Pentas Wayang Bocah “Srikandi Mustokoweni”, Generasi Terbaru 73 Tahun Perjalanan Padepokan Seni Cipto Budoyo
July 23rd, 2010 | 17:26

Salah satu adegan pementasan wayang bocah "Srikandi Mustokoweni" oleh Komunitas Wayang Bocah Padepokan Seni Cipto Budoyo Magelang pada Jagongan Media Rakyat, Jum'at (23/7) di JNM.
“Ngono Kuwi rapopo kanan kiri…” ujar Giyono pelatih tari kepada Dimas yang jadi Petruk yang sedang latihan memukul raksasa.
“Yo…yo..di candak..gentenan.. Petruk dhisik Petruk…,” kata Giyono lagi kepada Dimas, Dias, Restu dan Adji yang sedang latihan perang anggota punokawan dan raksasa.
Giyono adalah pelatih tari Padepokan Seni Cipto Budoyo yang sedang melatih adegan perang Dias, Dhimas, Restu dan Adji. Mereka berempat memerankan punokawan dan raksasa.
Mereka berempat dan 20 anak-anak anggota Padepokan Seni Cipto Budoyo akan melakukan pentas wayang bocah berjudul “ Srikandi Mustokoweni” saat pentas pada penyelenggaraan Jagongan Media Rakyat, di Jogja National Museum, Jum’at (23/7).
20-an anak-anak anggota Padepokan Seni Cipto Budoyo berasal dari Dusun Tutup Ngisor Desa Sumber Kecamatan Dukuh Kabupaten Magelang. Mereka adalah generasi terbaru dari Padepokan Seni Cipto Budoyo yang muncul kali pertama tahun 1937 lalu.
Sitras Anjilin, Ketua Padepokan Seni Cipto Budoyo menerangkan, sejak pertama kali muncul padepokan ini, memang sudah beranggotakan anak-anak yang berkumpul dalam komunitas sendiri yaitu komunitas wayang bocah
“Anggota komunitas wayang anak ini berasal dari anak-anak yang masih TK, SD hingga SMP. Kita memang tidak membawa seluruh anggota komunitas wayang bocah ini yang jumlahnya lebih dari 30 anak,” kaya Sitras di ruang transit sebelum pentas.
Untuk melakukan pementasan wayang bocah ini, anak-anak Padepokan Seni Cipto Budoyo telah melakukan persiapan pentas dibawah bimbingan Sitras Anjilin yang membuat naskah pertunjukan “Srikandi Mustokoweni” serta pembimbing lain seperti halnya Giyono.
Sitras menjelaskan selama latihan, anak-anak ini dilatih beberapa bagian pertunjukan seperti ontowecono(dialog), tarian dan pengenalan karakter tokoh yang akan mereka tampilkan.
“Biasa saja. Tidak harus bagus. Tidak harus menari bagus. Asal bisa tampil,” kata Sitras menerangkan situasi melatih anak-anak yang memang masih sangat bocah ini. Menurut Sitras, melatih seni kepada anak-anak jaman sekarang dan jaman dulu pada waktu ia masih anak-anak memang ada perbedaan.
“Kalau jaman dulu anak-anaknya lebih focus karena hiburan masih sedikit,” kata Sitras. Sementara kalau sekarang ini sudah banyak hiburan terutama televisi yang disukai anak-anak. “Namun TV bisa jadi media untuk melihat seni yang berbeda dari anak-anak mainkan,” kata pria yang sudah pentas sejak tahun 80-an ini.
Padepokan Seni Cipto Budoyo termasuk juga komunitas wayang bocahnya sudah berumur 73 tahun lamanya sejak kelahirannya. Namun sampai saat ini, selalu hadir generasi baru yang menggeluti seni budaya wayang.
Namun menurut Sitras, sebenarnya komunitas wayang bocah ini tidak sedang pada posisi melestarikan seni budaya tapi menjalani saja seni budaya yang sudah ada. “Karena selalu melakukan (pentas wayang bocah) saja. Bukan berarti kita nguri-nguri budaya. Apalagi di jaman sekarang,” jelas Sitras.
Ria Ervina, salah satu pemain wayang bocah ini mengatakan dirinya sangat senang bisa pentas bersama kawan-kawannya. “Seneng aja,” kata Ria yang berperan menjadi Srikandi dalam pementasan “Srikandi Mustokoweni”.
Sementara itu, Slamet Widodo mengatakan, ia tidak merasa takut atau sungkan untuk pentas wayang bocah yang akan dilihat banyak penonton.
“Gampang saja. Karena sudah latihan, biasa aja,” kata siswa kelas VI SDN Dukuh III Sumber ini.
Wayang bocah berjudul “Srikandi Mustokoweni” yang ditulis Sitras Anjilin ini bercerita tentang upaya balas dendam Raden Mustokoweni terhadap Arjuno karena Pandawa satu ini telah membunuh ayah Mustokoweni.
Untuk membunuh Arjuno, Mustokoweni mencuri pusaka kerajaan amarta, Jamus Kalimasada. Mustokoweni paham, jika Jamus Kalimasadha ini ia ambil maka Pandawa termasuk Janaka akan lemah.
Memang Mustokoweni berhasil mengambil Jamus Kalimasadha dari kerajaan Amarta. Namun perilaku jahat itu diketahui oleh Srikandi, istri Arjuno. Lalu Srikandi mengejar Mustokoweni. Namun Srikandi gagal mengejar. Di tengahpengajarannya, Srikandi bertemu dengan Priyambodo, anak Arjuno yang sedang mencari Arjuno.
Akhirnya Priyambodo berganti mengejar Mustokoweni. Terjadilah peperangan antara Priyambodo dan Mustokoweni yang dimenangkan Priyambodo. Mustokoweni mengakui kekalahannya dan menyerahkan kembali Jamus Kalimasadha ke Priyambodo.
“Kisah “srikandi Mustokoweni “ ini diambil dari kisah Mahabarata sebagai kelanjutan kisah “Arjuno Wiwaha”,” kata Sitras Anjilin. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, PANGGUNG | 529 views
Tags : Komunitas wayang bocah padepokan seni Cipto Budoyo, srikandi mustokoweni










