Pameran Seni Rupa “Harmony Disssable In Able Art”, Hadirkan Makna Besar Berkesenian
August 3rd, 2010 | 10:08

Shin Sakuma saat performance tari merespon karya instalasi seniman mahasiswa S-2 Pascasarjana ISI Yogyakarta berjudul "Bhinneka Tunggal Ika" saat pelaksanaan Pameran Seni Rupa "Harmony Dissable In Able Art", Sabtu (31/7) di Pascasarjana ISI Yogyakarta.
Empat seniman Jepang tampil dalam kegiatan Pameran Seni Rupa bertajuk “Harmoni Dissable In Able Art”pada Sabtu (31/7) di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Mereka adalah Shin Sakuma, Ikegami Sumiko, Inukai Miyaki serta Kawamoto Akinori yang juga menjadi anggota komunitas Gamelan-aid Jepang, komunitas pecinta Gamelan Indonesia di Jepang.
Empat seniman Jepang ini adalah para seniman yang mempunyai pengalaman penciptaan karya seni internasional. Dalam kesempatan mengunjungi Yogyakarta ini, mereka terlibat dalam penciptaan performance dan instalasi bersama dengan beberapa mahasiswa S-II di Pascasarjana ISI Yogyakarta antara lain Hendra Himawan, Romy Setiawan, Nurul Hayat (Acil), Theresia Agustina Sitompul, Dedy Sufriadi dan Septa Miyosa. (LihatProgram Harmoni Dissable In Able Art Gamelan-Aid, Komitmen Revitalisasi Seni Budaya Pascagempa Itu Tetap Berjalan, Jogjanews.com, 1 Agustus 2010)
Inukai Miyaki
Inukai Miyaki, seniman perempuan dengan banyak pengalaman internasional yang dimiliki menampilkan performance dan instalasi sekaligus dalam tema “Inhale Exhale” dengan menggunakan lokasi taman yang berada di tengah kampus S-II ISI Yogyakrta. Konsep performance “Inhale Exhale” adalah metode berkomunikasi dengan bernafas (method of communication by breathing).
Dalam penampilan performance-nya, Inukai berinteraksi seperti menggendong puluhan plastik putih berisi udara yang ia tiup dari mulutnya sendiri. Ia mengikatkan rangkaian balon putih berisi udara itu pada dahan-dahan pada satu sisi serta pada leher di sisi lain.
Tubuh depan Inukai juga mencencang seplastik beras. Sementara di tanah ia menempatkan beberapa nyala lilin. Setelah berinteraksi menari dengan balon-balon plastik itu, dengan berposisi merangkak, Inuyaki, dengan hempasan nafasnya memulai mematikan nyala lilin didepannya.
Interaksi ini berlangsung beberapa waktu. Ia bisa cepat mematikan nyala lilin yang ada didekatnya dengan sesekali hempasan nafasnya. Namun ia cukup kesulitan untuk mematikan nyala lilin yang ditempatkan agak jauh dari posisi merangkaknya sehingga ia pun harus maju merangkak untuk mematikan lilin itu.
Usai itu, dengan perlahan, Inukai Miyaki mengeluarkan beras dari dalam plastik yanag sejak tadi ia tempatkan didalam perut. Beras pun mengucur kebawah. Gerakan berinteraksi dengan udara, plastik, lilin dan beras, adalah upaya Inukai menciptakan simbol-simbol hubungan antara manusia dengan pemilik kehidupan yang lain seperti binatang, tumbuhan yang sama-sama membutuhkan udara.
Memasukkan udara ke dalam plastik yang dilakukan Inukai Miyaki adalah bukti bahwa dia hidup.“Saya bernafas, berkomunikasi dengan tanaman, binatang yang memakai oksigen, ini gerakan yang spontan, improvisasi berkomunikasi dengan karya dan mengkaitkan karya itu dengan perantaraan alam,” kata wanita kelahiran 1972 melalui terjemahan bahasa yang dilakukan Shin Sakuma.
Konsep berkarya berkomunikasi dengan bernafas ini adalah cara memandang seorang Inukai Miyaki tentang betapa pentingnya bumi terhadap semua orang. Bumi lebih penting daripada tumbuhan, negara maupun aetnis. “Konsep Inukai tidak tumbuh diantara hewan, tumbuhan, anti negara, etnis tapi semuanya itu anggota bumi,” kata Inukai yang sudah membawa performance “Inhale Exhale ini ini ke beberapa negara di dunia seperti Korea, Kanada dan juga Indonesia dalam 10 tahun terakhir.
Sementara itu, Ikegami Sumiko menampilkan performance berjudul “Hichiriki” , Ikegami membuat sarang laba-laba dari benang putih di dinding gedung lantai dua salah satu dinding gedung Pascasarjana. Aku laba-laba. Inilah ucapan yang selalu Ikegami munculkan mulai dari memulai hingga mengakhiri performance.
Ikegami menempatkan kumpulan benang di empat titik berbeda. Setelah itu ia berputar-putar sendiri mengikatkan benang dari empat titik itu pada tubuhnya. Ia terus saja berucap saya laba-laba. Setelah cukup lama mengikatkan dirinya pada benang itu ia mengajak berinteraksi penontonnya dengan mengikat tubuh beberapa penonton persis seperti yang ia lakukan sendiri itu. Ikegami pun mengakhiri performance dan instalasinya
“Arigato…” kata Ikegami Sumiko kepada Hermin Kusumaryati, wakil rektor I ISI Yogyakarta yang juga turut ia ajak berinteraksi dengan melilitkan beberapa kali benang putih itu ke tubuh Hermin. Performance Ikegami ini juga diberi direspon bebunyian “Etenraku”, alat musik tiup khas Jepang yang mirip seperti suling. Jika suling mempunyai alat pengolah nada sudah bersatu dengan batang bambunya maka Etenraku ini memiliki pengolah bunyinya terpisah.
Konsep laba-laba yang diciptakan Ikegami Sumiko ini adalah konsep membuat jaringan (network) gema (suara) yang dibuat dari seseorang dimana jika digerakkan dengan orang lain menjadi besar. Menurut Ikegami, konsep jaringan ini mengambil pelajaran dari fenomena di jaman sekarang dimana masyarakat menciptakan jaringan satu sama lain dalam banyak aspek.
Interaksi Ikegami Sumiko dengan beberapa orang yang ia ikat menggunakan benang adalah gambaran dari dirinya membuat jaringan dengan orang lain. Dengan melibatkan orang-orang itu, berarti jaringan yang akan diciptakan juga makin luas karena setiap orang yang ia ajak ‘berjaringan” juga mempunyai jaringan sendiri.
“Tetapi, jaringan yang diciptakan laba-laba itu ada susahnya,” kata Ikegami Sumiko melalui terjemahan Shin Sakuma. Menurut Ikegami, akan bahaya kalau salah dalam menggunakan sarang dalam jaringan itu. Untuk itu jaringan yang dibuat haruslah jaringan yang baik dan bisa bermanfaat bagi semua pihak.
Sementara Shin Sakuma sendiri menampilkan performance tarian. Ia merespon tempat-tempat yang digunakan Inukai Miyaki dan Ikegami Sumiko dengan tarian-tarian spontan yang ia bawakan. Shin Sakuma menari dengan gerakan yang kadang tampak pelan namun kadang ia melompat. Keseimbangan tubuh yang cukup sempurna selama menari ditunjukan Shin Sakuma saat merespon tempat Ikegami Sumiko pentas.
Shin Sakuma beberapa kali melakukan gerakan menari dengan berdiri menggunakan dua ibu jari kakinya sementara ke dua tangan dan tubuhnya bergerak menari. Gerakan-gerakan tari yang spontan itu mendapat respon spontan oleh beberapa penari Indonesia saat ia menari didekat karya instalasi yang diciptakan beberapa seniman mahasiswa Pascasarjana.
Instalasi ini berjudul “Bhinneka Tunggal Ika” yang menampilkan gugusan pulau-pulau di tanah air yang membentuk negara Indonesia dari bahan triplek yang tergantung dari atap gedung. Gugusan pulau-pulau ini terhubung dengan patung berbentuk kepala terbungkus kain melalui benang-benang.
“Patung kepala itu adalah para pahlawan yang dilupakan jasa-jasanya oleh negara padahal mereka telah membuat pulau-pulau itu bersatu menjadi negara Indonesia,” kata Septa Miyosa, salah satu mahasiswa Pascasarjana yang ikut menciptakan instalasi itu.
Shin Sakuma bersama dua seniman tari terlibat dalam interaksi gerak tubuh masing-masing merespon instalasi karya Septa Miyosa dan kawan-kawannya itu. Mereka tampak menikmati betul gerakan-gerakan tarian tubuh yang dilakukan. Apalagi setelah Kawamoto ikut dengan spontan merespon gerak-gerak tubuh mereka dengan “Etenraku” yang ia tiup itu.
Gerak-gerak yang spontan, penuh improvisasi dari para seniman Jepang yang kemudian mendapat respon dari seniman-seniman Indonesia pada acara Pameran Seni Rupa “Harmoni Dissable In Able Art” pada Sabtu malam itu menjadi bukti dari wacana utama penciptaan karya seni, bahwa karya seni seniman harus dipertemukan dengan karya seniman lain sehingga proses dialog terjadi sehingga dapat menghasilkan tesis seni baru. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, pameran | 197 views
Tags : Gamelan Aid, Harmoni dissable in able art, Shin Sakuma










