art

Treeda Mayrianti akan hadirkan “Strangers on My Pillows” di Sangkring Art Space

Dimuat Redaktur Feb 9th, 2010 dalam Kategori FEATURES, INFOTAINMENT, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Treeda Mayrianti menerangkan lukisan berjudul " Reformasi Lahir-Batin Bhineka Tunggal Ika" kepada wartawan saat  jumpa pers pameran tunggalnya di Sangkring Art Space, 10-22 February 2010 mendatang.

Treeda Mayrianti menerangkan lukisan berjudul " Reformasi Lahir-Batin Bhineka Tunggal Ika" kepada wartawan saat jumpa pers pameran tunggalnya di Sangkring Art Space, 10-22 February 2010 mendatang.

Museum Dan Tanah Liat bekerjasama dengan Sangkring Gallery Yogyakarta pada 10 Febuari besok akan menggelar Pameran Seni Lukis Tunggal “Treeda Mayrianti dengan judul “Strangers on my Pillow”

Sebanyak 12 karya lukis dalam kanvas serta 15 karya lukis dalam sketsa (kertas) yang dibuat dari tahun 1988 hingga 2006 ini akan dipamerkan oleh Treeda Mayrianti hingga

Beberapa pihak yang terlibat dalam pameran tunggal Treeda Mayrianti yang kali ke-empat ini antara lain kurator pameran, Ugo Untoro (Museum Dan Tanah Liat), Afrizal Malna (penulis pameran) serta Treeda Mayrianti sendiri hadir dalam jumpa pers dengan wartawan di Sangkring Gallery, Senin (8/2).

Ugo Untoro mengatakan lukisan-lukisan yang dipamerkan Treeda menampilkan kepiawaian Treeda dalam mengolah garis dan warna sehingga menampilkan karya yang sangat variatif. Treeda menurut Ugo menampilkan lukisan-lukisan yang mewakili tiga jaman dalam kehidupan dirinya.

“Saat dirinya berada di panggung, hidup sebagai keluarga dalam rumah tangga serta periode bermain dengan cahaya dan warna, sesuatu yang baru yang dialami Treeda,” kata Ugo.

Sementara menurut Afrizal Malna, Treeda Mayrianti adalah seniman  yang mempunyai cara berfikir sendiri yang berbeda dengan orang lain. Banyak faktor yang menjadikan Treeda menjadi seperti itu misalnya masa anak-anak dan dunia spiritual yang ia lalui.

“Inilah yang membuat “pintu-pintu” keluar penciptaan karya lukis Treeda. Ada sisi ambiguitas dari cara memandang sesuatu oleh Treeda,”kata Malna.

Seperti karya lukisan berjudul “Reformasi Lahir-Batin Bhineka Tunggal Ika” yang menurut Malna, lukisan itu adalah produk dari satu cara pandang hidup yang tidak semestinya yang didiskripsikan lewat mata dan non mata.

“Karya ini menarik karena cara berbuat dengan dunia lain, Treeda menampilkan anak muda yang buta politik tapi tubuhnya dipenuhi atribut politik,” kata kritikus seni ini.

Selain “Reformasi Lahir- Batin Bhineka Tunggal Ika”, Istri dari seniman pantomim Jemek Supardi ini juga menampilkan manifestasi mengharu biru dari penolakannya terhadap pencampuran sifat-sifat kodrati. Perempuan adalah perempuan.Laki-laki adalah laki-laki.

Pemahaman tersebut muncul dalam beberapa lukisan seperti “Di bawah pohon yang tinggi-tinggi”, “Akar Sandaran Persahabatan”,”Di luar Mendung”, “Kalah oleh luka”, “Konslet cinta lokasi”, atau “Menepis ketakutan dan cemas”.

Pameran ini, akan menampilkan pula karya-karya Treeda Mayrianti saat berada di Rumah Sakit Jiwa Puri Nirmala karena depresi dan derita halusinasi yang membawanya pada ruang dimensi kemanusiaanya.

Lukisan-lukisan tersebut ada dalam judul “Kulukis Sebelum Dimasukkan RSJ Purinirmala (1999)”,” Kulukis Setelah Dimasukkan RSJ Purinirmala, 1999″ dan “Kulukis Sepulang dari RSJ Magelang”.

Pameran ini memang cukup menarik dan patut dikunjungi. “Pameran tunggal Treeda ini akan menampakkan panorama atas semua yang terjadi pada Treeda dengan begitu jujurnya,” kata Suwarno Wisetrotomo, penulis pameran ini. (The Real Jogja/joe)

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau