Slamet Raharjo: (Syuting FTV di Jogja) Itu Penghinaan
August 24th, 2010 | 09:14

Slamet Raharjo (kiri) dan Alex Komang (kanan) saat mengisi Jogja Goes To Screen di Ruang Seminar TBY, Senin (23/8).
Situasi dan kondisi perfilman di Yogyakarta saat ini yang tidak mengalami perkembangan apapun bahkan malah menjadi korban, menjadi kegelisahan bagi seorang sineas besar di tanah air Slamet Raharjo.
Maraknya syuting-syuting FTV yang mengambil lokasi di Yogyakarta misalnya menjadi suatu hal yang tidak disukai Slamet Raharjo. Ia menilai, Yogyakarta hanya menjadi tempat lokasi syuting bagi film-film TV yang banyak hadir di televisi-televisi swasta saat ini namun film-film TV yang dihasilkan tersebut sama sekali jalan pikiran Yogyakarta.
“FTV-FTV itu lihat saja, ngga ada jalan pikiran Jogja. Kenapa orang Jogya bengong saja? Tanya orang Jogja , tanya orang-orang kaya Jogya, lha wong orang Jogjanya ngga keberatan kok,” kata Slamet Raharjo dengan nada cukup keras, Senin (23/8), sebelum mengisi acara workshop perfilman “Jogja Goes To Screen” di TBY.
Bahkan dengan tegas Slamet Raharjo menyatakan menjadikan Yogyakarta hanya sebagai tempat syuting FTV-FTV itu adalah penghinaan. “Itu penghinaan, menginjak-injak Jogja tanpa kulo nuwun Jogja itu apa sih? Kraton? Jogja itu apa sih? Taman Sari? Tapi mana jalan pikiran Jogja?” ujar sineas kelahiran Banten ini.
Menurut Slamet Raharjo, Yogyakarta adalah jalan pikiran, Yogyakarta adalah jalan menyelesaikan persoalan. Namun dalam sejarah perfilman di tanah air hanya dibawah lima jari saja ada film yang menggali jalan pikiran Yogyakarta.
“Film 6 Jam di Yogyakarta karya Umar Ismail yang memperlihatkan bagaimaan seorang raja itu menjadi tumpuan dan mendengar rakyatnya. Kemudian ada film November 828 karya Teguh Karya. Saya menggugat hal ini,” kata pria umur 61 tahun ini.
Menurutnya, Yogyakarta sesungguhnya mempunyai banyak potensi untuk membangun industri film. Yogyakarta mempunyai banyak artefak seni dan budaya yang bisa digunakan untuk membuat film. “Jogja punya problem apa? Itu dfilmkan.Itu contoh paling norak,” kata Slamet menyebut satu lagi contoh potensi industri film di Yogyakarta.
Secara terbuka pula, Slamet Raharjo menyalahkan pihak media massa lokal yang sama sekali tidak mengkritik persoalan industri film di Yogyakarta yang hanya dimanfaatkan pihak Jakarta. “ Jenengan juga diam saja. Coba jenengan ngomong keberatan pasti ada pengaruhnya,” kata aktor yang memulai debut film pertamanya dengan judul “Wadjah Seorang Laki-Laki” ini.
Slamet Raharjo tak mengelak bahwa untuk membuat film membutuhkan biaya yang sangat mahal sehingga dibutuhkan kepedulian terhadap dunia film di Yogyakarta. “Film butuh duit, tak hanya doa restu saja. Karena disini ngga ada ono sing ngethokne duit, nggo opo,” ujar Slamet.
Harus ada di Yogyakarta saat ini pihak-pihak yang memunculkan inisiatif untuk membuat film tentang Yogyakarta. Harus ada ‘bendera’ yang bisa dikerek bersama-sama supaya masyarakat luar melihat gerakan itu.
Kalau sudah ada tekat seperti itu, menurut Slamet Raharjo pasti banyak pihak yang akan masuk ke industri film Yogyakarta. “Tinggal manggil he Katon mulih, he Idris Sardi mulih, Hanung bali,” kata Slamet sembari menambahkan dirinya mau untuk diajak membangun dunia perfilman jika sudah ada pihak-pihak yang peduli dan mau mengerek bendera dunia film Yogyakarta.
“Harus ada bendera yang dikibarkan,” kata peraih Piala Citra dalam kategori Aktor Utama pada film Ranjang Pengantin tahun 1974 ini. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : ARTIST | 397 views
Tags : film, jogja goes to screen, Slamet Raharjo











hidup mas slamet !!
muring-muringnya biasane njut dadi filem
tentang jogja yo mas!