Solo Exhibition “Aku Dan You” Muhammad “Ucup” Yusuf, Bukti 10 Tahun Reformasi Gagal
August 29th, 2010 | 17:04

Lukisan "Goodgaster" karya Muhammad "Ucup" Yusuf".
Sepuluh tahun lebih. Tapi idealisme berkesenian itu tetap tidak berkurang tapi semakin dinamis. Itulah seorang Muhammad “Ucup” Yusuf. Sejak tahun 1998 yang lalu bersama kelompok Taring Padi yang ia dirikan selalu menampilkan penyingkapan tentang kerasnya kenyataan sosial Indonesia.
Sepuluh tahun lalu, bersama Taring Padi, Muhammad Yusuf menciptakan karya seni untuk melawan penindasan negara atas rakyatnya di banyak sektor kehidupan, pertanian, lingkungan dan yang lainnya. Sekarang, tahun 2010, perlawanan Muhammad “Ucup” Yusuf terhadap kesewenang-wenangan negara semakin banyak saja ruangnya mulai dari persoalan korupsi hingga energi nuklir.
Tahun 1999, Taring Padi turun ke lapangan untuk melawan negara dengan berkampanye menolak penggunaan pestisida di Boyolali dan mengulurkan tangan memberikan bantuan pengungsi di Aceh. Tahun 2010, Juni kemarin Taring Padi menggelar lokakarya bersama warga yang menjadi korban letusan gunung lumpur di Porong Jawa Timur sebagai usaha melanjutkan tradisi membangun jaringan kerja antarkomunitas.
Ekspose masa lalu hingga kekinian soal Muhammad Yusuf menjadi penting dimunculkan untuk menjadi bahan menikmati beragam karya seni rupa seniman yang lahir di Lumajang Jawa Timur ini pada pameran tunggalnya yang bertajuk “Aku Dan You” yang dihelat di Tembi Contemporary, Selasa (24/8) hingga Selasa (14/9) mendatang.
Pada pameran tunggal keduanya ini (yang pertama masih berlangsung di Valentine Willie Fine Art, Singapura, 5-29/8) menampilkan 43 karya yang terdiri dari 36 karya lukis, 4 karya drawing, 2 karya cetak cukil (grafis) dan instalasi.
Puluhan karya Muhammad Yusuf tersebut sebagian besar tetap hadir dalam bentuk-bentuk karya seni yang mengkritik ketidakmampuan negara mengayomi rakyatnya dan malah bermesra-mesraan dengan kekuatan kapital global untuk menjadikan rakyat sebagai budak.
Namun Muhammad Yusuf juga menghadirkan karya-karya yang menyejukkan sehingga mengajak orang untuk tetap punya pengharapan bahwa situasi dan kondisi negara ini sesungguhnya tidak sedang menuju kehancuran tapi juga bisa diperbaiki.
10 tahun waktu berjalan, demikian pula umur seorang Muhammad Yusuf, telah membuat nya berkembang menjadi orang yang lebih ‘berisi’ dengan keoptimissannya sebagai seniman yang telah berdamai dengan dirinya sendiri. Perjuangan 10 tahun membela rakyat telah menghasilkan pelajaran: mari memberi rakyat sesuatu yang menyejukkan pula agar rakyat tidak selalu resah selama hidup mereka di negara ini.
Karya-karya Muhammad “Ucup” Yusuf juga Taring Padi itu sendiri menurut Heidi Arbuckle yang dikutif Jason Tedjakusuma, salah satu penulis pameran “Aku Dan You” ini adalah seni kerakyatan yang tidak ditentukan kriteria estetis namun pencarian kesadaran populer dan komitmen ideologis perjuangan rakyat.
Menurut Jason, identifikasi akan seni perlawanan dan perjuangan kaum pekerja masa lalu dan kini diekspresikan dengan tegas dalam karya-karya cukil kayu serta kanvas oleh Muhammad “Ucup” Yusuf. “Ia secara tekun menampilkan tema-tema ketidakadilan disekelilingnya, dari perbedaan kelas serta keserakahan hingga konsumerisme yang merajalela serta degradasi lingkungan,” kata Koresponden majalah TIME di Indonesia ini.
Pahit menggigit
Wang Zineng, penulis pameran “Aku Dan You” lainnya menilai sebagian besar karya seni rupa yang dipamerkan Yusuf terdiri dari lukisan dan penampilan visual repertoir si seniman yang ekstensif juga memamerkan pilihan lukisan yang berbeda ukuran, potensi narasi serta makna lukisan bagi diri senimannya sendiri.
“Karya Yusuf tampak pahit, menggigit dalam observasi dan kritik sosialnya yang terkadang sangat fantastis,” kata Wang yang pengamat seni modern dan kontemporer Asia Tenggara ini.
Karya-karya berukuran sedang antara 41cm x 31cm seperti dalam judul “Absolute Nuclear “ serta Good Gaster” bisa jadi adalah karya-karya fantastis Yusuf seperti yang dimaksud Wang Zineng. “Absolute Nuclear” misalnya adalah imajinasi seorang Yusuf tentang bahaya energi nuklir di masa depan bagi manusia sehingga membuat manusia menjadi berubah bentuk tak karuan dan menakutkan.
Atau pada “Good Gaster” yang menampilkan seorang raja berkepala tabung gas dengan kaki menginjak bara api dari kompor gas dengan empat tangan yang memegang penggorengan, tempat air, pisau daging dan susruk alat penggorengan. Secara fantastis Yusuf menghadirkan dua realitas sekaligus pada fenomena tabung gas: kehidupan dan sekaligus kematian.
Yusuf juga menceburkan dirinya sebagai individu yang ingin memaknai kehadiran dirinya juga kelompoknya pada sebagai suara advokasi sosial yang kuat dan tentu saja berbeda dengan yang lain dengan menyamarkan dirinya menjadi tiga pahlawan Indonesia dalam karya “Penyelewengan sejarah”.
Pada karya tersebut Yusuf menyamar menjadi Pangeran Diponegoro seorang pemimpin spiritual pada pemberontakan anti kolonial yang terjadi antara tahun 1825 hingga 1830. Yusuf juga bereinkarnasi menjadi sosok Soekarno, pemimpin kharismatik yang membawa Indonesia pada kemerdekaan.
Melengkapi tiga sosok pahlawan itu, Yusuf menyamar menjadi sosok mahasiswa dalam karya S. Sudjojono, salah satu seniman modern Indonesia dalam lukisan yang paling dikenalnya “Maka Lahirlah Angkatan 66”. “Samaran-samaran Yusuf menandakan afiliasi Yusuf dengan protes, revolusi, pemberontakan dan kemenangan rakyat,” kata Wang Zineng.
43 karya yang diciptakan Muhammad “Ucup” Yusuf dimaknai Wang Zineng adalah wujud dari kesadaran dan keteguhan visi atas kenyataan dunia sehari-hari yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sebuah hal yang sangat jarang saat ini, tulis Wang. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, pameran | 533 views
Tags : muhammad "ucup" Yusuf, Pameran seni rupa











sedikit ralat mas, untuk poto karya yang ditampilkan di halaman ini judulnya bukan Homeground tapi Goodgaster. semoga menjadi perhatian. salam