FKY Hadir Kembali Ditengah Anggapan Miring Banyak Khalayak

June 5th, 2010 | 18:27

Salah satu tarian pembuka Festival Kesenian Yogyakarta 2009 lalu. (Foto diambil dari

Salah satu kreasi tari yang menjadi pembuka Festival Kesenian Yogyakarta 2009. (Foto diambil dari suarajogja.net)

Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang ke 22 segera kembali digelar tahun 2010 ini. FKY tahun 2010 ini akan diikuti 3000 ribu seniman yang ada di DIY. Beteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta akan menjadi dua tempat pelaksanaaan FKY yang akan berlangsung 7 Juni hingga 7 Juli 2010 mendatang.

Ketua Panitia FKY, Karsidi Hadi Prayitno mengatakan, tema FKY tahun 2010 ini adalah Golong Gilig Memayu Hayuning Bawana. Yogyakarta Memang Istimewa. Golong Gilig artinya persatuan dan kesatuan warga Yogyakarta. Memayu Hayuning Bawana berarti membangun kesejahteraan warga.

“Yogyakarta Memang Istimewa berarti mewadahi kodrat sekaligus mempertanyakan keberadaan Yogyakarta sebagai daerah istimewa,” kata Karsidi di Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Jum’at (4/6).

Berbagai acara kesenian dan kebudayan akan ditampilkan selama satu bulan pelaksanaan FKY. Acara-acara tersebut antara lain pawai seni, pasar seni dan pameran seni rupa. Sebanyak 10 Provinsi akan mengikuti pawai seni sebagai acara pertama FKY tahun 2010.Rute pawai seni akan dimulai dari Alun-Alun Utara dan selesai di Pakualaman.

Timbul Raharja, Koordinator Publikasi dan Dokumentasi Pasar Seni dan Pameran Seni Rupa FKY menjelaskan promosi kegiatan FKY antara lain dilakukan dengan menggunakan seniman pantomim Jemek Supardi pada baliho dan pamplet kegiatan FKY.

“Jemek Supardi adalah seniman yang mempunyai kredibilitas dalam menjalani seni pantomim yang selama ini ia geluti. Ke depan ini akan menjadi pola publikasi FKY yang bisa terus dipertahankan,” kata Timbul.

Pelaksanaan pasar seni FKY akan diselenggarakan di Beteng Vredeburg pada 27 Juni hingga 7 Juli. Menurut Timbul Raharjo, saat ini stand yang disewakan untuk mengisi pasar seni FKY sudah terjual hingga 95 persen. Pasar seni FKYnanti akan memamerkan berbagai macam  kerajinan yang diproduksi di Yogyakarta.

Sebanyak 40 komunitas seniman di Yogyakarta akan mengkuti pameran seni rupa. FKY. Menurut Koordinator pameran seni rupa FKY, Nizam, Komunitas-komunitas ini telah dipilih dari 86 komunitas seni rupa yang ada di Yogyakarta.

Beberapa diantaranya adalah Sanggar Bambu, Young Bantul Artist, Joint Community, Kelompok Wedangan, Lampu Kuning, Kelompok Setengah Jam..”Kelompok Setengah Jam ini unik karena mereka mempunyai ciri  khas menyelesaikan karya harus setengah jam,” kata Nizam.

Kelompok-kelompok ini saling mempengaruhi perkembangan kesenian satu sama lain. Jadi siapa mempengaruh siapa tidak jelas lagi misalnya keberadaan sebuah kelompok fotografi yang mampu memberi sentuhan seni terhadap karya kelompok lain.

Jumlah kelompok seni yang akan ikut serta dalam pameran seni ini memiliki anggota yang berbeda-beda. Ada yang hanya empat, sepuluh hingga 40 orang. Proses kurasi karya, menurut Nizam, diserahkan sepenuhnya kepada kelompok seniman masing-masing.

“Mereka bebas men-display, promosi karya masing-masing. Boleh dibilang ini akan menjadi kegiatan dengan langgam Jogja yang kental,” ujar Nizam.

Hajatan kesenian tahunan yang dimiliki DIY ini menghabiskan dana APDB Provinsi DIY sebesar Rp 500 juta. Karsidi mengungkapkan, untuk memperoleh dana tersebut, pihaknya harus berjuang dengan alot dan berdebat panjang dan alot dengan DPRD Provinsi.

“Agak memaksa dan (situasi ini) jauh berbeda dengan daerah lain,Bali misalnya dengan PKB-nya,” kata Karsidi.

Mengenai adanya tanggapan miring beberapa pihak tentang tidak adanya perkembangan dalam kegiatan FKY, Karsidi menguraikan beberapa hal yang terjadi di sekitar pelaksanaan FKY selama ini yang telah berjalan hingga tahun ke 22.

Menurut Karsidi, FKY pernah di coba untuk menampilkan seni yang modern. Namun hasilnya juga tidak semarak. Kemudian juga ada persoalan pada seniman yang ikut FKY ketika mereka harus mengurusi pajak.

Pengurusan pajak yang memakan banyak waktu dan administrasi membuat seniman jadi pusing. “Ngurus pajak,ngurus SPJ-nya ini masalah bagi dalang karena mereka biasa mengurusi teknis kesenian mereka lalu harus ngurus pajak akhirnya jadi susah sendiri,” kata Karsidi.

Eksistensi FKY juga harus berhadapan dengan masalah kebijakan pendanaan. Karsidi bercerita, FKY waktu itu mendapat subsidi dari Gubernur namun sejak dua tahun lalu semua program yang berkaitan program kemasyarakatan tidak bisa berdiri sendiri tapi harus melekat dengan SKPD yang ada.

Sehingga FKY harus berhadapan dengan persoalan waktu penggarapan kegiatan yang harus disesuaikan dengan waktu anggaran di kedinasan (Dinas Kebudayaan Provinsi DIY) sehingga yang terjadi, muatan,substansi FKY harus dibuat secepatnya.

“Lalu copy paste saja. Ini masalah krusial,” ucap Karsidi seraya menjelaskan jika melekat ke institusi semua yang mengurusi adalah orang-orang yang berada di institusi tersebut.

“Kalau nyari iklan hanya dapat cibiran saja. ‘O itu event FKY to?’,” kata Karsidi. (The Real Jogja/joe)


Share on Facebook

Category : AGENDA, HEADLINE | 1,097 views
Tags :

One Response to “FKY Hadir Kembali Ditengah Anggapan Miring Banyak Khalayak”

  1. afif says:

    bukannya pasar seninya mulai tanggal 7 juni sampai 7 juli yah? di artikel ini tertulis tanggal 27 juni sampai 7 juli, mohon konfirmasi, yang bener yang mana?

Leave a Reply