Pameran Fotografi “Cut 210: New Photography from Southeast Asia-Parallel Universe”, Tentang Andai Dunia Itu Paralel

August 12th, 2010 | 14:02

aa cut 3

Seorang pengunjung sedang menikmati karya-karya fotografi yang dipamerkan di Sangkring Art Space, Selasa (10/8). Pameran fotografi ini dilakukan 12 fotografer Asean dengan tajuk " Cut 210: New Photography from Southeast Asia-Paraller Universe".

Sebanyak 12 fotografer dari Asia Tenggara menggelar Pameran  Fotografi bertajuk “ Cut210: New Photography from Southeast Asia-Parallel Universe” di  Sangkring Art Space Yogyakarta. Mereka memamerkan 12 karya fot0grafi berseri dari 6 Agustus hingga 11 September 2010.

12 fotografer Asean itu adalah Franskie Callaghan dan Wawi Navarroza dari Pilipina, Michael Shaowanasai dan Tanapol Kaewpring berasal dari Thailand, Zhao Renhui/ The Institute of Critical Zoologist dari Singapura, Eiffel Chong dan Shoosie Sulaiman dari Malaysia. Sementara dari Indonesia menampilkan Agan Harahap, Sara Nuytemans, Arya Pandjalu dan Wimo Ambala Bayang.

Kurator pameran, Eva McGovern mengatakan dalam pameran ini, seniman menciptakan pandangan alternatif dan surealis yang menghibur dan menantang pemahaman penonton. Pameran ini juga mengeksplorasi dunia paralel melaui fiksi dan sudut pandang miring dari balik lensa kamera.

Otentisitas seni fotografi sebagai penyampai kebenaran telah didistorsikan dan dipergunakan sepanjang masa evolusinya dari daguerreotype ke film dan digital. Eksperimentasi dengan media berlanjut dan seniman berkesempatan menciptakan teknik-teknik ilusi yang beragam sekaligus bisa menciptakan panggung dramanya sendiri serta menangkap momen-momen isitmewa sehari-hari.

Pengolahan pada dikotomi antara dongeng dan mimpi buurk, dystopia dan utopia, membawa pameran ini pada pengungkapan massif pada dunia khayal dan realitas yang terpilin yang mampu menghibur indera dengan apa yang nyata dan apa yang khayal.

“Fotografi adalah mekanisme imajinasi, petualangan teknik dan subyeknya seperti teater dan film juga ada peluang unutk memicu dan mengganggu animasi pada indera dan menimbulkan tanggapan kuat,” kata Eva.

Karya-karya foto yang dipamerkan dalam pameran ini adalah dunia kemungkinan baru yang mengaduk harapan, mimpi, pandangan dan pengamatan dari penciptanya dan menjadikannya sebuah pertunjukan terpadu antara kejutan, hasrat, kesenangan, kesedihan, guyonan dan pencerahan.

“Dengan inspirasi visual yang tak berbatas dan didukung kemajuan teknologi pendukungnya, photografi sebagai sebuah wahana, terus mendorong batasan pemahaman dan sensasi visual,” ujar Evi. (The Real Jogja/joe)


Share on Facebook

Category : HEADLINE, fotografi, pameran | 396 views
Tags : , , , , , , ,

Leave a Reply