Indonesia-Poland Exhibition”coExistence”, Upaya Saling Belajar Kebudayaan Eropa dan Asia

July 16th, 2010 | 09:03

obama

Karya sophisticated seorang Wimo Ambala Bayang, video art berjudul "Obama" yang sedang disaksikan seorang pengunjung internasional pada Indonesia-Poland Exhibition bertema "coExistence" di Temby Contemporary, Kamis malam (16/7).

Hong wilaheng sekareng bawono…hong wilaheng sekarang bawono… hong wilaheng sekareng bawono… hong wilaheng sekareng bawono… hong wilaheng sekareng bawono… hong wilaheng sekareng bawono langgeng….”

Sejenis mantra kejawen yang diucapkan Heri Dono tersebut menjadi pembuka Indonesian-Poland Exhibition bertajuk “coExistence” di Tembi Contemporary, Kamis (15/7). Heri Dono menjadi sedemikian cerdas dengan menampakkan ciri lokalitas Jawa dengan mantra kejawen itu dimana makna dari mantra itu sesungguhnya berlaku untuk masyarakat global pula.

Ia melihat pengisi acaranya adalah gejug lesung Maharani sebagai salah satu bentuk budaya lokal maka ia berusaha menciptakan kesempurnaan malam pembukaan pameran itu dengan menyenandungkan mantra kejawen itu dibarengi tetabuhan gejug lesung Maharani yang ritmis.

flowers

Karya unik seorang Malgorzata Markiewicz berjudul "Flowers" yang menghadirkan instalasi aneka warna pakaian dalam, rok dan penutup dada wanita.

Pameran Indonesia-Polandia  dengan tajuk “coExistence” ini bisa dikatakan sebagai pameran internasional (global) terbesar dalam satu dekade terakhir yang digelar di (lokal)Yogyakarta. Ada 21 seniman dari beberapa negara Eropa Tengah seperti Slovenia, Estonia, Polandia sendiri juga Amerika Serikat serta Indonesia (9 seniman).

Seniman seniman Eropa Tengah dan negara yang lain tersebut adalah Aleksandra SKA, Andrej Wasilewski, Anna Klimczak, Dorota Chilinski, Jaan Toomik, Konrad Kuzyszyn, Leszek Knaflewski, Malgorzata Markiewiecz, Roger Bourke, Stano Masar, Tomas Wendland serta Tomas Vanek.

Sementara seniman-seniman Indonesia (Yogyakarta) adalah Anis Ekowindu, David Armi Putra, Krisna widiathama, Gintani Nur Apresia Swastika, Indiegurilas, Iwan Widjono, Simponi, Wimo Ambala Bayang dan Yuvita Dwi Raharti.

Heri Dono bercerita pameran Indonesia Polandia “coExistence” ini adalah pameran yang berasal dari bawah dan bukan dari pemaksaan (ide atau juga kepentingan) karena rencana pameran bersama tersebut sudah didiskusikan sejak 1997 lalu ketika pertama kali dirinya bertemu Tomas Wendland di Perancis.

they sleep

Seorang pengunjung sedang memperhatikan lukisan "They Sleep for Them" karya Leszek Knaflewski.

“Waktu itu diperbincangkan rencana Pameran seni rupa Eropa dan Asia. Rencana awalnya akan dilakukan di China. Namun dengan politik soft power mereka, China membuat pameran sendiri. Mereka membuat katalog pamerannya dari kulit. Ada filsafat yang disebut soft politic yang dilakukan China. Jadi bukan memakai politik fisik tapi dengan halus,” kata Heri Dono.

Ia menilai, pameran Indonesia-Polandia dengan tema “coExistence” ini adalah benar-benar pameran internasional karena melibatkan dua negara bahkan menjadi banyak negara. “Meskipun dilaksanakan di Eropa tapi kalau pesertanya hanya dari Eropa tidak bisa dikatakan sebagai pameran internasional,”kata seniman yang telah menglobal ini.

Menurut Heri Dono, pameran ini adalah upaya mencoba saling belajar kebudayaan antara Asia dan Eripa terutama Indonesia dengan Polandia. Ada proses saling memperhatikan budaya masing-masing. Dengan seperti ini, ada ruang nilai keabadian tentang seni dan kebudayaan. Ini yang penting harus ada.

“Pameran internasional ini tidak dihegemoni seni pasar seperti Amerika yang memaksa seni pasar saat ini. Pameran ini adalah dialog yang syfatnya bukan hegemoni pasar seperti yang terjadi di Indonesia saat ini,” jelas Heri Dono.

Sementara itu, Thomasz Wendland, kurator pameran Internasional Indonesia Polandia “coExistence” melihat pameran ini adalah usaha untuk membuka jembatan antara Middle Europe dan karena pada bulan September mendatang akan diselenggarakan konferensi Eropa-Asia yang akan diikuti 24 menteri dari dua benua ini.

“Indonesia akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi tersebut dalam dua tahun mendatang dan saya akan mendukung Inonesia dan membuat kolaborasi antara Polandia dan Indonesia,” kata Thomasz .

Thomas menambahkan, pameran ini adalah pertemuan dua negara yang sangat berbeda namun bisa menciptakan pengertian bersama-sama sehingga semua pihak bisa saling belajar bagaimana saling bertukar kualitas seni antara Polandia dan Indonesia serta membuka kolaborasi lebih panjang lagi

“Saya berharap tahun depan atau tahun berikutnya saya dapat mengundang seniman Indonesia dari Biennale Yogyakarta atau bisa berpameran di polandia sehingga bisa mewujudkan kerjasama dan banyak kemungkinan berbeda lainnya,” kata Direktur Mediations Biennale Poznan Polandia ini.

33 karya kolaborasi

Indonesia-Poland Exhibition ini yang akan berlangsung dari 15-20 Juli mendatang menurut Alia swastika, penulis pameran ini, menghadirkan 33  karya-karya seni lukis, patung, instalasi, video art yang membicarakan pandangan individu tidak hanya merepresentasikan  kumpulan kenangan tapi juga persoalan dunia.

“Melalui pengalaman artistik dan visi estetik dari senimannya, dunia dalam pandangan para seniman menjadi sesuatu yang sangat unik, dan diatas semuanya sangat futuristik,” kata Alia.

Pada karya Malgorzata Markiewitz berjudul “Flowers” misalnya sangat unik untuk disaksikan. Malgorzata menciptakan bentuk-bentuk bunga yang sedang mekar warna-warni dari aneka warna pakaian dalam wanita, rok serta penutup dada wanita  yang diletakkan di lantai ruang pamer Tembi Contemporary. Sangat unik dan nyaris tak terpikirkan barangkali oleh para seniman Indonesia.

Sementara Wimo Ambala Bayang menampilkan pengalaman berkesenian terbarunya melalui sentuhan dan visi menyegarkan. Wimo memproses pidato inagurasi Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama ke dalam bentuk rekaman yang menjadi bentuk video art yang ia ciptakan selama mengikuti program residensi di Belanda.

“Karya Wimo ini menunjukkan bagaimana “global” dan personal” begitu saling membutuhkan (interlocking), rasa menjadi bagian dari optimisme komunitas dunia terhadap adanya pemimpin dunia mendatang seperti halnya encompassing pengalaman personal pada tempat yang tidak dikenal. Tanda tentang globalisasi, identitas transnasional dan perputaran lalulintas bahasa adalah isu yang dikembangkan seorang Wimo,” terang Alia.

Indonesia-Poland Exhibitions “coExistence” menurut Thomasz Wendland, adalah hasil dari dunia yang telah mengglobal (globalized world) dimana semua pihak sangat tertarik  untuk mendapatkan pengalaman budaya yang berbeda, agar bisa terinspirasi, namun pada saat yang sama kita tidak mau kehilangan identitas lokal kita sendiri.

“Kita senang membagi kekayaan kita, tapi kita ingin ingat siapa diri kita. Untuk tetap ada (exist), kita harus belajar bagaimana untuk bisa bekerjasama ada (coexist) pada planet yang sama. Seni adalah bahasa visual yang bisa dipergunakan semua orang. Seni adalah platform untuk berkomunikasi dan pintu untuk melihat budaya yang lain. Seni adalah ruang untuk bertemu dengan bebas bagi semua individu,” terang Thomasz. (The Real Jogja/joe)


Share on Facebook

Category : FOTO, pameran | 619 views
Tags : , , ,

Leave a Reply