category » Budaya

Fragmen Golek Menak "Bedhahing Negara Mukadam, Hadirkan Bahasa Jawa Bagongan

di baca : 1069 kali | Date 30 November

Related Post :

Salah satu adegan dalam fragmen Golek Menak yang dimainkan penari dari Yayasan Siswa Among Beksa, Sabtu (27/11) di Ndalem Kaneman, Kadipaten Kulon, Kraton, Yogyakarta.

Hari pertama pergelaran Drama Tari Tradisi Yogyakarta yang diisi dengan kegiatan Gelar Seni Klasik Gaya Yogyakarta, Sabtu (27/11) bertempat di Ndalem Kaneman Yogyakarta dihadiri puluhan bahkan ratusan penonton dari segala usia. Mereka memadati tempat duduk  yang berada di samping kanan dan kiri pendopo Ndalem Kaneman, Kadipaten Kulon, Kraton, Kota Yogyakarta yang telah dipersiapkan panitia. Hari pertama ditampilkan pementasan Fragmen Golek Menak berjudul Bedhahing Negara Mukadam yang dipersembahkan oleh 40 penari anggota Yayasan Siswo Among Beksa yang diasuh KRT Pujaningrat. Menurut KRT Pujaningrat, fragmen (drama) Golek Menak ini diciptakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX tahun 1940.  Fragmen Golek Menak ini berasal dari tari Golek yang diambil dari serat Menak karangan Yoso Dipuro I. Pementasan ini menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Jawa biasa dan Jawa Bagongan. “Bahasa Jawa Bagongan itu bahasa Jawa yang digunakan di kedhaton (kraton),” kata tokoh tari yang sering dipanggil Romo Dinu ini. Fragmen Golek Menak ini berlangsung kurang lebih 1,5 jam. Pada pementasan fragmen Golek Menak yang disutradarai KRT Wiraningrat, semua penari menggunakan busana pentas Langendriyan berlengan panjang. Asesoris yang digunakan antara lain penari putri menggunakan jungkat, cunduk penthol. Sementara para penari putra memakai keris. “Asesoris yang lain semua hampir sama,” kata Romo Dinu. Romo Dinu menerangkan selama pementasan fragmen Golek Menak ini menampilkan lima gending sekaligus yaitu Hoyong-Hoyong, Sewu, Giwang Sekar, Yau-Yau dan Doler. “Kita siapkan gendhing yang mempunyai banyak variasi, disesuaikan dengan gerak tariannya,” ujar penulis naskah pementasan ini. Pangeran Mukaji Kisah Bedhahing Negara Mukadam (takluknya Negara Mukadam) yang menjadi judul dalam fragmen Golek Menak ini menceritakan Pangeran Mukaji menerima kedatangan Pangeran Nursewan dan Patih Bestak di Mukadam. Ke dua tamu ini bermaksud meminta pertolongan membunuh Wong Agung Jayengrono. Pangeran Mukaji juga kedatangan Dewi Widanenggar dari kerajaan Tartaripura yang mencari pembunuh kakaknya Dewi Adaninggar. Atas tipu daya Patih Bestak akhirnya Pangeran Mukaji dan Dewi Widaninggar mau bekerjasama membunuh Wong Agung Jayengrana. Di Pasanggrahan Tambakbaya Wong Agung Jayengrana bersama Adipati Umarmaya kedatangan Dewi Widaninggar,Dewi Windaningsih dan Dewi Widaningrum untuk menuntut balas dendam kepada keturunan dewi Kelaswara yaitu Raden Suwangsa. Akhirnya terjadi perang antara Dewi Widaningsih dan Dewi Rengganis. Dewi Rengganis kalah dan pergi mencari pertolongan kepada Dewi Kuroisin. Pangeran Mukaji bersama Dewi Adaninggar memimpin pasukan (wadya bala) menuju Puserbumi. Peperangan terjadi antara negara Mukadam Tartaripura dengan pasukan Kuparman, atas bantuan Dewi Kuraisin. Akhirnya negara Mukadam bisa dikalahkan dan Pangeran Mukaji di-islam-kan oleh Wong Agung Jayengrana. “Pesan pentingnya adalah keinginan membalas dendam akan berakibat pada diri sendiri,” kata Romo Dinu mengenai pesan dari cerita fragmen Golek Menak Bedhahing Negara Mukadam ini. Keinginan membalas dendam bukan hal yang baik karena membuat hati akan tertutup. Manusia seharusnya mengedepankan kejujuran dan kearifan lokal. “Menutup hati itu tidak baik, jika manusia memiliki jiwa yang baik pasti akan menang dalam kondisi apapun,” terang Romo Dinu. (Jogjanews.com/joe)

Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code