Teguh Ostenrik Solo Ekshibition “DeFacement”, Menyaksikan Mutan-Mutan Yang Sederhana Nan Emosional

July 25th, 2010 | 15:21

halim

Halim HD,kawan Teguh Ostenrik sedang menikmati karya "mutan" Teguh berjudul "Loh Kok Muncul Juga Sih?" pada pembukaan pameran tunggal Teguh Ostenrik bertajuk "DeFacement" di Tembi Contemporary, Sabtu (24/7).

Teguh Ostenrik, visual artist of the year 2009 versi majalah Tempo ini berpameran tunggal di Tembi Contemporary dari 24 Juli-15 Agustus 2010 mendatang. Teguh Ostenrik Solo Exhibition ini mengusung tema “DeFacement”.

Pria kelahiran Jakarta ini memamerkan 19 lukisan dan 13 patung yang telah ia ciptakan sejak 2007 hingga 2010 ini. Teguh Ostenrik adalah seniman yang begitu populer dengan karya seni rupa berupa wajah.

Wajah dalam pemikiran seorang Teguh Ostenrik bahkan telah menjadi obsesi sejak ia mengawali karirnya sewaktu masih besekolah di Jerman (1976). Kala itu Teguh menciptakan karya “Homo Sapiens Bertopeng”.

Halim HD memberi penjelasan tentang  sosok Teguh Ostenrik yang dulu membuat karya-karya abstrak ekspresionis pada tahun 1980-an dan tidak menampilkan karya wajah seperti sekarang ini. “Teguh dulu abstrak ekspresionis hingga berkembang seperti ini (karya-karya lukis DeFacement yang dipamerkan). Dulu ngga ada bentuk-bentuk wajah seperti ini,” kata kenalan Teguh Ostenrik sejak 30 tahun lalu ini.

Lukisan Mutan

Kurator pameran “DeFacement” Chris Kerrigan mengatakan, setelah sempat menghasilkan beberapa seri ekspresinisme abstrak hampir murni, Teguh Ostenrik kembali ke lukisan wajah dalam seri yang diberi judul “Mutan”.

Pameran “DeFacement” di Tembi Contemporary menghadirkan deformasi dasar wajah mutan yang lebih sederhana. Kesederhanaan itu muncul dalam bentuk yang mengubah pandangan dari representatif ke re-intrepretatif.

“Lukisan-lukisan tidak hanya menggambarkan wajah dalam bentuk dua dimensi. Sebaliknya, (wajah-wajah mutan itu) menghadirkan dekonstruksi metafisik dari wajah yang menggabungkan fitur, emosi, gerakan dan energi sekaligus,” jelas Chris Kerrigan.

Menurut Chris, wajah-wajah mutan dalam karya-karya Teguh memiliki kejelasan identitas kolektif namun gelisah dan lusuh. Karakter-karakter dalam lukisan-lukisan “DeFacement” ini tetap saja tanpa nama, namun hadir dengan emosi yang berbeda dari masing-masing karya.

Sepintas melihat karya-karya lukis mutan Teguh Ostenrik akan menimbulkan pertanyaan apakah lapisan warna-warna tersebut menggambarkan seseorang? Tapi mengapa wajah itu seperti kabur karena gerakan?

Contoh nyata dari kesederhanaan element wajah dalam karya Teguh Ostenrik bisa dilihat dalam karya “Ok, Now U R Gone Again” (2007). Lukisan ini menghadirkan warna hitam, abu-abu dan hijau. Dengan kemahiran seorang Teguh, kita diberi kesan berubahnya suasana hati hanya dengan sedikit sentuhan pada kuas.

Sementara pada lukisan “Tango on Tomorrow’s Dream”(2007) adalah sebuah kanvas panorama dengan beragam nuansa warna merah, hijau dan biru, aneka warna lembut yang saling tumpah tindih satu sama lain. Pada karya berjudul “Flying Horison” Teguh Ostenrik memunculkan keanggunan yang menawan pada setiap wajah Zen bagi setiap yang memandang.

Chris Kerrigan menilai ide ini mendekonstruksi wajah secara otomatis membawa pikiran teori Kubisme, di mana subjek biasanya dibongkar dan disusun kembali dalam bentuk yang disarikan. Inti dari kubisme adalah untuk meratakan subjek dan melihatnya dari berbagai sudut pada bidang yang sama.

“Meski dengan pendekatan yang tidak terstruktur, dan sedikit membawa arti harfiahnya, karya-karya “DeFacement” Teguh adalah Kubisme,” demikian Chris Kerrigan.(The Real Jogja/joe)


Share on Facebook

Category : ARTIST, HEADLINE | 243 views
Tags : , ,

Leave a Reply