category » Seni Rupa

Hasmi Tentang Komik Indonesia Zaman Dulu dan Sekarang

di baca : 434 kali | Date 9 June
Hasmi Tentang Komik Indonesia Zaman Dulu dan Sekarang

Related Post :

" Caption: Hasmi saat membuka pameran Pameran Komik Horor di KKF Yogyakarta, Sabtu (8/6).
"

Kontributor : Sabbatiansyah Aji

Jogjanews.com - Komik Indonesia terus mengalami perkembangan. Dalam setiap zamannya, selalu mengadirkan genre yang menjadi ikon pada masanya. Menurut Harya Suraminata, komikus senior Indonesia, saat ini komik Indonesia memasuki genre horor.

 

“Jadi yang dikatakan komik horor di sini dapat dikatakan benar-benar horor. Horor masih sering diartikan setan, padahal, horor sebenarnya berarti menakutkan. Penampilan fisik dari goresannya harus terlihat menyeramkan,” jelas komikus yang biasa dipanggil Hasmi saat ditemui di pembukaan Pameran Komik Horor di Kedai Kebun Forum (KKF) Yogyakarta, Sabtu (8/6).

 

Menurut Hasmi, komik Indonesia dapat kembali bangkit. Bisa dikatakan komik Jogja sedang menggeliat. Tapi ia inginnya komik menggeliat dari Sabang sampai Merauke. Komik dapat menggeliat jika media massa, terutama koran, dapat memberikan ruang komik strip yang berkala. Niscaya berbagai macam genre dapat muncul.

 

Hasmi kemudian menyebut pelopor komik Indonesia dari jaman ke jaman. Pelopor komik adalah R. A. Kosasih pada tahun 50’an, kemudian tahun 60’an pindah ke Sumatra dengan era dari Bachtiar. Pertengahan 60’an bergenre kisah remaja dengan ikonnya Yaminta Raga, dilanjutkan dengan Ganes dengan genre silat.

 

Pada tahun 70’an dilanjutkan dengan genre superhero yang salah satunya dipelopori oleh dirinya. “Ketika saya buat Gundala pun saya campur dengan cerita horor. Waktu itu dicap komik terburuk dan diusulkan untuk dibredel, namun, Goenawan Mohammad membela,” cerita Hasmi.

 

Hasmi mengungkapkan zaman sekarang, banyak komikus yang terpengaruh dengan mazhab komik tertentu. Banyak dari mereka yang mengikuti gaya DC, Marvel atau manga Jepang. Meskipun pada jamannya sudah banyak komik luar, diakui Hasmi, lebih banyak komikus yang tetap menggunakan gaya mereka sendiri.

 

“Itu tidak apa-apa. Namun, ada yang saya sayangkan biar lebih laku terus namanya diubah seperti Jepang. Kalau zaman saya malah bangga menggunakan nama sendiri,” keluh Hasmi.

 

“Zaman sekarang lebih kreatif dalam penciptaan tokoh. Kalau zaman saya banyak yang terpengaruh dari tokoh luar. Seperti saya terpengaruh dari Flash, Sembrani terpengaruh Cyclops, Laba-laba Merah dari Spiderman,” jelas Hasmi.

Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code