Art Jog 10, Secara Pasar Memang Menurun, Secara Wacana Alami “Kenaikan”
July 29th, 2010 | 22:38

Lukisan tentang kuda berjudul " Chapter No.3975" karya Ugo Untoro ini menurut informasi sudah terjual pada malam pembukaan Art Jog pada 16 Juli yang lalu.
Perhelatan tahunan Jogja Art Fair yang tahun ini berganti rupa menjadi Art Jog 10, Kamis (29/7) memasuki hari terakhir penyelenggaraan. Sebagai event yang juga menampilkan wacana pasar didalamnya, Art Jog 10 mengalami penurunan hasil penjualan karya seni dibandingkan penyelenggaraan tahun JAF 2009 lalu.
Namun begitu, Art Jog 10 secara pasar wacana berhasil mendapatkan perhatian yang lebih luar dari pihak luar negeri. Jika pada penyelenggaraan JAF 2009 yang lalu, hanya masyarakat Asia yang datang dan bertransaksi, tahun 2010 ini banyak masyarakat Eropa, Australia juga Amerika menghadiri Art Jog 10 bahkan juga bertransaksi.
Direktur Art Jog 10, Satryagama Rakantaseta mengatakan secara kuantitas penjualan hasil karya seni rupa yang berlangsung selama penyelenggaraan Art Jog 2010 telah mencapai prosentase penjualan sebesar 40 persen. Hal ini tentu angka yang lebih kecil dibandingkan penjualan karya seni rupa dalam JAF 2009 yang diungkapkan Seto mencapai 60 persen.

Karya instalasi seniman Meizan Diandra Nataadiningrat berjudul "All I Understand That I Don't Understand" ini adalah salah satu karya non konvensional yang terbeli pada gelaran Art Jog 10 ini.
Seta, panggilan akrab pria ini menerangkan penurunan penjualan karya seni rupa dalam Art Jog 10 ini terjadi karena adanya krisis ekonomi global yang sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat internasional. Selain itu, persoalan seni rupa yang masih menjadi kebutuhan tersier bagi masyarakat juga turut mempengaruhi penjualan.
“(Membeli) karya seni rupa adalah kebutuhan tersier, bukan sekunder apalagi primer. Jadi orang tidak butuh tiap hari,” kata Seta. Apakah ini tidak diprediksi dari awal? Seta menerangkan, meski tidak mengenyampingkan faktor uang, event Art Jog 10 sebenarnya lebih mengedepankan eventnya sendiri yang menjadi media alternatif atau platform alternatif yang fokus mendukung keberadaan seniman muda berbakat.
“Kalau konsep pemikiran kita itu, target utama itu bukannya mengenyampingkan faktor uang/nominal kita lebih mengedepankan even itu sendiri yang merupakan media alternatif atau platform alternatif yang kita fokus support seniman muda berbakat,” terang Seta seraya menambahkan dengan penyelenggaraan event Art Jog 10 yang baik akan berdampak pada segi nominal yang bagus pula walaupun masih ada faktor-faktor lain.

Kali ini dengan karya patung bentuk anjing berjudul "Binatang Jalang" Agapetus Adi Kristiadana hadir dalam Art Jog 10 setelah JAF 2009 lalu menghadirkan patung Babi dengan tubuh berwarna macam-macam bendera yang laku Rp 180 juta. Karya menarik inipun sudah dibeli.
Dari 40 persen karya seni rupa yang terjual di Art Jog 10 ini, sekitar 30 persen dari total karya terbeli dibeli oleh pembeli mancanegara. Sedangkan 70 persen karya sisanya dikoleksi pembeli keseluruhan karya yang laku, sekitar 30 persen dari total karya dibeli oleh pembeli dari dalam negeri. Sedangkan 70 persen sisanya dikoleksi oleh pembeli dari luar negeri.
”Untuk yang reserve (menawar karya) kalau kemarin-kemarin ya banyak. Ada yang datang sini lihat langsung membeli, ada juga yang reserve memang ada tapi jumlahnya lebih sedikit dari yang langsung membeli. Yang reserve kira-kira mencapai 10-15 persen,” ungkap Seta tentang tawar menawar harga untuk karya seni selama Art Jog 10.
Seta menerangkan bukan hanya wajah-wajah lama saja yang karyanya terbeli. Namun banyak juga wajah-wajah baru, seniman dari Yogyakarta, Bandung juga Jakarta yang karyanya dibeli. Bahkan ada karya-karya yang terbeli itu bukan karya konvensional, bukan berupa lukisan atau patung yang sudah biasa kita lihat.

Beberapa relawan Art Jog 10 sedang berbincang disamping lukisan Maryanto berjudul "Intruder" yang juga telah terjual dalam Art Jog 10 ini.
“Yang laku teryata bukan hanya karya dua dimensi seperti lukisan saja, tapi juga karya instalasi seperti ‘All I Understand that I don’t Understand’ dari kawat berduri buatan ,” kata Seta menyebut karya instalasi dari Meizan Diandra Nataadiningrat.
Tidak hanya dari Asia
Menyinggung tentang perkembangan 10 hari penyelenggaraan Art Jog 10 ini, Seta menjelaskan penyelenggaraan Art Jog 10 dibandingkan JAF 2009 menghadirkan pengunjung yang lebih bervariasi berdasarkan asal pengunjung itu. Jika JAF 2009 lalu, pengunjung internasional hanya dari Asia, pada Art Jog 10 ini, tidak hanya dari Asia yang datang tapi juga dari Eropa, Australia serta Amerika yang hadir dan beberapa diantara mereka juga membeli karya seni rupa yang dipamerkan.
“Kita lihat dari (beberapa benua) dunia banyak yang datang, tidak hanya dari Asia tapi juga Australia, Eropa dan Amerika dan mereka ini juga menjadi pembeli potensial dan beberapa dari mereka membeli (karya). Itu perbedaan yang muncul dari (penyelenggaraan JAF) kemarin dimana yang hadir hanya dari Asia yang riil melakukan transaksi, dari Australi juga bertransaksi,” ungkap Seta.

Karya Saftari yang merepresentasikan dunia pendidikan tanah air dalam judul "Exsploitatif Learning Ki Hadjar Dewantoro" ini juga terjual dalam gelaran Art Jog 10 ini.
Seta menerangkan, alasan kedatangan masyarakat internasional ini karena mereka mendapatkan informasi tentang kekuatan seni rupa Indonesia dengan negara lain terutama dari Asia bahkan dengan negara mereka sendiri seperti Eropa dan Australia.
“Yogyakarta… Ya ya ya beberapa dari mereka (mengatakan) suatu saat dalam waktu dekat ini Yogyakarta menjadi pusat seni rupa dunia karena banyak orang asing yang memiliki galeri disini,” kata Seta saat ditanya apakah pengunjung dari banyak negara itu juga memperbincangkan seni rupa Yogyakarta.
Tentang banyak usulan yang mengatakan JAF mengundang seniman internasional untuk turut berpartisipasi, Seta mengatakan visi JAF selalu berusaha menyelenggarakan event ini dengan lebih baik. Memang publikasinya lebih untuk lokal Indonesia.
“Harapan kita lebih banyak seniman yang mewakili person atau galeri dari negara lain. Saya pikir yang penting kompetisinya. dengan berkompetisi akan semakin memunculkan karya yang jauh berkualitas,” jelas Seta. (The Real Jogja/joe)

Lukisan berjudul "Inspiring" karya Gusman Hariadi ini juga sudah terbeli.
Tweet
Category : HEADLINE, WACANA | 285 views
Tags : art jog 10, Satryagama Rakantaseta










