depan Gedung Agung atau Kantor Pos Besar yang berada di selatan Jalan Malioboro jalan ini yang disebut Kawasan Titik Nol KM adalah aliran di jantung kota.

Banyak toko-toko wisata dan hotel murah terkonsentrasi di sepanjang jalan ini atau di tempat wisata sebelah Jalan Sosrowijayan tersebut. Di selatan Jalan Malioboro ada Keraton, itu adalah rumah Sultan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwana X. Hal ini dapat diakses dengan berjalan kaki, becak, atau taksi lokal.

Yogyakarta juga dikenal sebagai sebagai kota seni dan budaya. Kegiatan budaya tradisional dan pameran modern diadakan hampir setiap hari dan malam tentang seni teater, pantomim, musik, tarian klasik dan kontemporer, puisi, dll. 

Yogyakarta memiliki banyak upacara budaya, seperti Sekaten yang diselenggarakan di setiap 12 Maulud (satu bulan dalam kalender Islam), ini adalah upacara pendahuluan dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan pada 5-12 dari bulan yang sama. 

Puncak dari perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan pada 12 Maulud, ini disebut Grebeg Maulud. Dalam upacara Grebeg, gamelan (alat musik tradisional dari Yogyakarta) yang disebut Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu yang hanya dipamerkan setiap perayaan Sekaten dibawa dari dalam Keraton (Miyos Gongso).

Kemudian, Upacara Bekakak diadakan setiap Sapar (bulan kalender di Jawa), pada Jumat 10-20. Its diadakan di Gamping, Sleman Yogyakarta, yang terletak sekitar 8 km barat dari pusat kota Yogyakarta.

Upacara Bekakak ini adalah wujud   kekaguman kepada Kyai dan Nyai Wirasuta yang menjadi abdi dalem (seperti penjaga) dan memiliki tugas untuk membawa payung untuk Pakubuwono I (Raja kerajaan Yogyakarta). 

Juga ada ada Gunungan (ini adalah upacara untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas produk pertanian yang memberikan kemakmuran), Labuhan (upacara akan disimpan keseimbangan manusia dan alam, yang diselenggarakan di Parangtiris pantai, 15 km ke selatan dari pusat Yogyakarta).

Juga ada kegiatan  Malioboro Fair, karnaval yang diadakan setiap tahun untuk merayakan ulang tahun Yogyakarta, seni pertunjukan budaya yang banyak di Yogyakarta dan di kisaran), dll, yang membuat kota ini memiliki nilai tinggi tradisi, seni, dan budaya.

 

Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code