category » Budaya

300 Pecinta Budaya Kejawen Ikuti Kirab Pusaka Golong Gilig Kawulo Gusti

di baca : 1577 kali | Date 12 February
300 Pecinta Budaya Kejawen Ikuti Kirab Pusaka Golong Gilig Kawulo Gusti

Related Post :

Jogjanews.com - Sekitar 300 pandemen (pecinta)  budaya kejawen Minggu (12/2) pagi ini mulai pukul 08.00 WIB mengikuti Mataram Cultural Heritage Touring dengan tajuk “Kirab Pusaka Manunggaling Kawulo Gusti”. Para pandemen budaya kejawen yang mengikuti Mataram Cultural Heritage Touring ini antara lain Paguyuban Gerakan Semesta Tunggal Mataram, Gerakan Fajar Nusantara, Barisan Diponegoro, Kelompok Putra Putri Debus Ki Yuda serta Barisan Pareanom, pesantren Bayu Mataram. Mereka dikoordinasi oleh Forum Komunikasi Budaya Mataram Nusantara.

Tiga pusaka berupa payung (songsong), keris dan tombak akan dikirab para peserta Mataram Cultural Heritage Touring dengan menempuh jarak kirab 222 kilometer diawali dari pelatawan Sewandanan Puro Pakualaman dan selesai di Pagelaran Kraton Yogyakarta. Diperkirakan kirab akan selesai hingga Minggu malam. Kirab Mataram Cultural Heritage Touring dibagi dalam beberapa etapi  dimulai dari Pura Pakualaman-Nangsri-Girikerto-Sleman-Sodo Paliyan-Gunungkidul-Parangkusuma-Parangtritis-Brosot-Kulonprogo-Ambarketawang-Kraton Yogyakarta. Etape pertama dimulai pukul 08.00 WIB dari Puro Paku Alaman menuju Sendang Panguripan Nangsri melewati jalan Sultan Agung, P.Senapati, Letjen Suprapto, Tentara Pelajar, Jalan Magelang, Jombor, Gereja Katolik Somo Hitam. Etape kedua (pukul 09.30) dari Sendang Panguripan Nangsri menuju Makam Ki Ageng Giring melalui Dusun Candi Purba Binangun-Jalan Palagan Tentara Pelajar-Ring road utara Yogyakarta-Jembatan Janti-Piyungan-Patuk-Alun-Alun Wonosari-Jalan Veteran-Jalan Ki Ageng Giring. Etape ketiga pukul 12.45 dari Makam Ki Ageng Giring finish di Pantai Parangkusumo dengan melewati SDNegeri Mulusan-Kawasan Suaka Marga Satwa Paliyan-Pertigaan Trueo-Polsek Saptosari—Puskesmas Panggang II-SDN Karang Tengah-Pantai Parang Tritis. Etape empat dari Pantai Parangkusumo pukul 14.45 dan selesai di jembatan Srandakan dengan melewati jembatan Kretek-Patalan-Jalan Sultan Agung-Palbapang-Jln.Senopati. Etape lima dari jembatan Srandakan menuju Pesanggrahan Ambar Ketawang melewati jalan raya Brosot-Traffig light Galur-Sentolo-Bakso Kribo-jalan utama ke Yogyakarta-Sentolo-Sedayu-Depok. Etape enam dari Pesanggrahan Ambar Ketawang menuju Pagelaran Kraton Yogyakarta melewati Tugu Gampingan-Jalan RE Marta Dinata-Jalan Wirobrajan-Jalan KH. Ahmad Dahlan-Kantor Pos Besar-Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta. Menurut Sugeng Santoso, ada dua tokoh yang dipakai sebagai contoh perilaku utama dalam kirab yaitu Pangeran Diponegoro danPangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I. “Kedua tokoh itu mampu mengukir sejarah perjuangan pada massanya, tahu benar persoalan yang dihadapi negaranya, memahami siapa dirinya serta tahu apa yang harus dilakukan utnuk mencari solusi atas persoalan bangsa,” terang Sugeng Santoso. Itulah maka K Pusaka Manungaling Kawulo Gusti atau kirab pusaka golong gilig kawulo gusti ini akan melewati Sendang Panguripan Nangsri dan Pesanggrahan Ambarketawang, dua tempat yang ditempai Pangeran Diponegoro dan Sri Sultan Hamengku Buwono I berjuang mempertahankan negara. Sugeng Santosa Gandha Shrigarba menerangkan kirab dimulai dari Puro Paku Alaman karena Puro Paku Alaman yang dipimpin KGPAA Paku Alam IX yang menjadi bagian dari dwi tunggal di negari Ngayogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sendang Panguripan Nangsri di lereng gunung Merapi merupakan tempat Pangeran Diponegoro untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dengan bersatu masyarakat pedesaan dan pegunungan menyerang penjajah Belanda. “Situs Ki Ageng Giring mewakili leluhur (Mataram) lalau dilanjutkkan ke laut selatan di Pantai Parangkusumo kita berdoa disana di Parangcempuri mewakili laut sebagai kehidupan yang tidak pernah berhenti,” terang Sugeng Santoso. Situs Brosot sisi barat sungai progo yang mengalir ke laut sebagai filosofi kehidupan terus menerus tidak menyerah pada rintangan hingga mencapai tujuan hidup. Dari Brosot menuju Ambarketawang dimana dulu Pangeran Mangkubumi menempati tempat tersebut sebagai awal berdirinya Kraton Yogyakarta. Tujuan kirab  pusaka golong gilig kawulo gusti ini bertujuan untuk mengembalikan harmoni kehidupan umat manusia sekarangyang dipadkaan pada degradasi nilai kemanusiaan yang kian memprihatinkan karena menimbulkan jatuh korban jiwa. “ Acara ini lebih dari sekedar mengenai Keistimewaan Yogyakarta tapi lebih dari itu, Yogyakarta adalah benteng kebudayaan Indonesia,” terang Sugeng Santoso. (joe)

Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code