Pameran Seni Rupa “Identitas&Eksistensi”, Identitas dan Eksistensi Personal Dari Bali-Jepang-Cina-Yogyakarta
August 27th, 2010 | 08:41

Seorang pengunjung dari luar negeri memperhatikan salah satu karya Rio Saren Berjudul "Kisah Dari Negeri Seberang #3"
Tiga seniman muda Bali melakukan pameran bersama-sama di Bentara Budaya Yogyakarta dari 24-32 Agustus 2010 ini. Mereka mengusung tema pameran “Identitas dan Eksistensi. Tiga perupa muda Bali ini masing-masing Rio Saren, Putu Edy Asmara Putra serta Dewa Gede Agung.
Putu Wirata Dwikora, kurator pameran “Identitas dan Eksistensi” menerangkan dirinya membawa tiga perupa muda dari Bali ini bersama-sama berpameran di Yogyakarta dengan memunculkan wacana identitas serta eksistensi tidak dimaksudkan untuk menunjukkan eksistensi perorangan, kelompok atau etnis kedaerahan (Bali) tapi identitas dalam hal ini berada dalam kerangka berfikir yang luas.
“Pameran ini bukan bertujuan menunjukkan eksistensi perorangan, kelompok atau etnis kedaerahan tapi identitas dalam kerangka luas, keragaman, pluralisme dan tidak ada konflik dalam perbedaan itu,” kata Putu Wirata Dwikora.
Pun demikian dengan wacana eksistensi yang menjadi tema pameran tiga perupa muda Bali ini. Menurut Putu Wirata Dwikora, secara ilmu psikologi sebagai puncak tujuan manusia adalah aktualisasi diri. Ia melihat pada posisi inilah seniman selalu ingin mencaiap puncak aktualisasi diri, eksistensi diri masing-masing.
Dapat pula ditambahkan dengan eksistensi, kalau boleh saya mengutip ajaran psikologi tujuan manusia itu kebutuhan makan dan minum dan ada kebutuhan diatasnya lagi dan puncaknya aktualisasi diri. Saya lihat seniman itu pencapaian dirinya puncaknya aktualisasi diri. Eksistensi diri masing-masing,” terang Putu Wirata Dwikora.
“Pesan yang kami bawa tentu diharapkan ada kritik, masukan dari para seniman disini (Yogyakarta) agar supaya mereka lebih matang dan diasah lebih baik lagi,” tambahnya.
Sementara itu, Putu Edy Asmara mengatakan membicarakan masalah identitas adalah persoalan yang terlalu naif pada jaman sekarang tapi yang terjadi kita menjadi tidak lagi peduli terhadap persoalan identitas padahal membicarakan identitas adalah hal yang begitu penting
“Kita memang tidak peduli dengan identitas padahal sebenarnya identitas itu penting sekali. Tanpa berbicara apapunb sebenarnya identitas itu mudah terbaca. Misalnya saya dari Bali hanya berbicara padahal saya ngga bilang dari Bali orang tahu dari saya berbahasa,” kata anak muda berusia 28 tahun ini seraya menambahkan identitas itu yang dirinya dan dua temannya itu ingin sampaikan dengan cara berkarya seni.
Identitas Personal
“Tanpa harus banyak bicara orang sudah membaca karya itu karya orang Bali,” tambah Putu Edy Asmara tentang karya-karya yang dipamerkan dirinya, Rio Saren dan Dewa Agung.
Ada 40 karya seni rupa dua dimensi serta instalasi yang dipamerkan Putu Edy Asmara, Rio Saren dan Dewa Agung Putu Wirata Dwikora mengatakan karya-karya tiga perupa muda ini mengangkat sesuatu yang sederhana.
“Mereka tak berusaha mengidentifikasi problem-problem yang menjadikan mereka nampak heroik. Mereka tak juga mengusung narasi besar dengan pretensi agar mendapat legitimasi sebagai warga seni rupa kontemporer,” terang Putu Wirata dalam katalog pameran.
Rio Saren menerangkan karya-karya yang ia ciptakan adalah hasil dari perjalanan dari Bali menuju negara lain dan lalu singga di Yogyakarta. Rio Saren baru saja ke Jepang untuk mendatangi mertuanya yang orang Jepang dan melihat gaya hidup Jepang yang sangat baru dan sensitif. “Itu secara tidak langsung visual karya saya terpengaruh disana sampai saya kembali ke Bali,” kata anak muda yang belajar melukis secara otodidak ini.
Rio Saren adalah seniman yang konsisten merespon benda-benda bekas seperti besi bekas sepeda, mug atau piring yang pecah, balok kayu yang remuk, dan mengangkat figur-figur yang tanpa pretensi di media bekas tersebut. Inilah hal unik dari seorang Rio Saren, ia menampilkan identitas kediriannya pada kreatifitas bukan pada kekayaan material.
Dengan eksplorasi seperti itu, ia bicara tentang identitas yang belakangan kian kompleks, kompleksitas yang sejalan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, manakala kebudayaan dari berbagai penjuru dunia bisa masuk ke setiap rumah secara personal melalui jaringan televisi, film ataupun internet.
Melalui pecahan piring, mug atau balok kayu, Rio Saren menghadirkan kisah-kisah yang ia dapatkan selama perjalanan di Jepang. Dalam judul “Di Dalam Kereta” misalnya, adalah pengalaman Rio saat menaiki kereta di Jepang. Rio juga menghadirkan lukisan-lukisan berseri tentang sebuah kisah masyarakat Jepang dalam lukisan-lukisan berjudul “ Kisah Dari Negeri Jepang #1 hingga #4”.
Sementara Dewa Gede Agung menampilkan identitas dirinya, selalu tertarik pada gajah, demikian pula pada pameran kali ini, ia tetap menggunakan gajah dan kini ditambah aneka hewan seperti gajah dan burung serta insekta seperti capung, untuk menggambarkan kerinduannya akan harmoni manusia dan alam, yang kini mulai terkikis amat hebat.
Ketertarikkan pada sosok gajah dan hewan-hewan lain oleh Dewa Agung seperti merefleksikan kepandaikan anak muda berusia 25 tahun ini melihat pelajaran dalam agama Hindu di Bali yang menampilkan gambar-gambar hewan sebagai subjek untuk menampilkan harmonisasi alam dan lingkungan.
Subyek gajah dan hewan lain dalam lukisan Dewa Agung tampil unik serta menarik meski agak susah dikatakan sebagai karya-karya karikatural mengingat latar belakang pemikiran Dewa Agung tentang kehadiran hewan-hewan tersebut, bahwa hewan adalah simbol harmonisasi alam dan lingkungan dan bukan manusia.
Dalam lukisan “Fantasi #1” dan Fantasi #2” atau pula lukisan Saat Panen secara berseri menampilkan gajah-gajah dan hewan lain menggantikan posisi manusia yang tak pandai menjaga alam namun pintar merusak alam dan lingkungan.
Identitas seorang Putu Edy Asmara terletak pada besarnya perhatian dirinya terhadap fenomena adat budaya agraris di Bali yang memang masih kental terasa saat ini tapi di satu sisi juga sedang terjadi pergeseran dalam bentuk pertanian.
Karya saya berjudul “Panen” berbicara tentang pergeseran realitas (adat budaya agraris). Saya dulu mendengar mendengar panen raya tapi sekarang tidak terdengar lagi. Dulu panen mungkin ketika musim panen datang jadi petani selama panen hasil panen bener-bener dirasakan masyarakat sekitar orang bekerja untuk lingkungan tapi sekarang tidak. Sekarang kenyataannya kita yang impor beras,” kata Putu Edy Asmara.
Putu Wirata Dwikora menilai tiga seniman muda ini tidak sedang mengusung satu narasi besar tentang identitas, juga tidak membawa gagasan heroik tentang kerinduan akan harmoni dan semangat peradaban yang mencintai alam serta lingkungan, tidak pula orasi visual gagah membela petani yang tak lebih adalah komoditi bagi para politikus.
“Visualisasi problem identitas dalam karya tiga perupa muda ini menggambarkan betapa mereka masih memandang identitas dan eksistensi dari sudut personal,” kata Putu Wirata Dwikora (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, pameran | 293 views
Tags : Dewa Gede Agung, pameran, putu edy asmara, rio saren










