art

Pameran Seni Rupa “Budaya Keadilan’, Untaian kreativitas individu dan jejaring spirit kebersamaan

Dimuat Redaktur Feb 8th, 2010 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, PAMERAN DAN FESTIVAL, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Muji Chino berfoto bersama salah satu lukisannya berjudul " Yang Terpinggirkan"

Muji Chino berfoto bersama salah satu lukisannya berjudul " Yang Terpinggirkan"

Kalau keadilan menjadi salah satu kata sakti di saat negara sedang carut marut seperti sekarang, maka Pameran Seni Rupa “Budaya Keadilan” yang dilakukan kelompok Lawe di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta dari 3-9 Februari mendatang adalah upaya “berdialog” kepada publik bahwa keadilan adalah sesuatu yang dibutuhkan saat ini dan bukannya malah disingkirkan jauh-jauh.

Karya lukis dari Komunitas Lawe yang terdiri dari Pepenk P, Satya Budi Santosa, Ucet Paci Ono, Eko ‘Mascot’, Sindu ‘Cutter’, Wardi Bajang, Tukino B Sutedjo, Doddy T, dan Muji Chino menghadirkan sisi gelap, satir, semangat, penyadaran dalam konteks keadilan itu sendiri.

Meski harus diakui, lebih banyak sisi getir keadilan itu sendiri yang hadir dalam pameran ini. Hal itupun diakui Ucet, Koordinator Kelompok Lawe yang mengatakan keadilan di negeri berjalan amat memprihatinkan. 64 tahun tanah air ini merdeka namun tetap saja masyarakat harus menghadapi persoalan kesejahteraan.

Lukisan dengan konsep Euklidianisme karya Sindu Cuter berjudul "Blackgout"

Lukisan dengan konsep Euklidianisme karya Sindu Cuter berjudul "Blackgout"

“Keadilan saat ini tidak diadakan meski sebenarnya ada. Berbagai kasus di pengadilan yang berpihak pada yang kaya dan kuat sementara yang miskin, lemah kalah dan menderita meski mereka benar,” demikian Ucet.

Bagi Komunitas Lawe, keadilan adalah kata sederhana yang mudah diucapkan tapi begitu sulit ditegakkan. Pancasila sebagai dasar negara yang sempurna tapi kenyataannya ke lima sila ternyata sangat sukar. “Jika saja pemerintah bisa mengamalkannya, keadilan tak hanya akan menjadi sila yang sekedar untuk dihafalkan saja,” kata Ucet, Rabu (3/2) di TBY.

Dalam lukisan-lukisannya, Muji Chino menghadirkan gambaran-gambaran tentang pertarungan antara kebudayaan lokal dengan kebudayaan global yang sesungguhnya tidak berimbang. Namun begitu, walaupun kecil, karena itu milik bersama maka bagaimanapun harus tetap dipertahankan.

Pesan itu tergambar dalam lukisan “Yang Terpinggirkan” karya seniman asli Imogiri ini. Lukisan surealis yang menonjol unsur dekoratifnya ini menghadirkan dua sosok raksasa yang saling menjulurkan lidah ingin menelan sosok manusia yang sedang memainkan kendang.

Wardi "Bajang" berpose didepan salah satu karya lukis dari beberapa karya lukis yang dipamerkan.

Wardi "Bajang" berpose didepan salah satu karya lukis dari beberapa karya lukis yang dipamerkan.

Dalam konteks keadilan, budaya global yang cenderung negatif ini sudah masuk ke begitu banyak tempat hidup masyarakat sehingga budaya-budaya lokal menjadi terpinggirkan. Ketidakadilan muncul disana saat budaya seakan ingin mencaplok habis budaya-budaya lokal bangsa.

Sementara Wardi “Bajang” menghadirkan kearifan lokal yang sesungguhnya telah menjadi budaya nenek moyang bangsa ini. Toleransi. Tepo seliro. Tapi saat ini, budaya toleransi itu sudah dikalahkan oleh bahasa ‘sibuk’ masyarakat sehingga pelan-pelan menghilang.

Dalam lukisan berjudul “Di Bawah telapak Kaki” , Wardi menampilkan realitas buruk masyarakat saat ini. Masyarakat telah meletakkan toleransi, tepo seliro begitu rendah hingga dibawah kaki mereka.

“Coba lihat masyarakat kita saat dijalan raya. Ketika ada ambulans membawa orang mati, masyarakat susah untuk sekedar minggir. Tapi saat pejabat ingin lewat buru-buru jalan diamankan. Masyarakat lebih percaya pada budaya hukum bukan pada budaya hidup,” kata seniman muda Boyolali ini.

Lukisan "Dingin Dalam Merah Putih #2" karya Satya Budi Santoso yang bercerita tentang pengkristalan  Makrokosmos maupun Mikroskosmos dalam sebuah imajinasi bebas tanpa harus terikat aliran apapun.

Lukisan "Dingin Dalam Merah Putih #2" karya Satya Budi Santoso yang bercerita tentang pengkristalan Makrokosmos maupun Mikroskosmos dalam sebuah imajinasi bebas tanpa harus terikat aliran apapun.

Maka Wardi pun menyadarkan masyarakat dengan lukisannya iket yang terlepas berjudul “Buka Udeng Ben Mudeng” yang menampilkan pesan kepada masyarakat untuk saling terbuka dengan masing-masing. Tidak boleh ada pemenangan kepentingan sendiri atas kepentingan orang lain.

Pesan memberi semangat juga penyadaran muncul dalam karya-karya yang ditampilkan Sindo “Cutter” yang begitu apik dalam konsep karya Euklidianisme atau garis-garis sejajar, baik itu vertikal maupun horisontal yang dipertemukan menjadi suatu bidang geometri.

Dalam lukisan “Waiting For Blackgout” menampilkan sisi penyadaran terhadap kita sebagai bangsa Indonesia dengan tulisan “berjiwalah yang besar bangsaku tunjukkan dadamu” disamping konsep Euklianisme yang membentuk hewan kambing.

Dalam lukisan ini, Sindu ingin sekali memberi pesan siapapun kita, haruslah berani menanggung resiko terhadap apa yang kita lakukan. Jangan mencari kambing hitam atas kesalahan yang memang kita lakukan.

Lukisan karya Eko Purnomo berjudul " Bagi-Bagi Daging Babi" yang memberi pesan tentang keserakahan manusia yang akan menjadi sumber bencana bagi kemanusiaan.

Lukisan karya Eko Purnomo berjudul " Bagi-Bagi Daging Babi" yang memberi pesan tentang keserakahan manusia yang akan menjadi sumber bencana bagi kemanusiaan.

Selain Muji Chino, Wardi, Sindu Cutter, juga ada Tukirno B.S (Tedjo) yang menampilkan karya Pengadilan Terakhir” yang membawa pesan  tentang jagad raya yang merupakan kitab maha agung. Hanya manusia-manusia yang telah berserah diri saja yang mampu membacanya dan bercermin.

Sementara itu, Dody Triharyanto hadir dalam karya-karya abstrak yang menggambarkan old spirit yang dimiliki manusia pada jaman dulu. Di dalam lukisan “Mustika” ataupun Untitled” Dody menghadirkan old spirit yang lepas, tidak terikat, pembebasan atas kesadaran yang terbekukan.

Hening Swasono dalam catatan pamerannya menulis meminjam kata “Lawe” (untaian pintal bakal benang dari kapas), komunitas sanggar ini dengan segenap filosofinya, jopomontro dan obsesinya yaitu untaian potensi kreativitas individu yang digabung dalam jejaring spirit kebersamaan, adalah sarana ampuh dan dahsyat untuk digerakkan.

“Diketukkan salah satu jejaring potensi-potensi tersebut, semua ikut terguncang dan siap untuk diledakkan,” ujar Hening. (The Real Jogja/joe)

Lukisan "Berbagi Mainan" karya "Phepenk" Parjiman yang menampilkan kebebasan bermain dalam ruang imajinasi dengan panduan warna dan bentuk  yang sederhana namun kaya makna.

Lukisan "Berbagi Mainan" karya "Phepenk" Parjiman yang menampilkan kebebasan bermain dalam ruang imajinasi dengan panduan warna dan bentuk yang sederhana namun kaya makna.

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau