category » Panggung
Angkat Aset Budaya Melalui Jogja Joged Lirik Lurik
Reporter: Joe
Jogjanews.com - Sekitar 1500 pecinta senam mengikuti Line Dance on the street di Kawasan Titik Nol KM Yogyakarta Minggu (19/2). Kegiatan senam massal ini diselenggarakan dalam rangkaian Festival Line Dance 2012 di Yogyakarta.
Line Dance on the Street yang diselenggarakan The Universal Lince Dance (ULD) mengusung tema “ Jogja Joged Lirik Lurik”. The Universal Line Dance
Kegiatan senam massal yang dimulai pukul 06.00 WIB pagi ini dipandu tiga instruktur senam dari The Iniversal Line Dance dengan menampilkan beberapa korografi gerak senam baru yang diciptakan Aya Widagdo.
The Universal Line Dance menampilkan gerakan-gerakan senam yang gerakan dasarnya berasal dari gerak senam poco-poco serta gerak tari Sajojo. Beberapa koreografi senam baru ini ditampilkan melalui beberapa lagu mulai dari lagu berirama dangdut, dansa, dolanan dan hip hop mulai dari lagu Cublak-Cublak Suweng,Tamasya, hingga Jogja Istimewa milik Jogja Hip Hop Foundation.
Para peserta Line Dance on the Street ini tidak hanya berasal dari DIY tapi juga luar DIY seperti Solo, Klaten, Sedayu serta anggota The Universal Line Dance daerah Palembang, Lampung, Jakarta dan Jawa Timur.
Hampir semua peserta Line Dance on the Street ini memakai kain lurik yang digunakan untuk menutup kaos senam yang mereka pakai. Beberapa kelompok peserta menggunakan kain lurik dalam beberapa warna. Ada lurik dengan warna orange, kuning, hijau, coklat serta lurik dan warna-warna cerah lainnya.
Menurut Pembina The Universal Line Dance Indonesia, Triesnawati Jero Wacik, penggunaan kain lurik dalam acara Line Dance on the Street ini adalah sebagai usaha untuk menunjukkan kepada publik bahwa keberadaan Universal Line Dance Indonesia juga sangat mencintai budaya Indonesia.
“Kita juga bisa mengangkat aset budaya menjadi lebih besar lagi,” terang Triesna Jero Wacik seusai ikut senam.
Triesna Jero Wacik menambahkan, penggunaan kain lurik ini sekaligus sebagai membantu kampanye kota Yogyakarta yang sedang mengangkat keberadaan kain lurik untuk kepentingan pariwisata.
“ Kedepan, kita akan susul kegiatan seperti ini di daerah lain dengan menampilkan ciri khas budaya dari daerah tersebut,” ujar Triesna Jero Wacik.









