Pertunjukan “Tari Selamat Datang Dari Bawah”, Instalasi Gerak Bawah Tubuh Seniman Teater

July 31st, 2010 | 16:15

tari

Pertunjukan repertoir tari "Lubang Cahaya Bernafas (Pesan Dari Franz Schubert)" karya koreografer Fitri Setyaningsih yang dipentaskan di ICAN Gallery, Jum'at (30/7).

Sebuah pertunjukan tari dengan tajuk “Selamat Datang Dari Bawah”, pada Jum’at (30/7) mulai  dipentaskan koreografer Fitri Setyaningsih, salah satu dari lima koreografer tari wanita muda yang memperoleh grand program “Empowering Women Artist (EWA) dari Yayasan Kelola. Selain Fitri, empat wanita muda lain yang memperoleh grand adalah Naomi Srikandi, Maria Tri, Eno S serta Della.

Selama tiga hari berturut-turut mulai Jum’at (30/7) hingga Minggu (1/8), Fitri Seyaningsih akan menampilkan tiga repertoir hasil koreografinya dengan mengambil tempat di Ican Gallery yang ada di Jalan Suryodiningratan 30 Yogyakarta.

Tiga repertoir itu adalah “Lubang Cahaya Bernafas (Pesan dari Franz Schubert). Kemudian repertoir “Dataran Yang Terus Ke Dasar (Pesan dari Zen)” dan terakhir repertoir “Penyusup Dalam Tubuh (Pesan dari Udara)”.

Konsep pertunjukan tari dalam tajuk “Selamat Datang Dari Bawah” ini menurut Afrizal Malna yang bertindak sebagai dramaturgi pementasan ini adalah pertunjukan yang lebih merupakan instalasi dalam proses terjadinya mutasi-mutasi gerak dan negoisasi tubuh dengan lantai tempatnya berpijak.

Eksplorasi gerak yang dilakukan dalam pertunjukan tari ini lebih banyak mengandalkan naluri-naluri gerakan ke bawah, ke dasar. Selama ini, dalam pandangan Afrizal Malna, dominasi atas selalu menguasai naluri sehingga kita selalu melakukan negoisasi gerak ke atas.

“Tubuh itu selalu terdekonstruksi oleh ruang atas. Ruang bawah tubuh itu selalu mengikuti ruang atas. Kepala, mata selalu menjadi lakon dan tidak menyadari bagian bawah tubuh. Sekarang ada upaya untuk mencari imaji dari bawah dan atas seperti ditiadakan,” kata pria yang juga bertindak sebagai penata artistik pementasan ini.

“Kini gerakan-gerakan itu dibawah bereksplorasi membayangkan sesuatu di bawah lantai, dataran dibawah dataran, terus bergerak turun ke bawah,” tambah Afrizal.

Demikian pula dengan realitas yang menurut Afrizal, tubuhjuga ikut turun, terus menjadi terbalik, gerak tidak mengikuti posisi anatomi tubuh lagi karena anatomi menjadi bagian dari lantai, sedang tubuh hanya menjaga rasa dan aliran iramanya.

Afrizal Malna menyebut pertunjukan tari ini seperti pertunjukan hubungan mistik antara tubuh dan dataran. Capaian-capaian gerakan yang hadir dalam pertunjukan adalah hasil dari kerja-kerja workshop secara internal maupun eksternal untuk pengolahan ide maupun gerak tari. Secara ekternal mereka berinteraksi dengan alam. Secara internal mereka berkomunikasi di dalam studio.

Sejak Februari lalu, penari-penari yang terlibat dalam event “Selamat Datang Dari Bawah” ini terlibat dalam workshop yang intens untuk mendapatkan keinginan-keinginan maksud dari pementasan yang akan dilakukan, karya-karya organik.

”Mereka menghasilkan motif-motif gerakan di hutan, di alam juga di studio.Karya-karya organik dan workshop ini digabungkan,”kata Afrizal.

Satu hal yang istimewa dari gelaran pertunjukan tari “Selamat Datang Dari Bawah” ini adalah para penari yang terlibat didalamnya sebenarnya bukan para penari asli tapi berasal dari pelaku seni lain bahkan mempunyai pekerjaan tidak sebagai penari.

Hal ini, diterangkan Afrizal Malna dilakukan untuk mendapatkan capaian gerak tari yang diinginkan oleh koreografer. Dengan menggunakan penari asli yang sudah jadi agak sulit untuk melakukan kontrol dan bisa jadi akan keluar dari apa yang diharapkan.

Ini berbeda ketika menggunakan pementas yang bukan penari asli yang gerakan-gerakan tarinya bisa dieksplorasi sesuai keinginan koreografer. “Kalau pakai penari yang udah jadi udah ada vocabulary akan mengabaikan proses.Jadi agak sulit. Kalau pakai non tari masih bisa dibongkar (dengan gerakan-gerakan yang sesuai),” terang Afrizal.

Aktor-aktor teater dari beberapa teater yang ada di Yogyakarta dan Solomenjadi penari dalam tiga hari pementasan “Selamat Datang Dari Bawah” ini. Mereka antara lain berasal dari Teater Garasi, Teater Teku, Teater Gajah Mada, Teater Tangga, Teater Klosed. Bahkan ada pula seorang guru yang terlibat dalam pementasan.

“Ada dari Teater Garasi, Teater Teku, ada juga Yuni yang seorang guru bahasa Inggris,” jelas Afrizal Malna.(The Real Jogja/joe)


Share on Facebook

Category : HEADLINE, TARI | 457 views
Tags : ,

Leave a Reply