
Seorang pengunjung melewati Kereta Kencana Kyai Garuda Yaksa yang diatasnya terdapat emas murni 18 karat.
Begitu banyak rangkaian kegiatan kesenian dan kebudayaan yang menyertai pelaksanaan perayaan Sekaten Tahun Dzal 1943 saat ini. Salah satunya adalah digelarnya pameran kekayaan sejarah yang dimiliki Kraton Yogyakarta. Kekayaan milik Kraton yang dipamerkan ini sudah ada sejak jaman Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Dengan hanya membayar Rp3000,00 pengunjung dapat memasuki Pagelaran serta Siti Hinggil Kraton Yogyakarta dari 16-26 Februari untuk menyaksikan ribuan koleksi benda-benda bersejarah kekayaan Kraton Yogyakarta.
Pameran ini menampilkan ratusan bahkan ribuan koleksi kekayaan Kraton Yogyakarta. Koleksi kekayaan Kraton Yogyakarta yang dipamerkan di Pagelaran Kraton antara lain lima koleksi kereta pusaka keraton, dua mobil dinas kepresidenan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, foto-foto kereta kraton, boneka prajurit kraton dan Jempono.

Dua mobil dinas milik Sri Sultan Hamengku Buwono IX saat menjadi Wakil Presiden RI dan Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan Industri berupa mobil Cadilac dan Ford buatan tahun 1964.
Sementara yang ada di Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, pengunjung dapat melihat aneka jenis kekayaan Kraton Yogyakarta yang dipamerkan disisi kanan dan kiri Siti Hinggil seperti gamelan pusaka, keris, wayang, topeng, pohon silsilah, alat adu jangkrik, fotografi pelantikan jumenengan dan masih banyak yang lain.
Abdi Dalem Staf Tepas Keprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadingrat, Riyo Yoso Kanowo menjelaskan pameran ini adalah kegiatan rutin yang menjadi bagian rangkaian perayaan Sekaten dan akan dilaksanakan hingga penutupan Sekaten. Pada saat penutupan nanti akan digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
Kereta pusaka Kraton Yogyakarta yang bisa dinikmati pengunjung antara lain Kereta Kencana Kyai Garudayaksa atau kereta kencana, Kyai Winomoputro, Kyai Mondo Juwolo, Kyai Manikretno dan Kyai Jatayu.
“Selain itu juga dipamerkan dua mobil dinas Sultan HB IX ketika menjabat sebagai Wakil Presiden RI berupa Cadilac tahun 1964 dan saat menjabat sebagai Menko Ekuin berupa mobil Ford tahun 1964,” ujar Riyo Yoso Kanowo.
Menurut Riyo Yoso Kanowo, Kereta Kyai Garudayaksa atau disebut juga Kereta Kencana Kraton Yogyakarta ditarik oleh delapan kuda. Kereta pusaka ini dibuat Hermans&co di Den Haag, Belanda, tahun 1867-1869. Kereta Kyai Garudayaksa ini digunakan pada saat penobatan HB VIII, HB IX, dan HB X.
Sementara itu kereta Kyai Winomoputro yang ditarik oleh 6 ekor kuda dipergunakan untuk kendaraan dinas putra mahkota juga dibuat Hermans&co tahun 1950-1960 dan dipergunakan sejak pemerintahan HB VI.
Kemudian ada pula kereta pusaka yang dibuat pada tahun 1810-1830 yaitu kereta pusaka Kyai Mondro Juwolo. Kereta ini berbentuk “kupe” yang memiliki ikatan-ikatan rim yang berarti sinar cemerlang.
Kereta Kyai Mondro Juwolo ini digunakan sebagai kendaraan dinas Pangeran Diponegoro sewaktu menjadi Wali pemerintah HB V. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII juga merancang sendiri kereta pusaka Kyai Jatayu yang ditarik empat ekor kuda tanpa kusir. Kereta Kyai Jatayu ini digunakan untuk gladi bersih prajurit serta untuk kendaraan guna menyaksikan pacuan kuda.
Kereta yang lain adalah kereta Kyai Manikretno yang berarti permata manis buatan Hermans&co Den Haag pada tahun 1815. Dengan menggunakan dua kuda, pada masa pemerintahan HB VI dan V kereta ini digunakan untuk pesiar dan mengelilingi benteng keraton.
“Pengunjung juga disuguhi pameran pusaka keraton pada masa penjajahan Belanda, seperti senapan laras panjang, aneka keris, pedang dan lain-lain, “ kata Riyo Yoso Kanowo seraya menjelaskan pengunjung tidak perlua khawatir jika membutuhkan informasi mengenai apa saja yang dipamerkan karena telah ditugaskan abdi dalem KHP Puraraksa sebanyak 11 orang untuk membantu dan mengawasi.
Badan Perpustakaan Arsip Daerah Yogyakarta juga memamerkan kekayaan sejarah DIY dengan menampilkan aneka foto serta arsip tata pemerintahan sejak zaman penjajahan Belanda misalnya saja foto yang menunjukkan proses pembangunan Jembatan Srandakan tahun 1896.
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Yogyakarta juga menggelar aneka produk kerajinan tradisional di Siti Hinggil yang terbuat dari tanduk kerbau, tembaga, perak, warangka keris dan tenun gendong.. (The Real Jogja/joe)









