Peluncuran Buku “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono, Jalan Gerilya Jual Buku Seorang Sapardi Djoko Damono
June 24th, 2010 | 20:35

Sapardi Djoko Damono berfoto bersama buku "Hujan Bulan Juni" di Teater Garasi Yogyakarta, Rabu (23/6).
Rabu (23/6) malam, Teater Garasi menyelenggarakan acara prestisius, peluncuran ulang buku “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Sapardi Djoko Damono tentu nama besar dunia sastra di tanah air. Begitu banyak karya sastra berupa antologi puisi juga cerita pendek diciptakan dan mendapat perhatian sekaligus penggemar luar biasa.
Tahun 1994, Sapardi Djoko Damono menerbitkan buku “Hujan Bulan Juni” bersama Grasindo untuk kali pertama. Ketika buku tersebut pada Rabu (23/6) malam di studio Teater Garasi diterbitkan ulang tentu ada hal besar yang ingin diperlihatkan oleh seorang Sapardi Djoko Damono.
Sapardi Djoko Damono menerbitkan ulang buku “Hujan Bulan Juni” ini tanpa keterlibatan toko buku. Artinya ia melakukan gerilya untuk menjual buku terbarunya ini. Inilah hal besar dalam acara ini. Sastrawan sebesar Sapardi Djoko Damono menjual buku sendirian. Ada apa ini?
Kepada wartawan, Sapardi mengatakan ia tidak sedang melakukan perlawanan terhadap penerbit buku. Apa yang ia lakukan saat ini dengan jualan buku lewat performance, sms, internet adalah masalah kecanggihan berjualan. Ini adalah model marketing anak muda jaman sekarang yang menjual kreasi seninya secara independen.
“Ini cara baru. Di Amerika Serikat tidak harus ke toko buku (kalau membeli buku). Hubungi internet,” kata Sapardi. Ia menambahkan bisa saja di masa depan ia menerbitkan bukunya dengan bantuan teknologi informasi seperti e-book.
“Bisa saja. Kita sudah bisa membayangkan di masa depan dengan bantuan teknologi bisa menerbitkan buku,” kata pria berumur 70 tahun ini.
Toh Sapardi secara terbuka pula mengatakan bahwa bekerjasama dengan toko buku tidak efektif. “Baru masuk ke toko buku (penerbit buku) sudah dipotong 50 persen,” kata Sapardi.
Sapardi Djoko Damono akhirnya menjadi korban dari industri buku tanah air yang tidak sehat. Ia menceritakan dirinya melihat di toko-toko buku sudah tidak lagi ditemui buku Hujan Bulan Juni terbitan pertama (Grasindo, 1994) padahal buku ini sudah tiga kali dicetak ulang.
“Padahal banyak orang bertanya dan mencari. Saya tanya ke Penerbit Grasindo katanya mau dicetak ulang, namun saya berpikiran menerbitkan sendiri,” ujar Sapardi di tengah-tengah peluncuran bukunya.
Sapardi mengakui pihak Grasindo menyambut baik keinginan dirinya untuk menerbitkan buku sendiri. “Kata Grasindo, mau diterbitkan ulang lagi. Tetapi saya justru malah berpikiran untuk menerbitkan sendiri saja, dan mereka malah menyambut baik kok,” begitu pengakuan pujangga terkemuka tanah air ini.
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono menerbitkan buku Hujan Bulan Juni baru ini bekerjasama dengan penerbit Editum. Di bandingkan dengan Hujan Bulan Juni pertama, buku kedua ini hampir tidak ada perbedaan.
Memang ada penambahan dan penghapusan pada beberapa sajak karena pertimbangan praktis. Sajak-sajak dalam buku Hujan Bulan Juni terbaru ini dipilih dari beberapa buku puisi yang telah terbit sebelumnya seperti duka-Mu abadi (1969), Mata Pisau (1974) dan Perahu Kertas (1983). Ia juga menambahkan beberapa sajak yang tidak sempat dimasukkan ke dalam buku-buku tersebut yang ditulis dari tahun 1964-1994.
Dalam sejarah kepenulisan seorang Sapardi Djoko Damono, ada 30-40 buku yang telah ditulis ditulis pria kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 ini. Hingga sekarang yang sudah dicetak ulang ada 14 buku.
“Ada sekitar 30 hingga 40 buku yang telah saya tulis baik itu buku akademik untuk bahan perkuliahan maupun buku sastra,” jelas Guru Besar Fak. Sastra UI ini.
Pada Rabu malam itu, juga digunakan untuk peluncuran buku kumpulan cerita Waluyo DS berjudul “Cello” . Waluyo DS adalah karib Sapardi Djoko Damono. Reuni dua sastrawan ini terasa lengkap ketika Rachmat Djoko Pradopo, Guru Besar FIB UGM yang juga karib pada masa muda mereka hadir untuk memberikan apresiasi terhadap buku “Cello”.
“Saya tidak ingin mengomentari buku buatan saya sendiri. Jadi kalau saya disuruh ngomong ya saya akan ngomong, belilah buku saya…” kata Waluyo DS yang disambut tawa penonton.
Rabu malam itu, seperti sedang berlangsung perayaan “lahirnya” kembali seorang Sapardi Djoko Damono. Teater Garasi yang mendapat kontak langsung dari Sapardi Djoko Damono untuk menyelenggarakan peluncuran bukunya membuat acara yang Sapardi Djoko Damono sekali.
Semua performance yang digelar oleh anggota Teater Garasi seperti Hindra Setya Rini, Naomi Srikandi, Kusworo Bayu Aji) juga Kusen Alipah Hadi, kelompok musik Belkastrelka serta Irama Tongkol Teduh mengajak penonton untuk menyimak kembali kehebatan Sapardi Djoko Damono dalam membuat puisi juga cerita pendek. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, SASTRA | 635 views
Tags : Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono, teater garasi











saya lagi nyari buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang hujan bulan juni,
dan baru tahu ternyata dicetak ulang
gimana caranya kalau saya mau beli?
makasi
Silakan Menghubungi Gunawan Maryanto (Teater Garasi) 081802616608 atau Teater Garasi (0274 415844