category » Tari
Dialog Barat dan Timur Dalam Ghost Track
Kontributor: Tryas
Jogjanews.com- Liukan dinamis delapan penari dari berbagai belahan dunia membius ratusan penonton di Auditorium taman Budaya Yogyakarta (TBY) malam 20/2 Kemarin. Karya Ghost Track garapan koreografer Andrea Leine dan Harijono Roebana itu sukses meramu gerak tari tradisional Jawa kedalam pertunjukan tari kontemporer khas barat.
Walaupun memasang kata ‘hantu’ dalam judulnya, tarian berdurasi sekitar 70 menit itu sama sekali tidak menampilkan kisah seram. Bahkan gagasan “Tari tanpa cerita” justru yang menjadi ide awal penciptaan karya.
Seniman Belanda Harijono Roebana mengatakan dalam karya yang digagas sejak 2009 itu ia dan Leine ingin menyajikan ide dekonstruktif dalam tari tradisi. Gerak tarian Jawa yang biasanya erat dengan makna dan arti dimunculkan dengan tanpa bersandar pada keduanya. Gagasan itu membuat gerak penari terlihat lepas dan dinamis sehingga ekplorasi ruang panggung terlihat maksimal.
“Kami sengaja tidak menampilkan cerita dan hanya gerak tari murni hasil perpaduan barat dan timur. Disini saya tertarik mengekplorasi kelenturan tubuh dan gerakan bebas,” ujar seniman yang merupakan warga keturunan Indonesia itu.
Salahsatu penari yang terlibat di Ghost Track Boby Ari Setiawan mengaku tarian tanpa cerita memang cukup asing dalam tari tradisi Jawa. Bagi lulusan ISI Surakarta itu, setiap gerak tarian Jawa memang erat dengan makna dan arti. Sehingga pada awalnya ia dan dua orang penari Indonesia lainnya, Sandhidea Cahyo dan Agus Margiyanto harus beradaptasi dengan konsep itu.
Selain itu aliran gerak tari yang mengalir dan berpindah-pindah juga bertolak belakang dengan kecenderungan tari Jawa yang kerap lebih putus-putus dan tegas dan banyak berada di satu tempat. “Kami bertiga yang sudah terbiasa dengan tari jawa awalnya agak tertantang untuk melakukan gerakan yang mengalir serta swing arm yang benar-benar bebas. Bahkan sampai mencoba ber ulang-ulang,” ujar dia
Meski terkesan sangat kontemporer, koreografi yang sebelumnya telah dipentaskan di Solo, Jakarta dan Bandung itu masih menghadirkan gerak dan pose yang identik dengan tari jawa. Gerak cakil dan berbagai pose khas tari jawa dilakukan dengan baik oleh 5 penari Belanda bahkan dengan detail kelentikan jari yang berusaha mirip dengan pakemnya.
“Sulit sekali meniru gerakan tari Jawa apalagi ketika melihat kelentikan geraknya. Itu jadi tantangan besar buat kami,” ujar Reout Guez salah satu penari LeineRoebana. Penari kelahiran Perancis itu mengaku sejak tahun lalu telah melakukan latihan dengan intensif.
Sehingga gerakan tari yang telah di tampilkan keliling Belanda itu telah dihapalnya dengan baik. “Penampilan kali ini cukup matang. Karena sebelumnya telah dimainkan di Salihar (Jakarta,red) Solo dan Bandung. Dalam waktu dekat akan dimainkan di Semarang, Surabaya dan Erasmus Huis Jakarta,”tambah Reout.
Disegi sajian musik, composer Iwan Gunawan menghadirkan komposisi gamelan kontemporer dengan bunyi-bunyi distorsi untuk membangun kesan mistis. Beberapa tembang jawa dan Sunda juga sempat diperdengarkan di tengah pertunjukan sehingga membangun kesan penuh perenungan dan berkelindan dengan gerak penari.








