category » Biennale Jogja
Hilda Wirantana dan Casster Juarai Lomba Kostum Lawa Kusa Biennale Jogja XI
di baca :
216 kali
|
Date 10 January
Fitriasih Pudyo Admaningrum meraih dua juara sekaligus dalam Lomba Kostum Lawa Kusa Biennale Jogja XI-2011 yang diumumkan dalam Penutupan Biennale Jogja XI-2011, Minggu (8/1) di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.
Di kategori dewasa Lomba Kostum Lawa Kusa, Fitriasih Pudyo Admaningrum meraih juara dua dengan kostum bunga matahari dari plastik bekas kemasan mintah goreng. Sementara dengan memakai kostum bunga mawar putih, Fitriasih Pudyo Admaningrum juga meraih juara dua kategori anak-anak.
Peraih juara I Lomba Kostum Lawa Kusa kategori dewasa adalah Hilda Wirantana yang menciptakan kostum bunga besar berwarna perak dari ember plastik bekas serta plastik kemasan makanan yang dibalik.
Juara ketiga diraih dua orang pemenang yaitu Nu Genz dengan kostum macan loreng serta Hangga UK HN dengan kostum burung merak.
Hilda Wirantana mendapat hadiah berupa tabungan dari BNI Taplus sebesar Rp 800 ribu. Fitriasih Pudyo Admaningrum memperoleh tabungan Rp 500 ribu sedang Nu Genz serta Hangga UKHN sama-sama memperoleh tabungan sebesar Rp300 ribu. Ke empat juara ini juga memperoleh trophy penghargaan dari Dinas Pariwisata Provinsi DIY.
Sementara peraih juara I Lomba Kostum Lawa Kusa kategori anak-anak adalah Casster dengan kostum bunga menggunakan bahan tutup makanan (tudung saji) bekas. Casster memperoleh uang tabungan BNI Taplus sebesar Rp 800 ribu. Sedang Fitriasih Pudyo Admaningrum sebagai juara II meraih tabungan sebesar Rp 500 ribu. Casster dan Fitriasih juga memperoleh trophy dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Para peserta Lomba Kostum Lawa Kusa telah memamerkan kostum ciptaannya pada Pawai Kostum Lawa Kusa, Minggu (2/1). Para peserta Lomba Kostum Lawa Kusa memerlukan waktu persiapan selama dua minggu hingga satu bulan untuk membuat kostum Lawa Kusa dari bahan plastik bekas.
“Saya harus mengumpulkan kemasan plastik bekas makanan sampai ke sekolah dekat rumah,” terang Hilda Wirananta, pemenang pertama Lomba Kostum Lawa Kusa kategori dewasa.
Lawa Kusa adalah cerita mengenai anak kembar Rama dan Sinta yang dibesarkan Empu Walmiki. Di kisahkan dalam keadaan terlunta-luta karena diusir Rama, Sinta meninggal dunia ketika melahirkan Lawa Kusa.
Dalam asuhan Empu Walmiki, Lawa Kusa si anak yatim, tumbuh menjadi pemuda tampan, pintar sastra serta mandiri. Memasuki usia dewasa, Lawa Kusa berniat mencari ayah mereka, Rama. Dalam perjalanan dari Padepokan Empu Walmiki menuju negara Ayodya, Lawa dan Kusa menempuh perjalanan sembari mendongeng soal Rama dan Sinta.
Kehadiran cerita Lawa Kusa menghadirkan keterkaitan dengan penyelenggaraan Biennale Jogja XI-Euator #1 yang bertajuk Shadow Lines: Indonesia Meets India. Teks mengenai Lawa dan Kusa, oleh penyelenggara Biennale Jogja XI-2011 dilihat sebagai wakil teks tandingan, teks yang tidak populer yang begitu lama harus menandingi teks yang sudah mapan.
Demikian halnya dengan agama dengan institusinya yang selalu memperebutkan posisi versi utama. Versi-versi Ramayana seperti kisah Lawa Kusa menggambarkan proses tawar menawar yang a lot dan penuh kekerasan.
“Biennale Jogja XI ingin mengajak masyarakat Jogja secara luas, terlibat dengan mengalami persilangan budaya antara Indonesia dan India dengan mengkreasi ulang Ramayana. Selain itu juga mengajak masyarakat untuk aktif membaca kembali tradisi,” terang Joned Suryatmoko, Direktur Artistik Festival Equator Biennale Jogja XI. (Jogjanews.com/joe)









