category » Panggung

Kethoprak "Pletheking Suryo Ndadari", Muhammadiyah Juga Dapat Kritikan Dari Seniman

di baca : 78 kali | Date 7 July

Related Post :

din

Pelawak Marwoto hendak mencium tangan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin ketika pentas bersama kethoprak "Pletheking Suryo Ndadari" di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (6/7).

Muhammadiyah bahkan sudah seratus tahun berdakwah menyadarkan, mencerdaskan, menyejahterakan dan menyehatkan masyarakat. Namun dakwah dengan media budaya tradisional, rasa-rasanya begitu jarang dilihat masyarakat. Ketika Muhammadiyah pada penyelenggaraan muktamar yang bertepatan dengan satu abad usia ormas yang memiliki anggota 42 juta orang ini menyelenggarakan pementasan kethoprak, orang tetap saja bertanya tumben Muhammadiyah mementaskan kethoprak.

“Jarang-jarang Muhammadiyah mementaskan kethoprak. Ini sejarah,” kata Kocil Birawa salah satu koordinator penyelenggaraan kethoprak berjudul “Pletheking Surya Ndadari” yang digelar di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (6/7). “O... sering Muhammadiyah kalau di daerah-daerah karena kita juga mengembangkan dakwah kultural yaitu dakwah dengan memnberikan apresiasi terhadap budaya lokal yang sangat dihargai Muhammadiyah,” jelas Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah, seperti menjawab pertanyaan tumben-tumbenan Muhammadiyah menggelar pentas kethoprak dalam rangka Muktamar. Ucapan itu katakan Din Syamsudin beberapa saat sebelum ikut bermain dalam pentas kethoprak yang juga banyak diikuti pejabat publik dan seniman panggung Yogyakarta ini. Din Syamsudin menerangkan dirinya ikut berpartisipasi ikut bermain kethoprak dalam rangka memeriahkan pelaksanaan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah walau diakuinya ia tidak cukup memahami bahasa Jawa namun itu tidak menjadi halangan untuk bisa tampil baik dalam pementasan. “Saya ikut berpartisipasi untuk mangayubagyo memeriahkan muktamar muhammadiyah walaupun seumur hidup terus terang baru sekali ini bermain kethoprak,” kata Din yang kembali terpilih menjadi Ketua Umum Muhammadiyah 2010-2015 pada muktamar di Yogyakarta ini. Din menilai, kethoprak adalah seni tradisi yang sangat baik dan bisa menjadi media dakwah kultural karena kethoprak disenangi rakyat. Kethoprak sekarang juga sudah mulai modern, kontemporer sehingga tidak terlalu berdasar pada pakem. “Saya senang sekali lakon kali ini pleteking suryo, sang suryo yang bersinar. Wah ini kan sesuai dengan misi muhammadiyah, kata Pria 52 tahun ini yang juga merasa senang bisa memerankan tokoh Ki Pamungkas sebagai pandhito ratu yang memberikan tausiyah kepada masyarakat. “Saya sangat bangga saya termasuk kehormatan jadi level saya ini level ketua umum Muhammadiyah dan level Walikota,” kata Tarzan. “Karena satu panggung jadi sederajat,” tambah pelawak senior ini membuat suasana wawancara dengan wartawan diselingi tawa. Tarzan juga akan turut bermain sebagai abdi Ki Pamungkas. Herry Zudianto, Walikota Yogyakarta menilai pementasan kethoprak yang diselenggarakan Muhammadiyah ini menunjukkan ormas ini memberi penghargaan terhadap budaya daerah pada kethoprak sebagai salah satu kearifan lokal yang bisa menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat. “Termasuk pentas tari kemarin tari kolosal kontemporer nusantara kemarin, ini menunjukkan Muhammadiyah memberi apresiasi terhadap budaya daerah,” kata Herry yang memerankan tokoh masyarakat lapisan bawah. Jalan pementasan Pementasan kethoprak “Pleteking Suryo Ndadari” menampilkan puluhan seniman panggung Yogyakarta, pejabar publik serta pejabat Muhammadiyah. Dari pihak seniman panggung Yogyakarta, hadir seniman-seniman penuh pengalaman seperti Marwoto, Den Baguse Ngarso, Sudi “Sronto”, Yulianingsih “Yu Beruk”, Tris G. Sarjono, Yati Pesek, Dari kalangan pejabar publik, selain Herry Zudianto, juga tampil Arif Noor Hartanto (DPRD DIY), Joko Dwianto (Kepala Dinas Kebudayaan DIY), Yulia Rustriningsih (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Yogyakarta) Sutradara kethoprak Nano Asmarandono menerangkan lakon “Pleteking Suryo Ndadari” mengisahkan semangat, visi dan misi dan kepeloporan gerakan Muhammadiyah dalam rangka menyejahterakan, mencerdaskan dan memajukan kehidupan masyarakat. KH Ahmad Dahlan dalam menyebarkan dakwah mengajak anti kebodohan, anti kemiskinan dan ketaatan beragama kepada masyarakat. Tokoh penyebar semangat ini berusaha memberikan ilmu sosial dan agama dengan semangat yang selalu membara meskipun mendapat pertentangan dari berbagai pihak. “Namun dengan keteguhannya untuk menularkan ilmu kepada masyarakat, akhirnya perjuangannya mencapai hasil yang diinginkan,”k.ata Nano Kethoprak “Pleteking Suryo Ndadari” ini berlangsung penuh dengan adegan-adegan humor yang ditampilkan seniman-seniman berpengalaman seperti Marwoto, Yati Pese, Sronto serta Susilo "Den Baguse Ngarso". Namun begitu, tidak hanya hiburan dengan lawakan-lawakan segar khas kethoprak Yogyakarta yang muncul, kritik terhadap Muhammadiyah juga dihadirkan  dihadapan penonton yang juga para peserta muktamar. Kritik itu disampaikan salah satu seniman, Yuningsih “Yu Beruk” yang mengatakan sekolah dan rumah sakit Muhammadiyah memang bagus tapi biaya untuk sekolah dan berobat di tempat-tempat tersebut sangat mahal. Rumah sakite apik, peralatanne yo lengkap, tempate yo resik, neng kok nggon bab biaya kok yo larang eram-eram,” kata Yu Beruk. Penonton pun bertepuk tangan menyetujui. Peristiwa-peristiwa kontemporer lokal Yogyakarta dan nasional juga menjadi bahan lelucon para pemain kethoprak. Tak lupa pula saling ejek antar seniman senior yang begitu slaptik dan rasis hadir begitu luwes dan mengocok perut penonton. Penonton dibuat terpingkal-pingkal ketika mendengar perkataan Herry Zudianto kepada lawan mainnya Yu Beruk dimana mereka berdua berperan sebagai suami istri yang menginginkan istrinya mempunyai tato. “ Urip seprono-seprene kok aku duwe pepingina siji ra kelakon-kelakon?” kata Herry Zudianto. “Opo kui?" Tanya Yu Beruk. “Aku pengin kowe duwe tato,” jawab Herry. Segera saja gelak tawa lebar penonton pecah. (The Real Jogja/joe)

Leave Comment

Name
Email
Comment
Umm captcha not work
Security Code