Pameran 6th WAS Symposium “Art Under Volcano”, Kolaborasi Seniman Tiga Negara Untuk Korban Gempa Yogyakarta
June 13th, 2010 | 15:40

Dua pengunjung dari Jepang mendiskusikan karya fotografi Bart Lentze berjudul "Merapi"
Sebuah pameran kemanusiaan dihelat Museum Affandi bekerjasama dengan World Art Delft Belanda dengan tajuk “Art Under Volcano”. Pameran ini akan berlangsung 12-20 Juni mendatang. World Art Deflt (WAD) adalah yayasan di Belanda yang ingin memberikan perhatian terhadap kekayaan budaya di seluruh dunia.
Pameran “Art Under Volcano” ini bisa terselenggara setelah terjadi pertemuan tidak sengaja Kartika Affandi dengan rombongan WAD di Bebeng, sebuah kawasan lereng gunung Merapi saat rombongan WAD mengadakan Simposium Seni Internasional di The Cangkringan Villa&Spa.
Dodog Suseno, seniman mengatakan WAD awalnya tidak punya rencana untuk membuat pameran. Karena tanpa sengaja bertemu dengan Kartika Affandi pada saat melakukan kegiatan seni dengan beberapa senimam di lereng Merapi lalu tercapai kesepakatan untuk berpameran di Museum Affandi.
“Mami (panggilan Dodog kepada Kartika Affandi) lalu bilang sama kita-kita bagaimana kalau saya bisa membantu untuk membuat pameran. Wah ini suatu kehormatan karena kita tidak berfikir untuk pameran. Apalagi kita orang asing disini belum banyak yang tahu tentang kita,” cerita Dodog Suseno.

pengunjung menyaksikan karya seniman Jepang Seiko Kajiura yang membuat seni instalasi lalu dipotret dengan judul karya "Small World"
Bagi Kartika Affandi, pameran yang ia selenggarakan bersama WAD ini adalah hubungan saling bekerjasama antarseniman. Seniman-seniman yang terlibat pameran “Art Under Volcano” ini beberapa diantaranya adalah teman lama Kartika Affandi.
“Ada beberapa teman lama. Ibu kalau di luar negeri juga ditampung mereka. Jadi timbal balik,” aku Kartika Affandi.
Selain itu, pameran ini bertujuan untuk kemanusiaan. Hasil penjualan dari karya seni yang dibuat para seniman yang dipamerkan ini semuanya akan disumbangkan kepada korban gempa Yogyakarta tahun 2006 yang lalu
“Ada satu tujuan bagi mereka, karya ini dijual, dan hasilnya 100 persen diberikan kepada korban gempa Yogyakarta. Jadi tujuannya memang kemanusiaan,” ungkap Kartika Affandi.
Seniman tiga negara
Lebih dari 30 karya seni rupa baik lukisan, fotografi, instalasi, patung dipamerkan oleh 13 seniman dari tiga negara yaitu Belanda, Jepang dan Indonesia. Mereka adalah Paula Kouwenhoven, Joyce Bloem, Tamaar Toth Varju, Yvonne Muizert, Yu Minami, dan Bart Lanze. Dari Indonesia ada seniman Dodog Suseno serta Johni Bogi. Dari Jepang ada Noriko Yida, Masahide Kudo, Jun Sato, Seiko Kajiura dan Yoshiki Takata.

Instalasi dari tekstil karya Tamaar Toth Varju (Belanda) berjudul "Waiting For Fire Flies".
Tema “Art Under Volcano” mempunyai makna sebagai hubungan mendasar pada rasa takut terhadap bencana yang akan melanda dunia sebagai wujud dari dampak krisis serta perubahan iklim, penderitaan serta kesenjangan sosial.
“Dengan filosofi ini, seni dapat berperan secara mandiri memberikan pandangan kepada dunia, agar manusia bekerja menghindari konfrontasi dari kekerasan dan penderitaan dunia,”kata Pretty Dwi Yossusanti dari Museum Affandi.
Sementara itu, Direktur WAD, Paula Kouwenhoven, dengan mengikuti pameran “Art Under Volcano” ini WAD hendak membuat jembatan guna membuka batas-batas perbedaan budaya atau kesamaan, individu atau bagian yang lebih luas.
“Seni memberikan pandangan pada setiap budaya yang mampu menuntun pada hal lebih baik untuk saling berkomunikasi. Seni juga memperkaya dan memberikan warna pada masyarakat global,” jelas Paula.
Paula sendiri pada pameran ini memamerkan lukisan berjudul “Merapi I dan II” yang menghadirkan jejak aliran lahar yang melewati tanah di sepanjang lereng gunung yang dapat menghanyutkan apapun. Bagi Paula, lukisan-lukisanya adalah penghilang rasa takutnya terhadap suara letusan dan mengingatkan kita pada kesuburan dan kehiduan baru setelah letusan besar.
Masahide Kudo memamerkan lukisan “Merapi” yang mewakili kepekaan dirinya terhadap atmosfir sebuah pengalaman tak terduga. Rekan Kudo, Seiko Kajiura memamerkan karya instalasi yang kemudian di potret tentang pemandangan gunung dalam bentuk model dengan skala kecil.
Seiko seperti anak kecil saat harus menggali tanah dengan tangannya dan mengubahnya menjadi gunungan kecil. Ia meletakkan gunungan kecil itu diluar. Dihadirkan pula truk kecil pengangkut batu-batu kali simbol warga yang menjadikan lereng gunung sebagai tempat mencari nafkah. Sepertinya Seiko sedang memberi penghormatan terhadap Merapi sekaligus menghadirkan kerendahan hati.
Sementara Dodog Susenio sendiri menghadirkan lukisan abstrak berjudul “Flower” dengan dominasi akrilik coklat. Ia menghadirkan bunga didepan kekuatan lahar magma. Dodog ingin menyampaikan pesan bahwa bunga itu cantik tapi rapuh.
“Bunga itu cantik tapi rapuh. Mudah sekali rusak. Di belakangnya ada kekuatan lahar magma. Sesuatu yang keras dan sesuatu yang empuk,” ujar Dodog tentang karyanya itu.
“Yang saya kerjakan berisi bunga karena saya sering melihat bunga. Orang lain bilang kalau seorang laki-laki mulai membuat bunga berarti sedang terjadi sesuatu pada dirinya ha ha ha,” kata Dodog.
Bukankah kita benar-benar menari diatas gunung berapi yang akan meletus setiap saat. Demikian parafrase salah satu novel paling terkenal dalam dunia sastra “Di Bawah Gunung Merapi” karya Malcolm Lowry 100 tahun lalu. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : HEADLINE, pameran | 808 views
Tags : art under volcano, Kartika Affandi, world art delf symposium











thank you for this.
greetings and regards,
bart Lentze