category » Kisah
In Memoriam Widjaja, Seniman, Sastrawan, Organisatoris Besar Yogyakarta
Jogjanews.com - Paguyuban Sastra Mataram Yogyakarta, untuk edisi ke 14 penyelenggaraan Malam Sastra Malioboro yang diselenggarakan di depan Gedung Agung Yogyakarta menampilkan tema “Tribute to Widjaja”. Siapa dan bagaimana kiprah Widjaja pada dunia kesenian Jogja dan tanah air? Dari buku saku yang dibagikan panitia pada Malam Sastra Malioboro, Minggu (12/2), Jogjanews.com memperoleh keterangan figur Widjaja. Siapa Widjaja? Widjaja adalah seniman multi bakat dengan kemampuan mempraktekkan banyak jenis seni yaitu kethoprak, wayang orang, melukis, teater, film, lawak, ludruk, tari dll. Semasa hidupnya, Widjaja juga bekerja di bidang keseninan Dinas Pdan K DIY.
Widjaja lahir 28 Februari 1927. Anak kedua dari pasangan Raden Wedono Guno Pradonggo dan Rr. Sutinah yang bermukim di Suryatmajan. Kakak Widjaja bernama Hardjomuljo. Adik Widjaja bernama Kirdjomuljo. Widjaja bersama Hardjomuljo dan Kirdjomuljo sama-sama dikarunia bakat istimewa dibidang seni, seperti mewarisi bakat besar Djayeng Kedung (panggilan ayah mereka). Tiga anak Djayeng Kedung berhasil menjadi seniman terkenal dan berkontribusi terhadap kesenian di Yogyakarta dan Indonesia. Kakak Widjaja, Hardjomuljo tercatat sebagai pelawak terkenal dengan nama Atmonadi. Widjaja sendiri menjadi pelaku seni yang serba bisa sekaligus pembina seni yang selalu bersemangat. Si bungsu, Kirdjomuljo adalah penyair, pelukis sekaligus penulis drama berpengaruh yang pernah dimiliki Yogyakarta. Widjaja dianggap memiliki kelebihan daripada Hardjomuldjo dan Kirdjomuldjo. Widjaja berkesenian tidak untuk dirinya sendiri. Ia juga membina banyak kesenian mulai dari kethoprak, wayang orang, keroncong, tari, ludruk, teater hingga film. Hal ini dilakukan Widjaja tidak semata-mata karena dirinya adalah PNS bidang kesenian Kantor Wilayah Pdan K DIY tapi dalam darah Widjaja mengalir kepedulian yang besar terhadap kesenian. Sejarah panjang berkesenian dalam hidupnya sejak umur belasan tahun hingga masa tuanya membuktikan hal itu. Di usia belasan tahun, Widjaja tidak hanya beraktifitas di bidang kesenian tapi juga berjuang membela bangsa dan negara menghadapi Belanda. Pada umur 15 tahun, bakat seni dalam diri Widjaja sudah muncul dengan keberanian dirinya menggelar pentas sandiwara pada pesta perpisahan sekolahnya. Pada waktu itu, Widjaja masih duduk di bangku SD. Widjaja menulis naskah, menjadi pimpinan produksi sutradara sekaligus menjadi pemain pementasan sandiwara itu. Ia bingung darimana keberanian pentas sandiwara itu bisa ia menggelar sandiwara disekolahnya. Dari data praktek kesenian Widjaja yang disimpan Agung B.Wijaya, anak ke 6 Widjaja, ia mengatakan,” Saya tidak tahu, apa yang mendorong saya, sehingga berani bertindak semacam itu (menggelar dan menyutradarai pentas sandiwara). Apakah itu bakat saya? Saya tidak berani menjawab tegas. Yang jelas saya senang begitu saja.” Pada usia 17 tahun, Widjaja masuk menjadi tentara PETA (Pembela Tanah Air). Kemampuan berteater yang dimilikinya digunakan pada masa perjuangan itu. Widjaja bersama anggota Sandiwara Rakyat Indonesia (SRI) melakukan pentas keliling front perjuangan untuk menghibur para pejuang. Widjaja aktif di militer sejak tahun 1994 hingga Belanda meninggalkan Yogyakarta. Di masa pendudukan Belanda di Yogyakarta (1948-1949) Widjaja menjadi pimpinan gerilya rakyat dalam kota. Selain memimpin pasukan bersenjata, Widjaja juga mengajak pasukannya menerbitkan koran stensilan bernama Siaran Gerilya Rakyat dalam Kota. Pada usia 20 tahun, Widjaja sudah bergabung dengan Sandiwara Rakyat Indonesia (SRI) yang dipimpin Usmar Ismail. Bersama SRI, Widjaja mematangkan kemampuan seni peran yang ia miliki. Saat Yogyakarta sudah bebas dari penjajahan Belanda, Widjaja makin intensif bekerja berkesenian. Ia menggerakkan kesenian tradisi, agar seniman makin bersemangat sekaligus bermanfaat bagi masyarakat. Widjaja aktif mendampingi kesenian rakyat.Membimbing, mengarahkan, bahkan mencarikan job untuk seniman lain. Buang, pelawak yang tinggal di Nitiprayan Yogyakarta mengakui “kehebatan” Widjaja soal urusan mencari job ini. Tiap hari beliau ke rumah saya, mengumpulkan teman-teman pelawak, diskusi soal materi, teknik dan lainnya tiap datang selalu membawa nyamikan (makanan). Beliau tidak ingin merepotkan tuan rumah. Paling mengesankan, beliau membuat surat yang dikirim ke instansi dan sekolah-sekolah. Isinya mempromosikan grup lawak Yogyakarta. Surat yang dikirim banyak sekali. Sehari bisa seratus surat. Dan ada hasilnya juga. Kita mendapat undangan mengisi acara dari berbagai daerah. Semasa hidupnya, Widjaja menjadi ketua Persatuan Artis Humor (Pamor) Yogyakarta, menjadi pemimpin lawak ‘Kawan Rakyat’, pimpinan komedi ‘Kalang Kabut’ serta pimpinan Sanggar Lawak Yogyakarta. Di bidang seni film, Widjaja juga memiliki kontribusi besar. Ia menjadi ketua Persatuan Artis Film (Parfi) Yogyakarta selama 31 tahun (1956-1987). Selain bekerja di balik layar, Widjaja juga bermain film. Ada 80 film yang dibintangi Widjaja. Diantaranya adalah Taufan, Krisis, Kafedo, Gathotkaca Lahir, Api di Bukit Menoreh, Siulan Rahasia, Jaka Tarub, Pahlawan Gua Selarong, Warok, Perawan Desa, Ponirah Terpidana serta Sunan Kalijaga. Organisatoris Hebat Kelebihan Widjaja adalah mampu memberi perhatian (ngemong,Jawa) banyak orang. Widjaja menjadi individu yang arif dan bijaksana. Itulah maka Widjaja sering didaulat menjadi ketua berbagai organisasi. Widjaja bijaksana serta mudah akrab. Sangat tepat kalau jadi pimpinan. “Seniman lain belum ada yang berfikir tentang manajemen, Pak Widjaja sudah memikirkan itu,” terang budayawan Bambang JP yang pernah menjadi siswa Widjaja. Karena kemampuan bidang seninya yang istimewa, Widjaja diudang sebagai pengajar tamu di ISI Yogyakarta, Akademi Seni Tari Yogyakarta, IKIP Yogyakarta dan Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo. Padahal secara akademik, Widjaja hanya sekolah hingga kelas 2 Schacel School (SMP). Widjaja adalah seniman sejati. Totalitasnya di kesenian bukan untk mencari uang. Murni untuk kesenian karena kesenian bukan sumber penghasilan utama. Kalau ada hasil uang dari kesenian, juga dimanfaatkan untuk kesenian. “Kalau baru saja dapat uang, ngajak teman-teman makan atau piknik, ke Candi Prambanan misalnya,” terang Muhammad Tahar, mantan aktor dan penulis yang juga sahabat dekat Widjaja. Demikian pula kalau harus tombok (memakai uang sendiri) untuk berkesenian telah menjadi kebiasaan dalam kiprah seorang Widjaja. Ia justru seperti “menikmati” hal itu. Saat pensiun, Wijaja mengandalkan uang pensiun PNS golongan II B serta hasil dari studio foto bernama “Taman Artis” yang ia miliki yang dahulu berada di jalan Bantul di daerah Kweni. Widjaja adalah sosok yang sangat optimis dalam segala hal. Ia juga motivator handal. Tak hanya teman-teman seniman. Tapi juga untuk keluarganya. Bagi Wisnu Wardhana, putra sulung Widjaja, bapaknya itu adalah guru sekaligus teman. Memiliki disiplin tingg. Namun dibalik sikap seperti itu, Widjaja sangat humoris. Dalam setiap pertemuan keluarga selalu menghadirkan kesegaran suasana.Dalam mendidik anak, Widjaja selalu dengan kasih sayang. “Anak-anaknya diarahkan sesuai dengan keinginan hati si anak. Apa yang menjadi pilihan hidup anak-anaknya sekarang adalah atas didikan dan arahan bapak,” terang Wisnu Wardhana. Pernikahan Widjaja dengan Siti Zaenah mendapatkan karunia sembilan anak yaitu Wisnu Wardhana, L . Tisa Kristiawan, Laksmi Eva Wardhani, Ida Indira Sari, Rina Ermawati (alm), Agung B. Widjaja, Bagus Cindewangi, Barnas Bayu Tantular, serta Dyah Perwita Sari. Anak-anak Widjaja yang mewarisi bakat seni adalah Agung B.Wijaya (teater), Bagus Cindewangi (lukis),. Para cucu yang mewarisi bakat seni Widjaja adalah Wisnu Wardhana yang menjadi anggota kuripasai dan Different Color Band serta Omenk (anak dari Ida Indira Sari) seorang drummer Capucino. Widjaja uga mewarisi bakat olahraga kepada anak dan cucunya. Anak ke-8 Widjaja, Barnas Bayu Tantular tercatat sebagai pelatih dan wasit catur nasional. Anak Barnas, Bintang Lazuardi, masuk ke 13 besar pecatur dunia usia 15 tahun setelah tampil dalam kejuaraan dunia catur di Turki tahun 2010. Widjaja meninggal 8 Desember 2000. Ia pergi tak hanya meninggalkan kenangan dan kebanggaan tapi juga mewariskan bertumpuk manuskrip berharga mengenai kesenian bahkan olahraga. Bapak selalu menulis dan yang ditulis bisa apa saja, bukan hanBarnas Bayu Tantular tercatat sebagai pelatih dan wasit catur nasional. Anak Barnas, Bintang Lazuardi, masuk ke 13 besar pecatur dunia usia 15 tahun setelah tampil dalam kejuaraan dunia catur di Turki tahun 2010. Widjaja meninggal 8 Desember 2000. Ia pergi tak hanya meninggalkan kenangan dan kebanggaan tapi juga mewariskan bertumpuk manuskrip berharga mengenai kesenian bahkan olahraga.” Bapak selalu menulis dan yang ditulis bisa apa saja, bukan hanya kesenian,” terang Agung B.Wijaya. Manuskrip itu antara lain tulisan Kreatifitas dalam Teater Rakyat, Menggairahkan Pembinaan Kesenian Rakyat. Teknik Penyutradaraan Kethoprak, Tuntunan Praktis Kethoprak,Pelawak Tunggal. Atas saran teman-teman seniman, pihak keluarga Widjaja akan membukukan manuskrip tersebut. Seperti lirik lagu Gloryto Brave milik band Hammerfall, Nothing on earth stay forever, but none of your deeds were in vain... Apa yang dilakukan Widjaja dalam berkesenian, memikirkan dan membina seni tidak sia-sia. Berbagai penghargaan seni diperoleh Widjaja. Hidup adalah perjuangan. Tak mau berjuang adalah kematian. Itulah kredo abadi seorang Widjaja. (joe)









