Repertoir “Lubang Cahaya Bernafas” (Pesan dari Franz Schubert) Fitri Setyaningsih, Saat Franz Schubert Hadir Dalam Bentuk Tari
August 1st, 2010 | 08:58

Gerak jari-jari berlampu menggambarkan jari-jari Franz Schubert saat mencipta komposisi dihadirkan dengan properti lampu led dan kaos tangan sehingga menghasilkan nuasan cahaya kunang-kunang yang indah ini hadir dalam repertoir "Lubang Cahaya Bernafas" Pesan dari Franz Schubert karya Fitri Setyaningsih yang dipentaskan di ICAN Gallery, Jum'at (30/7).
Hari pertama pertunjukan tari bertajuk “Selamat Datang Dari Bawah” pada Jum’at (30/7) malam dengan menampilkan repertoir “Lubang Cahaya Bernafas” (Pesan dari Franz Schubert) berhasil menghadirkan nuansa yang istimewa bagi belasan penonton yang memenuhi ruang pementasan ICAN Gallery.
Repertoir yang diciptakan Fitri Setyaningsih Repertoir ini dimainkan lima penari yang sesungguhnya bukan penari. Mereka adalah anggota teater Garasi antara lain Jamaluddin Latief, M Nur Qomaruddin, Rendra Bagus P, Marya Yulita Sari serta Retno Sayekti Lawu. Satu lagi penari adalah seorang guru bahasa Inggris, Yuni Wahyuning (Lihat Pertunjukan Tari “Selamat Datang Dari Bawah”, Instalasi Gerak Bawah Tubuh Seniman Teater, Jogjanews.com, 31/Juli 2010)
Tampilan istimewa repertoir ini tidak saja berasal dari latar belakang penari repertoir ini namun juga pilihan properti untuk mendukung repertoir ini. Properti berupa benang, kaus tangan putih, batu pualam putih serta lampu LED berhasil membawa penonton larut dalam nuansa pertunjukan tari yang sangat istimewa sekaligus membawa penafsiran yang tidak gampang.
Ruang pentas yang tidak seberapa besar (itu pun masih harus berbagi dengan tempat untuk penonton) dipenuhi dengan warna hitam yang dihadirkan dari kumpulan-kumpulan benang yang berisi belasan benang yang dipasang dari atap ruang pentas menuju lantai.
Ada sekumpulan benang enang-benang itu terpasang agak miring ke lantai Ada pula yang terpasang lurus dari atas kebawah. Kumpulan-kumpulan benang itu sangat menarik untuk ditatap lama-lama karena bagian dasarnya diberi batu pualam putih dan lampu LED
Ada pula bagian bawah kumpulan benang itu langsung dihubungkan dengan tangan penari yang memakai kaus tangan putih. Sehingga ketika para penari menggerakan tangannya, cahaya dari lampu LED bergerak berpendar bagus sekali.
Selama hampir satu jam pementasan, tiga wanita itu melakukan eksplorasi gerak bersama kumpulan benang yang ada pada jari-jari mereka maupun dengan bagian tubuh lain seperti wajah dan dada pada juluran-juluran benang yang terpasang. Bahkan mereka juga memainkan lampu LED yang terpasang pada lempeng kecil sumber listrik di mulut mereka.
Demikian pula dengan dua penari laki-laki yang juga berinteraksi dengan benang-benang tersebut. Penari laki-laki ini kadang juga melakukan gerakan tanpa terkait dengan juluran-juluran benang yang bercahaya pada ujungnya ini.
Adegan cukup mengundang perhatian dilakukan dua penari pria ini ketika mereka terlibat dalam gerakan berjalan ritmis sembari menarik benang panjang berwarna putih memakai daun telinga mereka. Satu penari laki-laki dengan mengambil salah satu sisi ruang pentas, mula- mula memasukkan ke bagian telinga yang biasa menjadi tempat anting-anting untuk perempuan
Setelah itu, satu penari laki-laki yang lain melakukan hal serupa pada daun telinganya. Setelah berhasil, laki-laki itu berjalan pelan lurus sembari menarik benang dari daun telinga pelan-pelan hingga sisi ruang pentas satunya.
Dua penari laki-laki itu, dibantu penari latar lain mendekati para penonton yang ada di samping panggung pentas memajukan handphone ke telinga penonton berisi rekaman suara Fitri yang menerangkan karya koreografi “Lubang Cahaya Bernafas” (Pesan dari Frank Schubert) ini.
Franck Schubert
Repertoir “Lubang Cahaya Bernafas” menghadirkan diskusi cukup ramai seusai pementasan. Penari Dyah Larasati, peneliti budaya Halim HD, Tita Rubi, Naomi Srikandi, serta Tony Voluntero dan yang lain terlibat dalam diskusi serius dipandu Antariksa untuk menjadi jembatan diskusi dengan pihak yang menggelar pertunjukan yaitu Fitri Setyaningsih, Afrizal Malna, Ignatius “Cling” Sugiarto (desain lighting dan para penari repertoir.
Masing-masing mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang lebih subyektif pribadi dan direspon pihak yang menggelar repertoir. Dyah Larasati misalnya, menanyakan aspek keamanan penggunaan listrik pada penari
Fitri Setyaningsih memulai diskusi dengan menceritakan ide repertoir “Lubang Cahaya Bernafas” (Pesan dari Franz Schubert). Lulusan STSI Surakarta ini menerangkan, ide repertoirnya ini berasal dari apa yang dilakukan komponis Franz Schubert yang cacat tangan namun bisa menciptakan 1000 lebih komposisi musik.
“Saya membaca artikel tentang Franz Schubert yang cacat pada jari tanganya tapi itu menjadi kelebihan dirinya. Dengan batu dan tali (yang dimainkan penari) bertindak sebagai tangan. Teman-teman (penari) pada suka pada permainan benang, batu dan lampu LED. Jadi kaya kunang-kunang. Suka banget,” terang Fitri.
Dyah Larasati memberikan pernyataan ketertarikannya pada repertoir yang ditampilkan para penari. Namun ia juga mempertanyakan aspek keamanan (safety) para penari yang menggunakan listrik untuk pendukung tarian. Apalagi ketika ada penari yang memainkan lampu LED pada mulutnya.
“Listrik di Indonesia itu ada tanda-tanda tidak bekerja dengan baik? Bagaimana persiapan untuk melakukan itu (aspek keamanan listrik?” kata Dyah.
Ignatius “Clling Sugiarto menjawab lampu LED yang dipakai memiliki atmosfit atau ambience untuk membantu menghasilkan detail pementasan yang diinginkan.”Saya merasa (LED) ini penting untuk detail pementasan,” kata pria yang sering dipanggil dengan Cling
Cling juga menerangkan benang yang dipakai dalam pementasan sebenarnya tidak cukup mampu untuk menangkap cahaya. “Secara teknis sebenarnya tidak layak untuk pertunjukan. (Benang) ini terlalu pemula. Benang tidak cukup layak karena under.Tapi dipakai karena kebutuhan material. Masuk akal karena kecil dan pendek.”
Menurut Cling peran benang sesungguhnya bisa diganti dengan serat fiber. Fitri menyetujui Cling. Namun untuk membeli serat fiber sangat mahal. “Fiber bisa Rp25 juta, kalau benang cukup Rp 25 ribu,” kata Fitri.
Perdebatan cukup hangat berlangsung ketika Tony Voluntero, mengemukakan wacana tari tradisi Jawa untuk dimasukkan dalam repertoir milik Fitri. Terutama Tony juga memberi kritik terhadap gerakan tubuh para penari wanita ketika berinteraksi dengan benang-benang yang tidak terasa gregetnya.
“Tubuh bener-bener ditekuk. Aku lihat tadi kurang sakit. Kostumnya terlalu melebar. Mestinya ketika wajah menyentuh benang atau saat buah dada menyentuh benang maka wajah itu bisa tampil terbelah. Nah saya tidak mendapatkan itu pada pementasan tadi. Ide busana ngepres aja, ” kata Tony seraya memuji penampilan Yuni yang mampu menampilkan ‘membagi” ketika berinteraksi dengan benang.
Halim HD dan Naomi Srikandi menjadi dua orang yang cepat-cepat menanggapi kritik itu dengan suara cukup keras. Halim HD misalnya, lebih melihat tarian koreografi Fitri ini bukan tarian sebenarnya. Halim menggunakan istilah gerakan organik dengan apa yang dilakukan para penari. “Saya lebih menilai para penari ini bergerak dengan eksplorasi organik mereka mengalir pada tubuh mereka apa adanya,” kata Halim.
Tony Voluntero juga mengkritik iringan musik yang dipakai dalam pementasan repertoir ini. Menurut Tony, musik yang dimainkan terlalu cerewet, tidak ritmis. “10 menit pertama saya mendengarkan musiknya, gelisah. Bukan bosan tapi ada sesuatu yang kurang. Musik mestinya hadir membagi peristiwa yang ada dalam tarian. Musiknya sangat cerewet,” kritik Tony.
Jamaluddin Malik yang maju memberi penjelasan mencoba memunculkan proses workshop eksternal yang ia lakukan dengan alam bersama penari lain sebelum menari. “Proses dengan eksplorasi yang panjang, mencari apa yang bisa muncul dari tumbuhan dari eksplorasi alam. Ini cukup bisa membuka bermain untuk mencari kerangka, mengambil pola yang kemudian muncul pada penari,” terang anggota teater Garasi ini.
Fitri menanggapi ramai-ramai ini dengan memberikan pernyataan dengan mengatakan dirinya tidak pernah memberikan makna terhadap koreografinya. Kalau pun ada makna itu akibat literal dari penampilan koreografi. “Koreografi mengalami perluasan yang tidak selalu mengacu pada tarian tapi berhubungan dengan sejarah atau rupa,” kata Fitri.
“Fitri menghadirkan rupa yang akibatnya ada perasaan nyeri padahal tidak memunculkan rasa itu,” tambah Afrizal.(The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, TARI | 219 views
Tags : fitri setyaningsih, Franz Schubert, Lubang Cahaya Bernafas










