art

Konser Jenn Lindsay di Sangam House, Saat Jenn Lindsay Sekuat Tenaga Mengatakan Allahu Hu Ackbar…

Dimuat Redaktur Jul 31st, 2010 dalam Kategori FEATURES, INFOTAINMENT, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

jenn

Konser penyanyi folk music Amerika Serikat Jenn Lindsay di Sangam House (28/7).

Suasana ruangan bagian dalam Sangam House, Rabu malam (28/7) tampak berbeda dari pada hari-hari biasa. Malam itu, Jenn Lindsay, penyanyi beraliran folk music dari New York Amerika Serikat mengadakan konser sederhana di taman Sangam House, di Jalan Kaliurang KM 6 Yogyakarta.

14 lagu dihadirkan Jenn Lindsay dengan menggunakan gitar akustik sederhana. Tanpa amplifier dan pengeras suara, Jenn Lindsay harus beradu suara dengan pengunjung restoran sangam House bahkan dengan blender pembuat minuman dingin yang menyela setiap kali Jenn melakukan prolog untuk lagu berikutnya yang akan ia nyanyikan.

Namun suasana ‘ramai’ itu tak membuat Jenn Lindsay dan penonton beranjak. Gaya penampilan Jenn saat prolog dengan menceritakan semua latar belakang lagu yang akan ia nyanyikan membuat penonton cukup terhibur.Bahkan merasa tak masalah saat beberapa kali Jenn kelupaan bait lagu yang harus ia nyanyikan.

Penampilan Jenn Lindsay malam itu sangat spontan, ringan dan komunikatif khas orang Amerika. Apalagi lagu-lagu bahasa Inggris-Amerika yang dibawakan Jenn juga mudah dicerna. 14 lagu yang dibawakan Jenn Lindsay Rabu malam itu berkisah tentang kehidupan pribadi, pandangan politik, persahabatan, romantisme, dari wanita muda yang sudah mengeluarkan delapan album ini.

14 lagu yang dibawakan Jenn Lindsay itu adalah Fangs, Good Things, Flecher Hills, Rain, Paper, Closure, The Well, 1-2-3-4-5, Spring, The Creeds of Jogja, Supposed To, Iam Breaking Up With You, Obama Song dan Came 2 Me.

“Lagu saya mengungkapkan banyak hal mulai dari romantisme yang sukses dan gagal, kebahagiaan tentang kemenangan Obama dan hilangnya Bush,” kata wanita berumur 31 tahun yang juga penulis lagu ini.

Lagu berjudul “The Obama Song” misalnya, ditulis Jenn Lindsay sebagai ekspresi kegembiraan dirinya ketika Barrack Obama memenangkan Pemilu di AS mengalahkan George W Bush yang ia anggap gagal memimpin Amerika Serikat.

Kemudian ada pula lagu berjudul “1-2-3-4-5” yang menceritakan salah satu kenyataan hidup yang harus ia alami di Amerika Serikat yaitu harus mengalami pemecatan sebanyak lima kali dalam bekerja.

Lagu “The Five Creeds of Jogja” terasa istimewa untuk para penonton. Lagu ini diciptakan Jenn Lindsay selama ia hidup dan bergaul menyaksikan realitas kehidupan Yogyakarta dalam dua bulan tinggal di Yogyakarta.

Jenn Lindsay mengatakan ia sangat terkesan dengan kehidupan Yogyakarta yang mempunyai kultur religi sangat kuat pada masyarakatnya. “Yogyakarta adalah  kota yang istimewa, banyak hal terjadi dan bisa dirasakan. Ada bayu rokok, ada juga suasana lalulintas yang menakutkan,” kata penyanyi yang akan segera ke Italia setelah dari Yogyakarta untuk menjalani tugas belajar dari beasiswa yang ia dapatkan.

“Masyarakat Yogyakarta sangat ramah dan beragam. Keberagaman itu juga muncul di dalam hal keagamaan dan akulturasi, misalnya ada tempat ibadah yang bernuansa tradisional Jawa. Karena itu, saya membuat lagu tentang Yogyakarta,” tambah Jenn Lindsay yang juga memainkan musik indie rock dan lagu-lagu bertema sosial.

Kekaguman Jenn Lindsay ini ia hadirkan dalam bait-bait lagu yang berisi doa-doa agama yang dianut masyarakat Yogyakarta pada awal dan pertengahan lagu ini. Ia menghadirkan mantra agama Hindu ‘Om Shanti Namaste’, serta mantra ‘Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha’ dari Buddhisme Mahayana.

Selain itu, Jenn juga mendengarkan penggalan adzan dengan aksen Inggris-Amerikanya. Dan pada akhir lagu “The Five Creed of Jogja” Jenn mengeja dengan sekuat tenaga kalimat “Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu Juga. Menarik sekali.

Adonai, sifaitai tiftash, ufi yaqid tahilatecha.

Allahu Hu Ackbar Allahu Hu Ackbar. Allahu Ackbar Allah Hu Ackbar.

Here in Jogja we wake up. To vuvuzela of world cups. From the mosque in the windows prayer calls

To the bread man and his cartoon shouts.

Asato ma sat gamyo, Asato ma sat gamyo. Om shanti, shanti namaste. OM shanti, shanti namaste.

Here in Jogja we come awake. Dry season rain near everyday.

Smells like jasmine and dove cigarettes traffic roar and moped thread

Praise god, from whom all blessings. Praise god, all creatures here bellow.

Here in Jogja we are awake. To rooster who crow through the night

To the church choir near yoga class to the indian oceans crash.

Gate gate paragate Parasamgate Bodhi Svaha. Gate gate paragate Parasamgate Bodhi Svaha.

Here is Jogja, 5 creeds awake. Jesus in sarong and Javanesse hat. Jilbabs bob down every street.

Climb nirvana, find the bodhi tree. Well, the Hindu’s built Prambana because the can

Holy spires with a holy plan..Confusins point at the moon. Look not at the hand but at the light

Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu. (The R

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau