Pameran Tunggal Jumaldi Alfi “Life/Art #101: Never Ending Lesson”, Saat Jumaldi Alfi Sudah Belajar Dan Mulai Matang
September 2nd, 2010 | 15:27

Karya akrilik pada kanvas "Blackboard Series: Fake karya Jumaldi Alfi.
Setelah tidak berpameran di Yogyakarta selama tujuh tahun lamanya, kini Jumaldi Alfi berpameran di tempat seniman kelahiran 37 tahun lalu ini mengenal banyak hal tentang seni rupa. Tajuk pamerannya adalah ” Life/Art # 101: Never Ending Lesson”.
Kurator pameran “ Life/Art #1010: Never Ending Lesson” Enin Supriyanto mengatakan tajuk panjang ini diketengahkan sebagai representasi pemahaman seorang Jumaldi Alfi memanfaatkan pengetahuannya tentang sejarah seni rupa dunia yang ia jadikan bagian dari pengalaman dan proses belajarnya.
Enin menyebut pengamalan adalah guru terbaik yang ditampilkan Jumaldi Alfi sebagai kata kerja dalam tindakan si seniman mengenang dan mengingat. “Hidup yang dijalani dan dialami dari masa lalu hingga hari ini, kini muncul kembali secara acak namun beruntun dalam karya-karyanya,” kata Enin dalam katalog pameran.
“Life/Art #1010: Never Ending Lesson juga menjadi representasi pemahaman terhadap ilmu keseni rupaan yang ia dapatkan dari beberapa seniman Jerman yang sangat berpengaruh terhadap eksistensi keseni rupaan Jumaldi Alfi sendiri. Mereka adalah Anselm Kiefer, Martin Kippenberger, Ed Georg Baselitz.
Itulah uraian yang ditulis penulis pameran “Life/Art #1010: Never Ending Lesson” Karim Raslan. Jumaldi Alfi menurut Karim Raslan, mengagumi tiga seniman besar Jerman itu karena pemikiran dan pertanyaan mereka tentang militerisme Jerman yang bagi seorang Jumaldi Aldi sedalam kisah masa lalu Sumatera Barat yang memerah darah.
Karim Raslan bercerita, saat kuliah di ISI Yogyakarta, Jumaldi Alfi baru paham tentang sejarah berdarah daerah asalnya, Sumatera Barat dari mendengar kisah dan membaca buku. Tentang pembunuhan massal diakhir tahun 50-an hingga 60-an yang menggetarkan hatinya semisal.
“Provinsi tersebut benar-benar diubah menjad ‘lahan pembantaian’ selama lebih dari satu dekade dimulai dari gerakan pemberontakan anti Soekarno atau dikenal dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) hingga perlawanan berdarah terhadap Partai Komunis Indonesia,” ujar Karim Raslan.
Karya papan tulis
Semua pengalaman hidup berseni rupa juga tentang sejarah kedaerahan yang dicerna Jumaldi Alfi ditampilkan melalui karya-karya berbentuk sembilan papan tulis sebagai subyek utama, Di samping itu juga ditampilkan satu instalasi serta satu karya video.
Secara sekilas penonton akan tertipu bila melihat karya-karya yang dipamerkan seniman muda kelahiran Lintau Sumatra Barat ini karena bisa jadi penonton akan berfikir melihat papan tulis yang di isi tulisan saja namun sebenarnya itu adalah lukisan akrilik pada kanvas.
Jumaldi menerangkan ikon paling gampang untuk menampilkan never ending lesson atau belajar tiada henti dipilih ikon paling gampang yaitu papan tulis bukan white board. Pada white board apa yang kita pelajari sudah cepat terhapus dengan cepat
“Never ending lesson. Jadi belajar tiada henti dan ikon paling gampang adalah papan tulis, kenapa idenya papan tulis ngga white board? Apa yang kita dapat ( pada white board) sudah terhapus dengan cepat, tapi kalau papan tulis masih ada jejak sejarah yang bisa kita telusuri, maka ada teks visual mengabur, kita dari masa lalu tidak bisa kita temui tapi kita berasakan ada jejak yang ditinggal, black board itu represent dari itu,” terang Jumaldi Alfi di sela pameran, Rabu (1/9).
“Teks-teks yang muncul pada lukisan papan tulis adalah icon teks yang diucapkan seniman yang mempengaruhiku, mungkin german ekspresionis, teks itu banyak mempengaruhi pola kerja, pikiran, konsep visual yang aku lakukan,” kata Jumaldi menambahkan.
Pilihan artistik yang digunakan Jumaldi Alfi menekankan pada permainan kata-kata yang ambigu dan paradoks. Contohnya ada kata tulisan ‘Fine’ kalau misalnya huruf ‘E’-nya menghilang mengabur menjadi ‘Fin’ dalam bahasa perancis artinya ‘tamat’ padahal artinya ‘bagus’.
“Lalu ‘LIFE’ ternyata ‘ F’ nya hilang menjadi ‘lie’ (maka) ‘kehidupan’ menjadi ‘bohong’. Kaya main-main tapi makna bia berubah karena satu huruf yang tertinggal,” kata seniman yang akan membawa karya-karya itu untuk dipamerkan di Malaysia.
Dalam sebuah karya “Blackboard Series” Jumaldi Alfi menampilkan petikan teks dari seniman yang ia kagumi, Kippenberger berbunyi “dear painter, paint for me/wahai pelukis, melukislah aku”. Ini menurut Karim Raslan adalah telisik pesan lebih jelas ketimbang karya-karya terdahulu Jumaldi Alfi yang banyak melukiskan karya yang padat pengerjaan dan ekspresionis.
Instalasi berjudul “Verjungung” (rejuvenation, renewal) karya Jumaldi Alfi menghadirkan kapal layar yang dinaiki tengkorak manusia yang terbuat dari fiber resin/kapur/kapal kayu nelayan. “Verjungung” adalah representasi praktek pembelajaran yang menurut Jumaldi Alfi adalah proses peremajaan kesadaran dan pemikiran seseorang yang terus diasah.
Tengkorak manusia yang dipasang bukan perkara kematian tapi pertanda adanya suatu kehidupan baru yang sedang berjalan. Kematian adalah persoalan di masa lalu yang memberi sumbangan energi bagi pembaruan daya hidup di masa kini. Itulah keterangan Enin Supriyanto.
Selamat datang pada dunia seni rupa seorang Jumaldi Alfi, dunia seni rupa seorang seniman yang sudah mulai matang secara ekonomi maupun kekaryaan. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, pameran | 331 views
Tags : jumaldi alfi, pameran










