Pementasan Teater “Ken Arok”, Mengajarkan Sejarah Masa Lalu Dengan Teater (Kontemporer)
August 31st, 2010 | 09:05

Salah satu adegan pementasan teater berjudul "Ken Arok" yang dipentaskan Teater Manuk Klantung (SMA Kolese De Britto) dan Teater Bendhe (SMA Stella Duce I) di Concert Hall TBY, Sabtu (28/8).
Teater Manuk Klantung dari SMA Kolese De Brito Yogyakarta serta Teater Bendhe dari SMA Stella Duce I Yogyakarta kembali melakukan kolaborasi pementasan teater untuk kali kedua setelah yang pertama dilakukan tahun 2009 lalu.
Setelah tahun 2009 menampilkan cerita Sam Pek Eng Tay, maka kolaborasi kali kedua ini mengangkat cerita “Ken Arok”. Mereka menggelar pentas teater ini di Concert Hall TBY, Sabtu (28/8). Meski bentuk acaranya kesenian teater, bukan pensi seperti umumnya diselenggarakan di SMA-SMA, pentas “Ken Arok” berlangsung begitu meriah.
Pentas “Ken Arok” menghadirkan pementasan yang cukup kontemporer. Hal tersebut bisa dilihat pada beberapa hal yang muncul berbeda dalam pementasan ini. Misalnya saja musik pengiring pementasan tidak menggunakan alat musik biasa namun menampilkan kelompok Acapella Mataraman pimpinan Pardiman Joyonegoro.
Selain itu, pementasan “Ken Arok” digarap dengan unsur komedi yang cukup kental baik secara alur penceritaan maupun setting serta properti panggung pementasan. Mereka mengubah setting panggung yang seharusnya sesuai dengan suasana kehidupan masyarakat kerajaan jaman dulu yang sederhana diganti dengan properti suasana jaman sekarang seperti warung berfasilitas hotspot.
“Pentas ini alur ceritanya diadaptasikan dengan keadaan sekarang namun diusahakan untuk tidak keluar konteks cerita,” kata Didik Kristantohadi, sutradara pementasan sehari sebelum pementasan.
Selain dengan set properti yang lebih kekinian, agar cerita ini lebih dekat dengan keseharian pemainnya yang masih remaja, maka pentas “Ken Arok” diupayakan sebagai pementasan mendekati kehidupan jaman sekarang dengan dibuat perpindahan tokoh diatas panggung, dimana kadang pemain menjadi dirinya sendiri tapi kadang pemain juga menjadi tokoh yang diperankannya.
“Hal ini sengaja dilakukan supaya cerita ini bukan cerita di antah berantah namun lebih dekat dengan keseharian pemainnya sehingga siswa bisa melakukan refleksi dengan cerita Ken Arok, bagaimana cara berfikir mereka bisa diambil ari nilai didalam ceritanya,” jelas Didik, guru teater SMA Kolese De Britto ini.
Matinya Tunggul Ametung
Pentas teater “Ken Arok” ini menurut pimpinan produksi pementasan, Omar Adrian sengaja memilih kisah Ken Arok memiliki keberanian untuk mengkritik penguasa sekaligus anak muda yang berani bertanggungjawab pada keputusan yang diambil. Karakter Ken Arok seperti itu yang ingin diperlihatkan kepada penonton terutama anak-anak jaman sekarang yang cenderung menerima begitu saja apa yang masuk dalam hidup mereka namun mereka lupa ada sosok berani seperti Ken Arok.
“Keadaan sekarang sebenarnya menuntut generasi muda harus terus memiliki sifat kritis dan berani tapi bukan berarti nekat,” kata Omar. Untuk itulah para pemain yang pentas diberi ruang eksplorasi naskah dan menghafal skenari yang luas.
Didik Kristantohadi menerangkan alur cerita Ken Arok dijalankan hanya sampai pada terbunuhnya Akuwu Tunggul Ametung oleh Ken Arok. Salah satu adegan komedi yang ditampilkan adalah ketika Tunggul Ametung dan Ken Dedes berjalan-jalan di taman kerajaan. Ken Dedes merasakan ingin buang air kecil.
“Yang mengantarkan Ken Dedes itu Ken Arok. Nah pada saat Ken Dedes itu kencing, Ken Arok dengan nakal melihat betis Ken Dedes. Jaman dulu kalau betis ratu terlihat maka diprediksi akan muncul raja baru,” terang Didik.
Cerita Ken Arok yang membunuh Akuwu (camat jaman sekarang) Tunggul Ametung sehingga menjadi penguasa di Tumapel, menurut Didik adalah tragedi politik pertama di nusantara untuk menggulingkan kekuasaan. Pada waktu-waktu selanjutnya, kisah Ken Arok ini hadir dalam tragedi penggulingan kekuasaan di tanah air seperti jaman tahun 1966 dan juga 1998.
Didik menerangkan sebenarnya masih panjang kisah tentang Ken Arok ini misalnya saja sampai ada lima pembunuhan besar pada jaman Ken Arok namun kita ingin fokus pada terbunuhnya Tunggul Ametung agar penonton mempunyai rasa gelisah ingin mengetahui kisah lengkap Ken Arok.
“Setelah selesai menonton, mereka pulang, penonton diharapkan gelisah ingin mengetahui alur cerita selanjutnya dari sinilah mereka akan menari jawabannya dengan membaca buku atau mencarinya di internet,” kata Didik yang mempersiapkan anak didiknya untuk pentas selama tiga bulan ini.
“Ini berbeda dengan pementasan Sam Pek Eng Tay tahun lalu yang berlangsung sampai selesai kisahnya sehingga setelah itu tidak berbekas ceritanya,” tambah guru sastra SMA Kolese De Britto ini.
Setidaknya upaya untuk mempelajari masa lalu telah dilakukan sebagian generasi muda kita agar mereka tidak lupa pada sejarah masa lalu bangsanya. Itu cukup menyenangkan ditengah gempuran peradaban modern yang tak menyisakan ruang pengingat pada masa lalu. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, teater | 838 views
Tags : ken arok, teater, teater bendhe, teater manuk klantung










