category » Panggung
Bagaimana Pentas Opera Gamelan Drama "Kembali ke Asal" Dipentaskan Lumbung Artema?
di baca :
172 kali
|
Date 27 October
Kelompok musik kontemporer, Lumbung Artema akan bersiap menggelar pertunjukan terbesar mereka setelah berganti nama dari Teater Tema dari SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan (IP) Yogyakarta sejak 5 Januari 2010. Pada Minggu (30/10), Lumbung Artema akan menyelenggarakan pementasan opera gamelan drama berjudul “Kembali ke Asal” di Gedung Societiet Taman Budaya Yogyakarta. Pementasan opera gamelan drama berjudul “Kembali ke Asal” merupakan pementasan kolaborasi antara seni teater, seni pewayangan, seni tari, seni sastra (macapat).
Lumbung Artema adalah sebuah komunitas seni yang terlahir pada tanggal 5 Januari 2010. Lumbung Artema dibentuk oleh anak – anak muda yang dulu pernah menempuh pendidikan diperguruan Tamansiswa dan tergabung dalam ekstrakulikuler sekolah ( Teater Tema ). Sutradara pementasan “Kembali ke Asal” Windhi Yuniar menjelaskan pementasan akan berlangsung dalam durasi 1,5 jam dan terbagi dalam empat babak/adegan. Pementasan “Kembali ke Asal” akan melibatkan beberapa kelompok teater seperti Teater Pena Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Teater Teplok, Teater TKT STIE YKPN juga beberapa individu dari SMKI, SMM dan UNY. Adegan pertama adalah pembukan dibarengi dengan narasi dilanjutkan musik pembuka langsung masuk babak I. Babak I ini menghadirkan sulih suara punakawan, Bagong, Semar Petruk dan Gareng dengan latar belajang suasana pagi hari di rumah. Setelah itu dilanjutkan adegan Arjuna dan Srikandi babak III diawali tari ritual yang dibawakan enam penari yang datang dari arah penonton menuju panggung. Setelah tari ritual selesai, ada adegan Arjuna memotong rambut kuncung Semar setelah itu muncul suara yang nembang macapat. Sekelumit alur pementasan yang dijelaskan Windhi Yuniar diatas adalah kolaborasi pementasan dengan konsep teater dan semi kethoprak yang hadir dalam tokoh punokawan seperti Petruk, Bagong, Gareng dan figur pemuda. Konsep wayang dalam pementasan “Kembali ke Asal” ini muncul dalam tokoh wayang seperti Semar, Srikandi , Arjuna , Narada dan Batara Guru. Dalam pementasan ini menggunakan wayang purwa/klasik tapi dalam penggarapannya dikerjakan secara teater atau kontemporer. Pementasan “Kembali ke Asal” juga menampilkan bentuk seni tari yang dibawakan oleh enam orang penari, siswa kelas I SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan (anggota teater Tema). Tari ritual yang dibawakan enam penari ini akan hadir pada babak ketiga. Konsep macapat dalam pementasan”Kembali ke Asal akan ditampilkan menggunakan bahasa Indonesia dan akan dimunculkan pada adegan ke-3 dan ke-7. Sementara konsep musik dalam pementasan ini akan menghadirkan kolaborasi musik tradisional (gamelan) dan modern (drum, bass, gitar dan keyboard). Alat Gamelan yang digunakan yaitu laras pelog ( saron , demung , boning barung , bonang penerus , peking , gambang , siter , rebab , kendang Jawa , kendang Sunda ). Musik digarap kontemporer dan klasik sesuai adegan/babak. Penggarapan musik mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengiring/ilustrasi setiap babak / adegan dan sebagai musik yang digarap untuk performance musik tunggal. Konsep panggung pementasan “Kembali ke Asal” dibagi dalam tiga bagian yaitu bagian belakang, tengah dan depan. Bagian belakang akan dipasang kelir wayang yang berukuran 4 meter untuk pertunjukkan wayang pada babak / adegan ke-2 , ke-3 , ke-4 , ke-5 serta ke-7 dan kanan kiri kelir wayang akan dipasang kain putih untuk permainan effect lampu. Bagian tengah akan digunakan untuk tari pada babak ke-3 dan teater pada babak ke-4. Sementara panggung bagian depan akan digunakan untuk pemain music selama pementasan berlangsung. Windhi Yuniar menerangkan, tujuan pementasan “Kembali Ke Asal” ini adalah untuk memberi hiburan kepada masyarakat. Selain itu pihak Lumbung Artema mencoba untuk melihat bagaimana respon penonton saat menyaksikan pementasan kolaborasi antara beberapa seni. “Tujuan untuk publik, menonton. Kita menghibur lalu mencoba belajar, kami sendiri menawarkan apakah pertunjukan kita ini baru atau tidak untuk penonton,” ujar Windhi saat ditemui ketika bersiap melakukan latihan di rumdin Walikota Yogyakarta, Rabu (26/10). (Jogjanews.com/joe)









