art

Pameran Seni Rupa “Konspirasi On”, Terinspirasi Konspirasi Jahat Dunia Seni Rupa Kontemporer

Dimuat Redaktur Mar 6th, 2010 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, PAMERAN DAN FESTIVAL, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Seorang pengunjung sedang menikmati lukisan drawing dari Hafez Achda berjudul "Musing Enigmatic". Sementara disisi kirinya adalah lukisan berjudul "Selezat Coklat" karya Parjiyanto

Seorang pengunjung sedang menikmati lukisan drawing dari Hafez Achda berjudul "Musing Enigmatic". Sementara disisi kirinya adalah lukisan berjudul "Selezat Coklat" karya Parjiyanto

Sebuah tajuk pameran “Konspirasi-On” dihadirkan delapan seniman muda Yogyakarta dalam pameran bersama mereka di Bentara Buadaya Yogyakarta (BBY) dari 2-10 Maret 2010 mendatang. Mereka menghadirkan 20 karya lukis dan 4 karya instalasi.

Delapan perupa tersebut adalah Hafez Achda, Parjiyanto, Putra Eko Prasetyo, Sri Pramono, Sumarno, Suparman, Teguh Margono dan Unggul Pamungkas

Kurator pameran, Heri Kris mengatakan tajuk “Konspirasi On” ini terinspirasi oleh adanya konspirasi yang mewujud dalam kelompok-kelompok perupa maupun partai politik yang menjadi paradigma baru dalam dunia seni rupa dan dunia politik saat ini.

Karya instalasi berseries diciptakan Suparman dalam pameran "konspirasi-on" kali ini. Diantaranya adalah kunci berwarna merah dan cukup besar yang diberi judul "Back To My Self".

Karya instalasi berseries diciptakan Suparman dalam pameran "konspirasi-on" kali ini. Diantaranya adalah kunci berwarna merah dan cukup besar yang diberi judul "Back To My Self".

“Konspirasi telah menjadi paradigma baru dalam dunia seni rupa kita. Epidemi seni lukis Cina dalam satu dekade terakhir telah membuat mazhab baru yang terus diikuti generasi muda dan menjadikannya sebagai karakter baru pada karya-karya mereka sehingga mereka kehilangan karakter individu,” jelas Heri Kris.

Heri Kris menerangkan delapan perupa muda ini sesungguhnya tidak sedang melakukan konspirasi tetapi bersama-sama melakukan respon kreatif atas kejadian-kejadian konspirasi yang sedang terjadi di negeri. “Apapun bentuknya konspirasi tetaplah berdampak buruk bagi kehidupan manusia,” kata Heri Kris.

Hermanu, dari Bentara Budaya Yogakarta mengatakan delapan perupa muda dari ISI dan UNY ini menghadirkan karya dengan masing-masing kreatifitas, tema, aliran lukisan yang berbeda. Karya-karya yang dipamerkan perupa-perupa muda ini sebagaian besar bernuansa realis walaupun disampaikan dalam gaya surealis, kontemporer urban dan abstrak.

Lukisan berjudul "Taft" yang menampilkan salah satu tokoh Ponokawan Petruk karya Suparman.

Lukisan berjudul "Taft" yang menampilkan salah satu tokoh Ponokawan Petruk karya Suparman.

Tema-tema yang disuguhkannya pun beragam. Ada persoalan lingkungan, humanisme, atau kerakyatan. Namun basic realisnya begitu tampak,” kata Direktur Operasional Bentara Budaya Yogyakarta ini.

Sumartono misalnya menghadirkan karya realis yang figuratif dalam judul “Taft”. Lukisan ini menghadirkan sosok Ponokawan, Petruk, yang menyuarakan perjuangan rakyat bawah dalam dunia wayang. Petruk digambarkan bisa melompat lebih tinggi dibandingkan sosok lain.

Kawan Sumartono, Suparman, menghadirkan instalasi berupa kunci berukuran cukup besar berwarna merah dari resin. Seniman asi Yogyakarta ini menghadirkan tiga kunci dengan bentuk yang berbeda, ada yang bengkok ada pula bengkok pada salah satu ujung kunci itu.

Teguh Margono memamerkan lukisan abstraksi dan realis sekaligus dalam judul "Gone With The Wind"

Teguh Margono memamerkan lukisan abstraksi dan realis sekaligus dalam judul "Gone With The Wind"

Kunci-Kunci ini menurut Heri Kris adalah representasi sikap menutup diri dari Suparman terhadap realitas seni rupa kontemporer saat ini. “Pemikiran tentang diri sendiri yang tertutup (introvert) terkadang menjadi senjata ampuh dalam mencari ide yang original,” ujar Heri Kris.

Sementara itu Teguh Margono menghadirkan lukisan abtraksi dan realistik sekaligus dalan lukisan berjudul “Gone With The Wind” . Dalam karya yang terpasang dalam 20 panel berukuran 30×30 cm ini, seniman asli Sleman ini menghadirkan sketsa-sketsa dengan kekuatan komposisi, figur, warna yang cukup besar dalam bentuk sosok perempuan yang rambut dan pakaiannya tersapu angin.

Seniman Kulonprogo, Sri Pramono, menghadirkan dua karya abstrak yang begitu berbeda dibandingkan kawan-kawannya. Karya “Ayat-Ayat Pamuji “ serta “Cokromanggilingan” dihadirkan Sri Pramono menampilkan irama garis, blok dan goresan dari sapuan kuas besar dan kecil membentuk bidang imajiner yang mengangkat alam bawah sadar yang mengalir spontan dan intuitif.

Seorang pengunjung sedang melihat salah satu karya Sri Pramono berjudul "Cokro Manggilingan", disebelah kananya adalah lukisan Teguh Margono berjudul "The Story About The Legs"

Seorang pengunjung sedang melihat salah satu karya Sri Pramono berjudul "Cokro Manggilingan", disebelah kananya adalah lukisan Teguh Margono berjudul "The Story About The Legs"

Seniman Bantul, Parjiyanto memamerkan beberapa karya realis tentang realitas kehidupan masa kini. Misalnya saja dalam lukisan “Selezat Cokelat” yang menghadirkan sosok wanita sedang memakan kue berbentuk televisi.

Parjiyanto seperti hendak menampilkan pesan tentang betapa menariknya apa-apa yang ditampilkan oleh televisi yang seringnya menampilkan wanita-wanita cantik secara fisik saja untuk dijadikan bahan tayangan.

Karya realis juga dihadirkan Unggul Pamungkas dalam dua buah karya wajah bayi yang tertawa dan bersungut-sungut. Sementara Hafez Achda menghadirkan dua lukisan yang berasal dari drawing pen diatas kertas dengan memadukan gaya realis serta grafiti. Hafez menghadirkan abstraksi yang menjadi background dari obyek utama yang menjadi pokok persoalan.

Lukisan Unggul Pamungkas berjudul "He... He...."

Lukisan Unggul Pamungkas berjudul "He... He...."

“Karya-karya Hafez Achda cenderung pop dengan karya-karya unik dan pewarnaannya yang hitam putih,” kata Hermanu.

Karya-karya tentang pemikiran simbolik dituangkan Putra Eko Prasetyo. Pengunjung pameran bisa melihat karya-karya simbolik itu dalam judul lukisan “Tentang Konstruksi Berasap” atau lukisan berjudul “Serial Rumah”.

Delapan perupa ini menghadirkan dua persoalan sekaligus dengan tema yang mereka usung ini. Apakah tema konspirasi ini masuk menjadi inspirasi atau sebuah penyikapan. Melihat karya-karya mereka, seperti kata Hermanu, sudah ada usaha keras untuk membuat konspirasi antara karya satu dengan karya lain yang walaupun berbeda secara teknis maupun bentuk karyanya untuk ditampilkan secantik mungkin. (The Real Jogja/joe)

Lukisan simbolik karya Putra Eko Prasetyo berjudul "Serial Rumah 1".

Lukisan simbolik karya Putra Eko Prasetyo berjudul "Serial Rumah 1".

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau