Pameran Tunggal ” Dark Sayings Longlife Disorderly” Krisna Widiathama, ‘Gelap’ tapi Nyaman

June 28th, 2010 | 14:32

krisna

seorang pengunjung sedang mengambil gambar karya lukis Krisna Widiathama berjudul " “Orgasmic Trancendent to Golgotha” di ruang pamer Temby Contemporary, Minggu (23/6)

Dark Sayings Longlife Disorderly. Itulah judul pameran tunggal seorang Krisna Widiathama yang dilakukan di Tembi Contemporary sejak 22 Juni hingga 12 Juli 2010 mendatang. Seperti judul pamerannya, karya-karya Krisna menghadirkan sisi gelap kehidupan manusia yang menurut Krisna hadir dalam beberapa hal.

Misalnya beberapa ayat dalam kitab suci yang membutuhkan interpretasi alegoris dalam menafsirkannya. Selain itu juga seringkali dihubungkan dengan kebijakan kuni yang diyakini telah ada sebelum kitab-kitab suci diturunkan.

Karya-karya “gelap” Krisna juga dimunculkan dari penghayatan Krisna melalui jenis-jenis musik yang “gelap” seperti down tune metal, drone, ambient serta death rock/goth. Selain musik, ada pula film dan komik bergenre  horor klasik.

Visualisasi Krisna

Krisna Widiathama, dalam catatan Rain Rasidi bukanlah “pengikut” seni kontemporer saat ini namun menggali seni-seni underground seperti komik, kartun populer, ilustrasi, tato dan skate art. Meski bukan termasuk dalam bagian seni kontemporer saat ini, keberadaan Krisna dengan karya-karyanya itu bagian dari kecenderungan baru berkeseni rupaan yang menarik perhatian dunia seni di Indonesia.

Rain Rasidi mencatat, karya-karya Krisna mempertahankan bentuk-bentuk seni yang menampilkan persoalan ketrampilan dam kemampuan melukis dan menggambar sekaligus sehingga memunculkan karya-karya dengan kekuatan kekriyaan besar.

Kekriyaan itu dihasilkan antara lain dengan teknik melukis klasik, proses cukil kayu yang membutuhkan ketelitian tinggi. Dengan begitu, menurut Rain Rasidi tema-tema kekerasan dalam karya Krisna hadir dengan gaya visual yang rumit sehingga mengalihkan tema kekerasan yang begitu eksplisit ada berganti konsentrasi pada kecanggihan teknik yang menghasilkan ornamentasi visual.

“Fantasi menjadi hal paling dominan dalam karya Krisna. Krisna dengan bebasnya menciptakan dunianya sendiri dengan gaya visualisasinya sendiri,” kata Rain dengan menjelaskan figur-figur dalam karya Krisna adalah kolaborasi fantasi serta citra-citra fantasi yang sudah ada sebelumnya.

Tema-tema karya Krisna

Selain kekerasan, karya-karya Krisna juga menampilkan tema ritus, keyakinan, nafsu serta seks. Manifestasi manusia sebagai ciptaan tuhan yang sempurna (juga dalam bentuknya) diubah menjadi bentuk-bentuk tak teratur dan mewakili situasi chaos.

Karya-karya Krisna akhirnya dipenuhi visualisasi monster yang sudah bermutasi, lelehan darah, salib dan tulang, tengkorak, peti mati dll. Karya patung berjudul “Hunger Oh Hunger” dari fiberglass misalnya, dunia fantasi seorang Krisna merubah manifestasi manusia dalam bentuk bayi perempuan menjadi mutan telanjang dengan lekuk tubuh sensual dan berwarna soft pink.

“Hunger on Hunger” adalah representasi dari pandangan pribadi Krisna terhadap realitas gejala pedofil yang dimiliki pemuka agama. Judul lukisan “Resep yang Salah untuk Menciptakan Anak Teladan” karya Krisna diinspirasi film kartun Power Puff Girl.

Krisna dalam lukisan ini menyulap tiga gadis manis dalam lakon Power Puff Girl itu menjadi tiga gadis yang mengerikan dan menyukai musik “black metal”. Tema seks hadir cukup dominan dalam karya-karya Krisna. Dalam “Orgasmic Trancendent to Golgotha” tema seks diadu dengan tema agama muncul dalam bentuk mutan yang berdo’a sampai orgasme dengan mencekik malaikat menggunakan tiga salib tertancap dikepalanya.

“Orgasmic Transendent to Golgotha” merepresentasikan pemikiran tentang kepercayaan berlebihan terhadap tuhan/agamanya. Sementara karya Krisna yang diinspirasi musik adalah Entertained by Death yang berupa cukilan yang menampilkan cukilan kayunya dan bukan hasil pada kertasnya.

Rain Rosidi mencatat, aktifitas berkarya Krisna Widiathama menghadirkan fantasi, konsentrasi dan ketekunan tinggi. Sisi gelap manusia yang menjadi inspirasi dalam karya-karya menjadi gaya visualisasi yang enak ditonton. (The Real Jogja/joe)


Share on Facebook

Category : HEADLINE, pameran | 496 views
Tags : ,

Leave a Reply