Konser Musik Djaduk Ferianto & Kua Etnika “Nusa Swara”, Bebunyian Nusantara Dalam Repertoir yang Mengagumkan
September 1st, 2010 | 13:29

Interaksi Trie Utami dan penari reog dalam repertoir "Reog" yang ditampilkan dalam Konser Musik Djaduk Ferianto& Kua Etnika "Nusa Swara" di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (31/8).
Setelah cukup lama tidak pentas di rumah sendiri, akhirnya Kua Etnika muncul memberikan tontonan eksklusif untuk penonton Yogyakarta. Mereka hadir dalam Konser Musik Djaduk Ferianto & Kua Etnika bertajuk “Nusa Swara” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (31/8).
Penonton yang berkisar seratus dua ratus memenuhi kursi penonton di concert hall. Bahkan tempat untuk kelas festival yaitu tempat duduk lesehan didekat panggung pementasan nyaris tak ada ruang tersisa untuk tempat duduk. Banyak penonton kelas VIP menggunakan tempat lesehan di kelas festival.
Banyak penonton kelas festival juga yang ‘tidak tahu sopan’ berjalan mencari tempat kosong didepan penonton yang sudah duduk manis. Semua tingkah polah penonton itu hanya satu tujuannya, menyaksikan sedekat mungkin pentas Kua Etnika.
Dan benar saja, perpaduan permainan musik kontemporer dari puluhan alat musik tradisional, modern dari lokal maupun internasional serta humor segar yang dimunculkan setiap jeda memainkan repertoir mampu memuaskan ratusan penonton.
Tepuk tangan dari penonton membahana ruangan setiap kali satu repertoir selesai dimainkan Kua Etnika. Begitu pula suara tawa lepas dari penonton hadir ketika Djaduk Ferianto bercanda dengan lelucon-lelucon segar berbahasa campuran Indonesia-Jawa bersama seluruh anggota Kua Etnika termasuk Trie Utama, penyanyi yang sudah lima tahun ini menjadi penyanyi di Kua Etnika.
Ke-nusantara-an
Konser “Nusa Swara” yang dipentaskan Djaduk Ferianto & Kua Etnika dilakukan sekaligus untuk meluncurkan album terbaru kelompok musik kontemporer yang muncul pertama kali tahun 1995 yang namanya sama dengan tajuk konser ini.
Album ke tujuh Kua Etnika ini tidak berbeda jauh denga album-album sebelumnya yang menyuguhkan kemasan musik kontemporer yang berasal dari begitu banyak bunyi-bunyi yang dihasilkan dari alat musik yang dimiliki nusantara hingga internasional.
Menurut Djaduk Ferianto, “Nusa Swara” adalah upaya kreatif Kua Etnika Yogyakarta untuk kembali menafsir dan memaknai konsep wawasan nusantara. “Nusa Swara” sebagai judul mengacu pada ‘nusa’ sebagai entitas kebangsaan serta ‘swara’ adalah suara yang mencoba membunyikan semangat dari nusantara itu.
“Dengan begitu ia sesungguhnya mengacu atau bermain-main dengan idiom nusantara sebagai wawasan dan kawasan itu,” sebut Djaduk dalam rilis sebelum mementaskan “Nusa Swara” di Gedung Teater Salihara Jakarta, (25/8).
“Kami membikin Tagline kita satu bangsa satu nusa swara bahwa kita berbicara lewat suara, menyatakan ini potret yang terjadi di bangsa ini. ketika ruang geografis makin dekat, komunikasi makin lancar, sulit mengidentifikasi ni orang mana, orang madurakah, aceh, bali kit akan sudah menjadi satusuara ya inilahsatubangsa satusuara tujuannya sama caranya berbeda-beda,” terang Djaduk Ferianto, usai pentas Selasa (31/8) malam.
Kua Etnika mementaskan 12 komposisi yang berasal tidak hanya dari materi album “Nusa Swara” namun juga repertoir yang sudah berada pada album sebelumnya dan repertoir yang belum dimasukkan dalam album baru.
Pementasan dimulai dengan repertoir Tresnaning Tyang dengan suara nyanyian lirih dari Trie Utami. Percakapan bebunyian dari alat musik diatonis dan pentatonis mengalir harmonis dan seperti “berdialog” satu sama lain.
Repertoir Tresnaning Tyang adalah komposisi musik dengan harmoni bunyi saling melengkapi menghadirkan suasana kontemplatif menuju tumbuhnya kesadaran saling menghargai. Gemuruh tepuk tangan memenuhi concert hall begitu repertoir ini selesai dilakukan. Well, pesta musik sudah dimulai.
Repertoir Bromo, Merapi Horek, menyusul berikutnya. Pada repertoir “Merapi Horek”, Sony Suprapto (saron) dan Purwanto (bonang) memainkan alat musik serupa alat musik asli Jepang bernama “rainstick”. “Rain stick” versi Kua Etnika ini dibuat dari bambu yang didalamnya diisi jagung sama kedelai.
“Kita bikin sendiri, kita meng-copy, kalau beli mahal harganya namanya rain stick didalam isinya jagong sama kedelai. Nek tuku larang ra duwe duit gawe dewe. Gawe dewe bambu ketoke keki paku leboni (jagong kedelai),” kata Djaduk menerangkan alat musik rain stick yang cara memainkannya dengan dimiringkan berganti antarsisinya sehingga menghasilkan suara gemericik air menambahk hidup komposisi “Merapi Horak” ini.
Kemudian pada repertoir “Sintren” muncul dengan dimulai memasukkan Trie Utami kedalam kurungan yang biasa dibuat mengurungi ayam. Dari tempat itulah Trie Utami mulai bernyanyi. Setelah kurungan itu dibuka, Trie Utami menggunakan kacamatan hitam dengan bunga yang menggelantung di dua sisi kacamata itu.Trie Utami tetap bernyanyi dengan kacamata ‘aneh’ itu.
Repertoir terakhir sebelum ada tambahan repertoir untuk mengakhiri pementasan, ditampilkan repertoir reog. Pada repertoir ini, dihadirkan dua penari reog untuk ikut mengisi ruang-ruang repertoir yang bisa di isi. Ketika musik dimainkan dan Trie Utami bernyanyi, dua penari menarikan tari reog membuat ruangnya sendiri dengan melakukan improvisasi berkomunikasi dengan Trie Utami yang sedang bernyanyi.
“Ada pola ritme ajeg siapapun boleh masuk disitu ini pola ritme reog dan ada pola ritme yang lebih jazzy gitu ini pola parallel, main bareng,” kata Djaduk menerangkan repertoir reog yang masuk dalam album “Nusa Swara ini.
Begitulah. Ke-nusantara-an dalam musik kontemporer Kua Etnika. Mempesona dan mengagumkan. Dan sebentar lagi mereka segera memetik kesuksesannya. Dua undangan ke Singapura dan Meksiko untuk mementaskan “Nusa Swara” di dua negara tersebut sudah menghampiri Kua Etnika. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, musik | 460 views
Tags : Kua Etnika, musik kontemporer, nusa swara











tulisan ini sangat subjektif. tak selayaknya jurnalis menghakimi fakta dengan istilah ” tidak sopan ” . sopan dan tidak sopan, khan bukan urusan jurnalis.