Walikota Beli Foto Sri Sultan HB IX Rp25 juta
August 20th, 2010 | 10:12

Para tamu istimewa pembukaan Pameran Foto Peristiwa, Film Dokumenter dan Benda Kenangan 1945-1950 "Jogja Kota Revolusi" berfoto bersama. Sisi kanan mereka adalah foto Sri Sultan HB IX ketika di Bali yang dibeli Walikota Yogyakarta Herry Zudianto seharga Rp 25 juta.
Bersamaan dengan pembukaan Pameran Foto Peristiwa, Film Dokumenter dan Benda Kenangan di Jogja Gallery, Rabu (18/8), juga diselenggarakan lelang tiga foto pejuang kemerdekaan RI yaitu Soekarno, M. Hatta serta Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Pelelangan foto tiga pejuang kemerdekaan itu disaksikan putra-putri Soekarno dan M.Hatta yaitu Guruh Sukarno Putra dan Sukmawati Sukarno Putri serta Meutia Hatta. Tiga putra-putri pejuang kemerdekaan RI ini membubuhkan tanda tangan pada foto ayah mereka masing-masing sebelum dilakukan pelelangan yang dipimpin oleh KRT Indro ‘Kimpling’, Direktur Jogja Gallery.
“Semua hasil lelang foto tiga pejuang kemerdekaan RI ini akan disumbangkan kepada lembaga pendidikan yang membutuhkan,” kata Indro Kimpling.
Foto pejuang kemerdekaan yang pertama yang dilelang adalah foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX ketika berada di Bali pada tahun 1950. Dalam foto tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono dipanggul dan diarak oleh kelompok masyarakat dan dielu-elukan keberadaannya.
Ruttney Sigit Lingga, wakil ketua panitia pameran ‘Jogja Kota Revolusi’ menerangkan foto Sri Sultan HB IX tersebut dalam rangka kunjungan kenegaraan kepada masyarakat Bali ketika beliau menjadi Menteri Ekuin. “Lihat sambutan masyarakat Bali luar biasa ya. Dan ini unpublish ini, belum pernah lihat. Saya tidak tahu keluarga sudah punya (foto) ini belum,” kata Sigit.
Herri Zudianto
Indro Kimpling membuka sesi pelelangan pertama untuk foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX itu dengan harga Rp 5 juta. Cahyo Lukito, pengusaha Yogyakarta menaikkan angka pertama kali menjadiRp 7 juta. Angka lelang terus merangkak naik ke Rp9 juta, Rp10 juta, Rp 11 juta, Rp 12 Juta hingga Rp 15 juta.
Tiga orang tokoh masyarakat terlibat dalam menaikan angka lelang foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Mereka adalah Cahyo Lukito, Herry Zudianto, Walikota Yogyakarta dan Bambang Sukmonohadi, besan Megawati Sukarno Putri.
Suasana tampak begitu ramai karena susul menyusul angka lelang dari tiga tokoh ini. Demikian pula ketika angka lelang akan dinaikkan dari Rp 15 juta menjadi Rp 17 juta. Herry Zudianto yang sejak awal menjadikan salah satu temannya untuk “wakil” tunjuk jari, tampak ramai dengan teman disebelahnya untuk menyebut angka Rp.17 juta. Namun belum juga teman tersebut menyebut angka, Cahyo Lukito yang berdiri tidak jauh dari Herry Zudianto lebih dulu menyebut angka Rp.17,5 juta.
Suasana kembali riuh. Dari awal Herry Zudianto tak mau mengacungkan jarinya dan meminta temannya untuk mengacungkan jari. Walikota ini hanya menyebut angka lelang saja dan ia minta temannya tersebut menyebutkan angka itu didepan hadirin.
“Rp 20 juta wis ngacungo,” kata Herri Zudianto kepada temannya itu untuk mengungguli angka yang disebutkan Cahyo Lukito. Namun angka dari Walikota Yogyakarta itu hanya bertahan dalam hitungan satu-dua menit saja karena Bambang Sukmonohadi langsung menyebut angka Rp21 juta sehingga secara otomatis mengungguli Herry Zudianto.
Suasana pun kembali memanas. Para hadirin riuh rendah dengan komentar-komentar mereka masing-masing melihat “pertarungan” yang sedang berlangsung. Herry Zudianto dan Cahyo Lukito pun turut dalam keriuhan ini.
Lelang foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini pun berakhir untuk “kemenangan” Herry Zudianto setelah ia menawarkan harga lukisan tersebut dengan nilai Rp25 juta. Sampai hitungan ke sepuluh yang dilakukan Hendro Kimpling, tak ada lagi pihak yang menyebut angka lelang diatas Rp.25 juta yang disebutkan Herry Zudianto maka secara syah Walikota ini mendapatkan foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Langsung saja seorang wanita muda yang membantu jalannya proses lelang memberika lembaran tanda jadi lelang untuk ditanda tangani Herry Zudianto.
Lelang kedua adalah untuk foto M. Hatta yang sudah ditandaitangani Meutia Hatta. Hendro Kimpling memulai proses lelang dengan angka yang sama seperti foto Sri Sultan HB IX yaitu Rp5 juta. Namun sayang, lelang foto M Hatta ini tidak berlangsung meriah seperti lelang pertama. Apalagi Bambang Sukmonohadi belum-belum sudah menyebut angka Rp 25 juta untuk membeli foto M Hatta tersebut.
Maka dengan cepat foto tersebut sah menjadi milik Bambang Sukmonohadi. Demikian pula dengan lelang foto ketiga yaitu foto Soekarno. Dengan cepat pula angka Rp25 juta diucapkan Bambang Sukmonohadi untuk mengakhiri lelang foto Soekarno.
Meutia Hatta memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas dilakukannya pelelangan terhadap beberapa tokoh pejuang kemerdekaan RI. “Saya sangat menghargai tokoh-tokoh yang peduli akan sejarah,” ujar Meutia yang hadir ke pameran “Jogja Kota Revolusi” ini bersama saudara-saudaranya seperti Gemala Hatta dan Halida Hatta.
Sementara itu Bambang Sukmonohadi mengatakan foto Soekarno dan M Hatta yang ia beli tersebut akan ia jadikan sebagai koleksi keluarga karena memang selama ini dirinya banyak mengoleksi benda-benda kenangan bersejarah.
“Mereka (Soekarno dan M Hatta) pendiri bangsa. Kalau bisa mengoleksi foto-fotonya kan baik,” kata pemilik Cangkring Spa&Resort ini seraya menambahkan pihaknya sudah menyiapkan tempat untuk menyimpan foto Soekarno dan Muh Hatta ini.
“Ya saya lihat foto itu berbicara mengenai kebesaran visi beliau artinya beliau betul-betul bukan tokoh Jogja aja,” kata Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto yang awalnya enggan berkomentar soal pembelian foto Sri Sultan HB IX berharga Rp25 juta itu.
Walikota melanjutkan ia membeli foto Sri Sultan HB IX karena kecintaan dirinya kepada Kota Yogyakarta. Selain itu juga kecintaan Walikota terhadap sosok Sri Sultan HB IX yang mempunyai visi luar biasa menjadikan Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota perjuangan.
“Tapi bagaimanapun juga saya… i love Jogjalah. Dari kita bicara berbagai predikat kota perjuangan, kota pelajar itu semua sumbernya dari visi beliau loh. Ya? Sampai Jogjakarta menjadi kota pelajar itu kan bagaimana beliau mengorbankan pagelaran untuk kuliah, sing tempat sakral semua orang bisa masuk bisa belajar disitu bagaimana juga perjuangan beliau pagelaran menjadi tempat belajar tidak semua pihak internal (kraton) setuju,” terang Walikota.
Rencanya mau dipajang dimana, Pak? “Ya kalau selama saya jadi walikota ya neng kantor sik ha ha ha nek wis ora tak go balik ha ha ha,” ujar Herry Zudianto.(The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, KISAH | 381 views










