Ritual Prosesi Jejak Boto, Bermakna hijrah masyarakat untuk memperbaiki keadaan

February 26th, 2010 | 00:29

Sri Sultan Hamengku Buwono X tampak mengangkat kaki untuk menendang (njejak) batu bata (boto) yang dipasang di pintu masuk sisi selatan Masjid Gede Kauman sebagai ritual njejak boto yang pernah dilakukan HB I.

Sri Sultan Hamengku Buwono X tampak mengangkat kaki untuk menendang (njejak) batu bata (boto) yang dipasang di pintu masuk sisi selatan Masjid Gede Kauman sebagai ritual njejak boto yang pernah dilakukan HB I.

Perayaan sekaten tahun ini berlangsung berbeda dengan perayaan Sekaten tahun-tahun sebelumnya. Sekaten yang tahun ini bertepatan dengan tahun Dzal 1943 ( tahun perayaan sekaten yang muncul 8 tahun sekali) akan dilaksanakan prosesi jejak boto yang akan dilakukan di Masjid Gede Kauman.

Menurut GBPH Yudhaningrat, sejarah munculnya ritual prosesi jejak boto ini terjadi sekitar tahun 1758 pada masa Kraton Yogyakarta diperintah Sri Sultan Hamengku Buwono I. Ketika itu Sri Sultan Hamengku Buwono I yang sedang berada di Masjid Gede Kauman sedang merayakan Sekaten diberitahu gandhegnya (petugas mata-mata kerajaan) bahwa Pangeran Samber nyawa akan


Share on Facebook

Category : HEADLINE, KISAH | 667 views
Tags :

Leave a Reply