
NH Dini saat membacakan puisinya pada acara Musim Semi Penyair Ke-12 Hari Wanita Internasional di Karta Pustaka, Sabtu (6/3).
Kurang mempunyai ruh cerita dan dangkal. Itulah penilaian sastrawan senior Nurhayati Sri Hardini atau lebih dikenal dengan NH Dini terhadap perkembangan karya sastra Indonesia saat ini. Para pengarang sekarang hanya melihat ruang lingkup terbatas dari apa yang mereka tulis karena mereka belum melakoni semua yang mereka tulis
“Mereka belum mampu melihat kekayaan apa yang hendak disampaikan dalam tulisannya. Mereka hanya memaparkan fisiknya saja, namun kedalamannya tidak ada,” kata NH Dini usai membacakan puisi karyanya pada acara Musim Semi Penyair ke-12 Hari Wanita Internasional di Karta Pustaka, Minggu (7/3).
Menurut wanita yang telah menciptakan puluhan novel tersebut, pengarang muda sekarang ini hanya ingin bicara sendiri untuk memuaskan diri sendiri. Sehingga yang terjadi deskripsi cerita tidak dalam sehingga hanya dipermukaan saja
“Pengarang hanya bisa membaca tidak melihat begitu saja, mendengar juga tidak, karena mereka hanya ingin bicara sendiri,” kata wanita kelahiran Semarang ini.
Kedangkalan ini, menurut NH Dini disebabkan pengarang-pengarang muda tidak mau keluar melihat realitas yang terjadi. Sebenarnya mereka bisa menggunakan kebebasan dalam semua hal yang ditemukan dalam kehidupan agar pembaca mampu mengagumi tulisan yang diolah.
“Pengarang yang mempunyai ruh dalam setiap tulisannya karena ia bisa melihat dan mendengar suara hati mereka,”jelasnya.
Mengenai pendapat banyak kalangan yang memandang dirinya adalah sastrawan feminisme, NH Dini mengatakan sastra feminis bukan masalah seksualitas dan perbedaan gender saja. Yang harus ditekankan adalah menghargai spesifikasi perempuan dalam berkarya sama halnya dengan laki-laki agar memperoleh keadilan.
Dalam memahami persoalan feminisme ini, wanita berumur 73 tahun ini menampilkan ketidakadilan tersebut memang terjadi ada. Ia juga gigih berjuang mengajak masyarakat atau pembaca karyanya berpikir apakah semua ketidakadilan yang telah diungkapkannya itu sepatutnya ada dan layak berlangsung di negeri ini bahkan di dunia ini
“Saya selalu berusaha agar pembaca, khususnya laki-laki dapat mengenal dan mencoba mengerti pikiran dan pendapatnya sebagai wakil perempuan pada umumnya,” ujarnya.
Dini telah memulainya dengan berani menunjukkan reaksi keras atas perlakuan yang tidak sewenang-wenang terhadap wanita. Reaksi keras tersebut sebenarnya juga merupakan inspirasi bagi perempuan lain, baik untuk menghindari perangkap penderitaan maupun berjuang keluar dari penderitaan yang kini dialami.
“Saya selalu berusaha agar pembaca, khususnya laki-laki dapat mengenal dan mencoba mengerti pikiran dan pendapatnya sebagai wakil perempuan pada umumnya,” ujarnya. (The Real Jogja/joe)









