Minggu, Sekartaji Ayu Wangi Perkenalkan Ramal Tari Untuk Kali Pertama

July 31st, 2010 | 11:24

sekartaji

Sekartaji Ayu Wangi (duduk tengah berpakaian hijau) saat melakukan interview dengan wartawan untuk performance Ramal Tari yang akan ia lakukan Minggu (1/8) di Cups Cafe Jalan Gayam Jogjakarta.

Jika anda pernah diramal menggunakan kartu tarot, kartu drupadi bahkan hanya dengan telapak tangan, maka bersiap-siaplah untuk mendapatkan ramalan dengan cara baru, meramal dengan menari atau ramal tari.

Sekartaji Ayu Wangi. Inilah nama wanita muda yang untuk kali pertama akan memamerkan cara meramal gaya baru itu di Indonesia bahkan mungkin dunia. Gaya baru meramal ini akan diperkenalkan kepada publik untuk kali pertama oleh Sekartaji Ayu dalam sebuah pementasan (performance) tari pada Minggu (1/8) sore di Cups Cafe di Jalan Gayam Yogyakarta.

Menurut Sekartaji, ramal tari yang akan ia lakukan ini berawal dari keinginan dirinya untuk mencari kemasan baru dalam melakukan meramal. Sebelumnya, ia telah berprofesi sebagai peramal dengan menggunakan kartu tarot, totok aura, perhitungan nama hari lahir (weton) dan juga kartu Drupadi serta konsultasi pribadi.

Selain sebagai kemasan baru meramal, ramal tari yang akan dilakukan Sekartaji sekaligus untuk memberi hiburan. “Untuk (mendapatkan ramalan dengan) media seni. Ini kemasan (meramal cara )lain untuk hiburan,” kata Sekartaji kepada wartawan, Jum’at (30/) di Warung Pedhes Mbak Shasa, Gejayan, Yogyakarta.

Latar belakangnya yang banyak belajar tari klasik di beberapa padepokan serta “bakat” meramal yang sudah muncul semasa di SMA membuat dara kelahiran 1 Juli 1984 ini memberanikan diri untuk melakukan pekerjaan ramal tari untuk waktu-waktu di masa depan.

Sekartaji pernah memperoleh pelajaran tari klasik di Sanggar Pujokusuma pada tahun 1992 dibawah pimpinan Fred Wibowo. Ia mendapat bimbingan tari klasik langsung dari Sandra, putri Fred Wibowo. Kemudian pada tahun 2004, Sekartaji juga belajar tari klasik dengan nyantrik di Padepokan Bagong Kusudiardjo.

Sementara “bakat” meramal Sekartaji sudah muncul sejak umur 16 tahun ketika dirinya berada di kelas dua SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Kala itu, Sekartaji mengalami ‘transe” di ruang kelas sehingga membuat panik seluruh isi kelas. Sejak saat itu, ia merasa bisa meramal nasib seseorang, walaupun ia pernah diajak orang tuanya untuk mendapatkan pengobatan dari seorang kyai di sebuah daerah di Jawa Timur.

“Saya memulai menggeluti profesi meramal sejak tahun 2003. Namun secara profesional baru saya lakukan sejak 2007,” jelas wanita yang pernah meramal artis Gading Martin beberapa waktu lalu itu.

Gerakan tari bebas

Dari pengalaman melakukan pekerjaan meramal inilah, Sekartaji semakin merasa bahwa setiap media yang digunakan untuk meramal tidak lepas dari energi seseorang yang diramal, melalui interaksi antara peramal dan orang tersebut.

Dari itulah ide meramal dengan menari itu muncul. Di Cups Cafe nanti, Sekartaji menjelaskan, performance tari yang akan digunakan sebagai media meramal ini hadir dengan eksplorasi gerakan tarian yang bebas, kontemporer dan penuh improvisasi. Sekartaji akan membaca setelah menarik energi seseorang melalui gerakan tari yang ia lakukan dengan diikuti iringan suara alat musik biola yang dimainkan secara ritmis (mengambang).

“Saya akan menari dengan diiringi suara biola yang mengambang,” kata Sekartaji yang juga anggota dari Komunitas Limbuk Cangik ini.

Orang yang akan diramal Sekartaji cukup duduk dengan tenang dengan kedua tangan diangkat setengah dengan posisi dua telapak tangan yang menengadah terbuka keatas. Sekartaji kemudian akan menari dekat-dekat dengan orang yang diramal.

Melalui interaksi batin yang dibantu dengan alunan suara biola yang ritmis, Sekartaji, akan menganalis nasib orang yang diramal melalui energi yang keluar dari tubuh, fikiran, serta jiwa yang akan menentukan proses alam terhadap nasibnya.

Ada tiga hal yang dicoba diramal oleh Sekartaji yaitu, rejeki, percintaan dan kesehatan. Nasib yang terbaca melalui gerak tari ramal ini, menurut Sekartaji pada dasarnya bersifat relatif. Artinya nasib yang diramal akan terjadi apabila orang yang ditarik energinya ini mempertahankan kondisi energi tubuh, pikiran dan jiwanya seperti pada saat energi itu terbaca oleh gerak tubuh peramal.

Dijelaskannya, energi yang ia mainkan untuk diramal tidak akan membuat dirinya mengalami “transe” karena ia berkonsentrasi dengan orang yang akan diramal yang berada sangat dekat dengan dirinya sehingga energi orang-orang yang berada di luar dirinya dan orang yang sedang diramal tidak terpengaruh dengan energi orang lain

Itu artinya orang yang diramal dengan tarian oleh Sekartaji memang harus mengikuti setiap petunjuk Sekartaji untuk mendapatkan ramalan yang diharapkan. Untuk praktek ramal tari ini, Sekartaji melakukan persiapan dengan puasa sehari sebelum meramal tari.

Sekartaji menerangkan tidak ada efek yang berbahaya dengan ramal tari yang ia lakukan ini karena ia melakukannya dengan durasi waktu yang tidak begitu lama dan tidak banyak orang yang harus diramal.

“Besok saya akan meramal dua orang saja. Satu orang yang diramal masing-masing lima menit saja. Jadi silakan nanti teman-teman yang ada disini bisa diramal,” kata mahasiswi D-3 Fakultas hukum UGM ini.

Ke depan, untuk lebih memperkenalkan ramal tari ini kepada masyarakat, ia akan menggandeng event organizer. Juga bisa bekerjasama dengan komunitas Limbuk Cangik sebagai komunitas seni yang ia ikuti saat ini.

“Saya akan melibatkan EO event untuk bekerjasama. Selain itu ke depan saya juga akan berkolaborasi dengan Limbuk Cangik Community untuk melakukan ramal tari,” kata manager grup musik keroncong The Tjong Pick dan Gamelan Funky Gamelis Gambler ini.

“Saya optimis bahwa ramal tari yang baru pertama kali di indonesia ini dapat menjadi alternatif pilihan, baik dalam dunia seni dan hiburan maupun dunia ramal itu sendiri,” ujar Sekartaji. (The Real Jogja/joe)


Share on Facebook

Category : AGENDA, HEADLINE | 334 views
Tags : ,

Leave a Reply