Ngamen Puisi Karya Wiji Thukul, Ketika Hendro Plered Ajak Wiji Thukul Jadi Ingatan Publik
August 28th, 2010 | 14:31

Hendro Plered ketika membacakan puisi di Tugu Yogyakarta dalam acara Ngamen Puisi Karya Wiji Thukul, Penyair Rakyat Indonesia", Sabtu (28/8).
Wiji Thukul, aktifis yang juga sastrawan yang hilang sejak 1997 itu muncul di Yogyakarta. Tidak dalam bentuk fisik karena sampai sekarang keberadaan Wiji Thukul masih misterius.Wiji Thukul hadir melalui puisi-puisi perlawanannya terhadap kesewenang-wenangan negara dan pemodal terhadap rakyat kecil.
Seniman Yogyakarta, Hendro Plered memunculkan kembali ingatan orang akan Wiji Thukul, buruh pabrik yang kritis dari Solo itu dengan melakukan acara “Ngamen Puisi Karya Wiji Thukul Penyair Rakyat Indonesia”.
Hendro Plered melakukan ngamen puisi dengan membacakan tidak kurang 20 puisi karya Wiji Thukul dengan cara berjalan dari Tugu menuju Titik Nol Kilometer. Hendro Plered memulai ngamen puisinya dari Tugu dengan membaca puisi Wiji Thukul berjudul “Perjuangan”. Setelah itu Hendro mulai berjalan dari toko ke toko yang ia lewati mulai dari Jalan Mangkubumi hingga Titik Nol Kilometer.
Menurut Hendro Plered ngamen puisi yang ia lakukan ini untuk memperingati hari ulang tahun Wiji Thukul yang ke-47 pada Sabtu ini. Hendro menerangkan masyarakat saat ini tidak tahu kapan kematian Wiji Thukul. Wiji Thukul adalah korban orang hilang di Indonesia.
“(Ngamen puisi) ini juga untuk menyogsong Hari Penghilangan Paksa Internasional yang diperingati setiap 30 Agustus,” kata Hendro Plered sebelum ngamen puisi.
Ia menambahkan acara Ngamen Puisi karya Wiji Thukul ini dilakukan serentak di beberapa kota di Indonesia. Selain di Yogyakarta, menurut Hendro, ngamen puisi juga dilakukan di Jakarta, Surabaya, Semarang dan Jombang.
“Sekarang ini orang sudah lupa siapa Wiji Thukul dan kenapa bisa dilupakan banyak orang,” kata Hendro yang menambahkan Wiji Thukul berjuang melawan penguasa dengan syair-syair sastra yang ia ciptakan.
“Wiji Thukul melakukan proses perjuangan di indonesia dengan menggunakan banyak ha, dengan karya-karya sastra yang ia ciptakan. Juga dengan kemisteriusan keberadaan Wiji Thukul selama ini apakah sudah meninggal kalau sudah meninggal dimana kuburnya tapi kalau belum meninggal dimana Wiji Thukul sekarang,” kata Hendro.
Hendro mengakui dirinya tidak mengetahui mengapa Wiji Thukul hilang hingga saat ini, tapi menurutnya, dari beberapa informasi yang ia baca, Wiji Thukul menghadirkan puisi-puisi provokatif yang sangat menganggu penguasa rezim orde baru.
Tanpa sungkan-sungkan Hendro Plered mengkritik keras aktifis yang dulunya mendapatkan inspiprasi terhadap sosok Wiji Thukul dan puisi-puisinya untuk berdemonstrasi menentang penguasa sekarang malah menjadi staf ahli presiden dan melupakan Wij Thukul.
“Andi Arif itu orangnya. Tidak konsisten dia. Saya ini tetap konsisten,” kata Hendro menyebut aktifis 98 yang sekarang menjadi orang dekat SBY di Istana Negara.
Peristiwa yang menimpa Wiji Thukul menurut Hendro adalah pelajaran bagi pemerintah untuk tidak boleh lagi semena-mena menangkap rakyatnya. Karena siapapun harus dihargai keberadaannya oleh negara.
“Ini juga memberi peringatan kepada masyarakat kita agar tidak menjadi otoriter terhadap anggota masyarakat lain. Itu tidak boleh dilakukan. Kita harus saling menghargai perbedaan agama dan budaya masing-masing,” kata orang Bantul ini.
Hendro Plered menilai Pemerintah sangat lambat menyelesaikan persoalan orang-orang hilang di Indonesia termasuk hilangnya Wiji Thukul. Pemerintah berjalan di tempat dalam mengungkapkan kembali orang-orang yang terbunuh dan hilang di masa lalu.
“Pengungkapan pembunuhan Udin (wartawan Bernas) sudah 14 tahun tidak ada hasil. Pengungkapan kembali orang hilang itu seperti apa? Kasus orang hilang seperti Wiji Thukul siapa yang menghilangkan atau kalau pembunuhan Udin siap yang membunuh?” tanya Hendro Plered.
Puisi “Kucing, Ikan Asin dan Aku”
Memulai pembacaan puisi di Tugu Yogyakarta pukul 10 pagi, Hendro Plered kemudian melanjutkan ngamen puisinya dengan memasuki sebuah toko cat di sisi barat Jalan Mangkubumi. Di toko ini Hendro Membacakan puisi Wiji Thukul berjudul “Kucing, Ikan Asin dan Aku”.
Seekor kucing kurus. Menggondol ikan asin. Laukku untuk siang ini. Aku meloncat. Ku raih pisau.Biar kubacok ia. Biar mampus. Ia tak lari. Tapi Mendongak. Menatapku tajam. Mendadak lunglai tanganku. Aku melihat dirikus sendiri. Lalu kami berbagi. Kuberi ia kepalanya (batal nyawa melayang) Aku hidup. Ia hidup. Kami sama-sama Makan.
“Matur nuwun matur nuwun. Kulo dongakaken karyawane makmur. Juragane makmur,” kata Hendro ketika pemilik toko cat itu memasukkan selembar uang kertas.
Hendro juga masuk ke sebuah toko buku kali ini di sisi timur Jalan Mangkubumi. Ia membacakan puisi Ayolah, warsini.
Warsini!Warsini!
Apa kau sudah pulang kerja Warsini
Apa kamu tak letih seharian berdiri di pabrik
Ini sudah malam warsini
Apa celana dan kutangmu digeledah lagi.
Karena majikanmu curiga kamu membawa bungkusan moto.
“Paling tidak dengan usaha saya ini, saya ingin muncul “Wiji Thukul-Wiji Thukul” lain di Indonesia lagi,” kata Hendro Plered. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, SASTRA | 327 views
Tags : Hendro Plered, ngamen puisi











moga-moga didengar oleh staf khusus presiden yg sudah melupakan thukul..