art

Performing Art “Ruwatan Bola Sampah”, Refleksi Mengingatkan Besarnya Persoalan Sampah

Dimuat Redaktur Mar 4th, 2010 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, PAMERAN DAN FESTIVAL, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Para seniman menggelindingkan bola sampah dalam "Ruwatan Bola Sampah" di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) sampah Piyungan, Minggu (28/2) sebagai representasi persoalan sampah yang dari hari ke hari semakin besar.

Para seniman menggelindingkan bola sampah dalam "Ruwatan Bola Sampah" di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) sampah Piyungan, Minggu (28/2) sebagai representasi persoalan sampah yang dari hari ke hari semakin besar.

Selain peragaan busana dari bahan sampah, dalam Grebeg Sampah 2010 di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Piyungan Bantul, Minggu (28/2) lalu, juga dilakukan performing art “Ruwatan Bola Sampah”.

“Ruwatan Bola Sampah” ini dilakukan puluhan seniman dari Komunitas Ombak Raya, Bordes Progo, Kampung Budaya Taman Sari, Kampung Budaya Taunan, Performance Club, Sanggar Nuun dan seniman-seniman independen.

Koordinator performing art “Ruwatan Bola Sampah” Tri Suharyanto menerangkan sebagai sebuah refleksi, istilah “sampah “masyarakat” selalu menampilkan nilai diskriminatif diantara sesama manusia. Orang-orang yang disebut sampah masyarakat selalu dikucilkan, dijauhi bahkan dihukum.

Seorang seniman tertawa terbahak melihat kawanan pemulung yang tidak kuat mengangkat bola sampah. Adegan ini memperlihatkan perilaku manusia yang tak sadar telah menjadi pangkal persoalan sampah.

Seorang seniman tertawa terbahak melihat kawanan pemulung yang tidak kuat mengangkat bola sampah. Adegan ini memperlihatkan perilaku manusia yang tak sadar telah menjadi pangkal persoalan sampah.

“Masyarakat seharusnya menciptakan pemaknaan lain bahwa sampah masyarakat adalah sampah yang diproduksi masyarakat, atau bahkan melakukan bongkar-balik kata menjadi “masyarakat sampah” sebagai respon kita sebagai masyarakat yang lagi-lagi belum tersadarkan secara penuh atas problematika sampah,” jelas Tri.

Ruwatan dalam mitologi Jawa adalah sebuah ritual penyelarasan, penyelamatan dan perlindungan dari kesialan. Bagi seniman di Yogyakarta,  sampah sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pun perlu untuk dirawat.

“Ruwatan Bola Sampah” ini memakai simbol instalasi bola sampah yang terbuat dari sampah-sampah plastik, kain dan yang lainnya sebagai properti utama yang mewakili peliknya persoalan tentang sampah.

Beberapa seniman memainkan peran resi dan murid-muridnya dalam  performing art "Ruwatan Bola Sampah"

Beberapa seniman memainkan peran resi dan murid-muridnya dalam performing art "Ruwatan Bola Sampah"

Oleh belasan seniman, bola itu digelindingkan dari pintu masuk TPA sampah Piyungan menuju tempat acara grebeg sampah yang berjarak 200 meteran.ke sisi timur. Bola sampah yang digelindingkan ini adalah pengibaratan dari persoalan sampah yang setiap hari semakin menjadi persoalan besar.

Seniman-seniman yang membuat bola sampah ini menggelinding adalah representasi dari bagian masyarakat kita seperti petani, pegawai negeri, tokoh agama, militer, eksekutif kantoran serta pemulung sekaligus sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam persoalan sampah.

Bersamaan dengan digelindingkannya  bola sampah ini, dua buldozer mengikuti dari samping dan belakang bola sampah tersebut. “Buldoser ini adalah keterwakilan peran teknologi dalam mengurai permasalahan sampah,” kata Tri Suharyanto.

Resi dan muridnya mendatangi kawanan manusia yang sedang ramai-ramai bola sampah yang menjadi persoalan manusia.

Resi dan muridnya mendatangi kawanan manusia yang sedang ramai-ramai bola sampah yang menjadi persoalan manusia.

Setelah dekat dengan tempat grebeg sampah dilakukan, bola sampah selesai digelindingkan. Kemudian beberapa pemulung sampah mencoba mengangkat bola sampah tersebut namun selalu gagal.

Setiap kali pemulung sampah gagal mengangkat bola sampah itu, seniman yang berperan sebagai manusia penghasil sampah malah tertawa mengejek para pemulung. “Ayo angkat terus kalau kuat. Angkat terus saja,” teriak seniman yang memainkan karakter eksekutif kantoran seraya tertawa dengan pongahnya.

Dari arah belakang adegan ruwatan bola sampah tersebut berjalan seorang resi bersama murid-muridnya menuju arah selatan. Sang resi membawa kemenyan yang selalu mengeluarkan asap putih. Sementara di sisi kanan dan kiri serta dibelakang sang resi murid-muridnya yang menyapu jalan dan menyebarkan bunga setaman. Sesaat sang resi berhenti untuk berdoa memanjatkan mantra-mantra. Lalu kembali berjalan ke arah selatan lalu berbelok ke tempat grebeg sampah diikuti murid-muridnya.

Sang Resi mencoba menenangkan manusia-manusia yang sedang bermasalah dengan "bola sampah"

Sang Resi mencoba menenangkan manusia-manusia yang sedang bermasalah dengan "bola sampah"

Di lokasi grebeg sampah inilah, sang resi kemudian memberi penyadaran kepada setiap karakter manusia yang terus saja menertawakan dan memainkan para pemulung sampah. Digambarkan terjadi perlawanan oleh karakter-karakter manusia kepada sang resi saat sang resi ingin menyadarkan perbuatan-perbuatan jahat dari karakter-karakter manusia yang jahat itu.

Puncak dari rangkaian adegan performing art “Ruwatan Bola Sampah ini adalah ketika sang resi berhasil menyadarkan setiap karakter manusia untuk bergandeng bersama mengangkat bola sampah dan menancapkannya di tanah untuk dijadikan prasasti simbol penyelesaian permasalahan sampah. (The Real Jogja/joe)

“Bola sampah ini menjadi titik balik keterwakilan setiap bagian-bagian masyarakat kita seperti petani, pegawai negeri, tokoh agama, militer, eksekutif kantoran hingga pemulung,niman ini menghadirkan bola

1 Tanggapan untuk “Performing Art “Ruwatan Bola Sampah”, Refleksi Mengingatkan Besarnya Persoalan Sampah”

  1. titi pratistiyani mengatakan:

    Sampah memang masalah yang sangat pelik. Bravo buat Mas Tri dan rekan-rekannya….semoga tak lelah selalu memberi penyadaran dan pencerahan kepada kita semua…….

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau